Selasa
12 Mei 2026 | 1 : 01

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Wayang, Semar, dan Senyum Pedagang Kecil di Malam HUT ke-53 PDI Perjuangan

pdip jatim 160201 wayang kulit

MADIUN — Sabtu (31/1/2026) malam di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, terasa berbeda. Denting gamelan dan bayangan wayang kulit mengalir pelan, menghadirkan lakon “Semar Bangun Kayangan” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan.

Di balik kelir dan alunan suara sinden, kebahagiaan sederhana juga tampak di luar arena. Deretan pedagang kaki lima memadati sekitar lokasi, melayani penonton yang datang dari berbagai desa.

Bagi mereka, pagelaran wayang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan berkah rezeki di malam akhir pekan.

Pagelaran wayang kulit ini dihadiri Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Ristu Nugroho, Bupati Madiun Hari Wuryanto, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Madiun, para kepala desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Ristu Nugroho menyampaikan, pagelaran wayang kulit ini hasil kolaborasi antara anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim dan DPR RI.

Pagelaran wayang sengaja dipilih karena mampu menyampaikan pesan kehidupan secara halus namun mendalam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai masih relevan dengan realitas sosial masyarakat hari ini.

“Wayang bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada pesan tentang gotong royong, kerukunan, dan bagaimana nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian,” ujar Ristu di sela acara.

Lakon Semar Bangun Kayangan yang dibawakan dalang Joko Klenteng asal Ngawi mengajarkan keteladanan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sosok Semar digambarkan sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan sering lahir dari kesahajaan, bukan dari kemewahan atau kekuasaan.

Menurut Ristu, pesan-pesan tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyinggung tantangan sosial di era media sosial yang kerap memicu perpecahan. Melalui medium budaya seperti wayang, masyarakat diajak kembali pada nilai saling menghormati, rukun, dan tolong-menolong.

“Wayang mengingatkan kita agar kemajuan teknologi tidak membuat hubungan sosial semakin renggang,” tuturnya.

Selain nilai budaya dan kebangsaan, kegiatan ini turut memberi dampak ekonomi. Keramaian penonton membawa rezeki bagi pedagang kecil di sekitar lokasi.

“Kami ingin kebahagiaan peringatan HUT ini bisa dirasakan bersama, termasuk oleh pedagang kecil,” pungkas Ristu. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Rijanto Minta OPD dan Camat Gercep Tindaklanjuti Evaluasi KPK

Rijanto meminta seluruh OPD dan camat di Blitar bergerak cepat menindaklanjuti hasil evaluasi tata kelola ...
KRONIK

Arjuna Pastikan Layanan Medis dan Pendampingan Psikis Korban Keracunan Berjalan Maksimal

SURABAYA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya, Arjuna Rizky Dwi Krisnayana, menyatakan keprihatinan ...
KRONIK

Novita Hardini Dorong Anak Muda Trenggalek Berprestasi Lewat Turnamen Futsal

Novita Hardini menggelar UPRINTIS Futsal League 2026 di Trenggalek untuk mendorong generasi muda berprestasi lewat ...
KRONIK

Bupati Ipuk Sambut Kedatangan Para Biksu Thudong di Banyuwangi

BANYUWANGI – Para biksu Thudong tiba di kelenteng atau Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian, Rogojampi, ...
EKSEKUTIF

Armuji Minta Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis di Surabaya

SURABAYA — Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Asem Jaya yang menaungi ...
KABAR CABANG

Bantu Peternak Terhimpit Harga, DPC Magetan Borong dan Bagikan Setengah Ton Telur

MAGETAN – Jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan melakukan aksi borong telur langsung dari peternak ...