oleh

Surabaya Jadi Role Model Penanganan Sampah

SURABAYA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, role model penanganan sampah di Surabaya bakal dijadikan inspirasi untuk menangani sampah secara nasional.

“Pengolahan sampah yang dilakukan Pemkot Surabaya sangat bagus. Nanti, beberapa penanganan bisa diambil untuk dijadikan format nasional,” kata Siti Nurbaya, dalam Perayaan Hari Peduli Sampah Nasional di Taman Suroboyo, di Bulak Cumpat, Surabaya, Selasa (28/2/2017).

Sedang Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang menghadiri acara tersebut mengemukakan, pemerintah tengah getol mewujudkan program Indonesia Bebas Sampah 2020. Karena itu, Jusuf Kalla mengajak semua pihak bekerja sama untuk mewujudkannya.

“Ini merupakan pekerjaan yang berat. Apalagi waktunya kan mepet. Jadi, seluruh rakyat harus ikut bekerja bersama,” kata JK.

Dia juga mengajak warga untuk tak memusuhi sampah. “Jika sampah dianggap kawan. Maka kita akan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai,” bebernya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjelaskan, yang dimaksud bebas sampah sebagaimana dicanangkan pemerintah tahun 2020, adalah tak ada lagi sampah yang tidak terkelola.

“Kita menyebutnya sampah liar,” ucap Risma.

Dia mengaku, selama ini telah “mati-matian” mengurusi sampah liar di Kota Surabaya. “Kita sudah setengah mati mengurusinya, itu pun ternyata masih sekitar 10 persen pengurangannya per tahun,” ungkap kader PDI Perjuangan ini.

Memang, menurut dia, butuh kerja keras untuk memberi penyadaran kepada masyarakat agar mengelola sampah liar.

Alumnus ITS Surabaya ini mencontohkan, di pasar-pasar tradisional, penyadaran agar pedagang tidak membuang sampah seenaknya sendiri harus dilakukan tiap hari.

“Bahkan sampai sekarang kita masih ‘menggurak’ pasar. Selain itu di taman-taman juga. Memang berat. Tapi, ya, mau gimana lagi, kita harus bekerja keras,” ungkapnya.

Selain itu, Risma menambahkan, yang masih bandel tidak mengelola sampah liar adalah para pedagang kaki lima (PKL).

“Karena mereka merasa sampah itu bukan tanggung jawabnya. Dia buang ‘sak enake dewe’. Merasa sudah ada petugas yang ngurusi sampah. Padahal pasukan kuning itu kan juga manusia,” imbuh wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini.

Terhadap para PKL ini, Risma menegaskan akan lebih memperketat tanggung jawab terhadap sampah-sampah yang dihasilkannya. “Perwali-nya sudah ada itu. Akan kita tangkapi kalau melanggar,” tuturnya.

Soal pengolahan sampah menjadi sesuatu yang berguna, pihaknya telah lama mewujudkan keinginan pemerintah tersebut. Pasalnya, saat ini Surabaya telah memiliki rumah kompos.

Di rumah kompos, sampah diolah menjadi pupuk kompos. “Dari situ, kami mampu menghasilkan 20 ton pupuk kompos per hari. Pupuk itu digunakan untuk merawat seluruh tanaman yang ada di Surabaya,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, Surabaya memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo. Di situ, sampah diolah yang menghasilkan energi listrik sebesar 2 megawatt.

“Bahkan, target kami produksinya bisa mencapai 11 megawatt pada 2019. Itu merupakan sumbangsih Surabaya untuk Indonesia,” ujar dia. (goek)