Senin
29 Juni 2026 | 5 : 07

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Wayang, Semar, dan Senyum Pedagang Kecil di Malam HUT ke-53 PDI Perjuangan

pdip jatim 160201 wayang kulit

MADIUN — Sabtu (31/1/2026) malam di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, terasa berbeda. Denting gamelan dan bayangan wayang kulit mengalir pelan, menghadirkan lakon “Semar Bangun Kayangan” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan.

Di balik kelir dan alunan suara sinden, kebahagiaan sederhana juga tampak di luar arena. Deretan pedagang kaki lima memadati sekitar lokasi, melayani penonton yang datang dari berbagai desa.

Bagi mereka, pagelaran wayang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan berkah rezeki di malam akhir pekan.

Pagelaran wayang kulit ini dihadiri Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Ristu Nugroho, Bupati Madiun Hari Wuryanto, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Madiun, para kepala desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Ristu Nugroho menyampaikan, pagelaran wayang kulit ini hasil kolaborasi antara anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim dan DPR RI.

Pagelaran wayang sengaja dipilih karena mampu menyampaikan pesan kehidupan secara halus namun mendalam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai masih relevan dengan realitas sosial masyarakat hari ini.

“Wayang bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada pesan tentang gotong royong, kerukunan, dan bagaimana nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian,” ujar Ristu di sela acara.

Lakon Semar Bangun Kayangan yang dibawakan dalang Joko Klenteng asal Ngawi mengajarkan keteladanan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sosok Semar digambarkan sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan sering lahir dari kesahajaan, bukan dari kemewahan atau kekuasaan.

Menurut Ristu, pesan-pesan tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyinggung tantangan sosial di era media sosial yang kerap memicu perpecahan. Melalui medium budaya seperti wayang, masyarakat diajak kembali pada nilai saling menghormati, rukun, dan tolong-menolong.

“Wayang mengingatkan kita agar kemajuan teknologi tidak membuat hubungan sosial semakin renggang,” tuturnya.

Selain nilai budaya dan kebangsaan, kegiatan ini turut memberi dampak ekonomi. Keramaian penonton membawa rezeki bagi pedagang kecil di sekitar lokasi.

“Kami ingin kebahagiaan peringatan HUT ini bisa dirasakan bersama, termasuk oleh pedagang kecil,” pungkas Ristu. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

PDIP Kota Kediri Rayakan Bulan Bung Karno dengan Aksi Sosial dan Gotong Royong Bersama Rakyat

DPC PDI Perjuangan Kota Kediri memperingati Bulan Bung Karno melalui beragam kegiatan sosial, budaya, olahraga, dan ...
KRONIK

Berbekal Marhaenisme, Ibu Rumah Tangga Novita Hardini Konsisten di Jalan Politik

MAGETAN – Pemikiran Bung Karno menjadi pemantik sekaligus panduan bagi Novita Hardini menapak jalan politik. Dari ...
KABAR CABANG

REDTalks PAC Prajuritkulon Tuai Apresiasi, Dinilai Jadi Model Dialog Politik untuk Generasi Muda

MOJOKERTO – Pelaksanaan REDTalks menyambut Bulan Bung Karno yang digelar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Prajuritkulon ...
KRONIK

Rumah Aspirasi STD Tutup Bulan Bung Karno dengan Aksi Nyata untuk Rakyat Bondowoso

Rumah Aspirasi Sonny T. Danaparamita Bondowoso menutup rangkaian Bulan Bung Karno 2026 dengan menyalurkan ratusan ...
HEADLINE

Rocky Gerung: Marhaen Adalah Kita, PDIP Magetan Hidupkan Kembali Marhaenisme untuk Gen Z

MAGETAN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan memilih membumikan pemikiran Bung Karno melalui ruang dialektika. ...
KRONIK

Festival Jaranan Shenterewe Tulungagung 2026, Wadah Ekspresi Seniman Muda

TULUNGAGUNG – Festival Jaranan Shenterewe 2026 yang diselenggarakan di lapangan Desa Gilang, Kecamatan Ngunut, ...