TRENGGALEK – Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi meninjau progres pembangunan talud penahan banjir di Sungai Temon, Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek. Proyek yang didanai Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas tersebut diharapkan rampung pada akhir Desember 2026 agar risiko luapan sungai ke permukiman warga dapat ditekan.
Doding mengatakan, pembangunan talud menjadi upaya mengatasi persoalan banjir yang selama ini menghantui warga Ngares setiap musim hujan. Ia berharap pengerjaan berjalan sesuai target sehingga masyarakat tidak lagi dibayangi kekhawatiran ketika debit air meningkat.
“Saya mengecek langsung untuk melihat progresnya. Mudah-mudahan pada akhir Desember sudah selesai dan terbebas dari ancaman banjir,” kata Doding, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, Sungai Temon kerap meluap ketika musim hujan, terutama saat debit air meningkat dari kawasan Dam Bagong yang menjadi salah satu sumber pengairan di wilayah Trenggalek kota. Kondisi tersebut membuat air berpotensi masuk ke permukiman warga.
Keluhan masyarakat mengenai ancaman banjir itu kemudian ditindaklanjuti melalui pembangunan talud penahan air. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menahan luapan sungai agar tidak sampai menggenangi rumah warga.
“Progresnya cepat, mudah-mudahan cepat selesai,” ujarnya.
Doding menjelaskan, sebelum pembangunan dimulai, Pemkab Trenggalek bersama BBWS Brantas telah melakukan persiapan, termasuk sosialisasi kepada warga di sekitar lokasi proyek. Masyarakat disebut mendukung pembangunan karena berkaitan langsung dengan keamanan dan keselamatan lingkungan tempat tinggal mereka.
Meski demikian, ia mengingatkan warga agar turut menjaga infrastruktur yang dibangun sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Ini juga untuk kepentingan dan keselamatan warga,” katanya.
Berdasarkan data proyek, pembangunan talud penahan banjir Sungai Temon membutuhkan anggaran sekitar Rp 4,4 miliar dengan masa pelaksanaan 170 hari kalender.
Pekerjaan tersebut mencakup pembangunan talud sepanjang sekitar 200 meter dan konstruksi bronjong sepanjang 150 meter, termasuk pekerjaan di area pintu air.
Doding berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal dan berfungsi optimal ketika musim hujan tiba. Menurutnya, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari selesainya konstruksi, tetapi juga dari kemampuannya melindungi permukiman warga dari ancaman luapan sungai.
“Targetnya air tidak sampai masuk ke rumah warga,” pungkas Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek ini. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













