oleh

Sastra, Kebudayaan, dan Bung Karno

-Ruang Merah-26 kali dibaca

Kehidupan mutakhir, ada kalanya menumbangkan akal sehat. Sebagian pihak, menerabas keindahan dan dinamika hidup, yang pada awalnya bersifat sastrawi; indah dan mempesona, untuk mencapai yang diinginkannya. Hutan digunduli, atau dibakar dengan sengaja, untuk membuka lahan baru, proyek raksasa dengan menenggelamkan ekosistem, tanpa menanami kembali lahan dengan pohon, tetapi menumbuhinya dengan beton. Suhu terasa lebih panas, ozon menganga di Antartika.

Hubungan baik antarmanusia, seringkali teramputasi oleh digitalisasi hidup. Relasi antar-saudara berubah gelap dalam redup kepentingan. Silaturrahim digelar ketika ada kepentingan duniawi. Begitu tidak ada kepentingan materi, saudara dikunjungi ketika sakit atau setelah meninggal dunia. Ini adalah tamsil kecil dari narasi panjang tentang keindahan, tentang kesusasteraan warga republiken.

Karena itu, kesusasteraan, keindahan, kadang tidak dianggap penting karena yang dianggap urgen adalah semesta materi. Padahal, jauh lebih penting dari semua itu adalah kemanusiaan yang insaniyah atau humanisme. Bukan kemanusiaan yang hayawaniyah atau binatangisme.

Kesibukan diri dalam mewujudkan keinginan individu yang sebagian di antaranya dilalui dengan bermazhab kepada Machiavelli, kadang membuat hidupnya membosankan, monoton dan stres. Padahal, ketika hidup mengikuti irama dan ritme, apa yang dialaminya, menguntungkan, atau membuntungkan, pada akhirnya akan dianggap sebagai anuegrah dari Yang Maha Sastra.

Bahwa dengan sastra, siapa pun akan berekreasi di situ: belajar, berestetika, beretika, bermanunggaling kaulo gusti, nrimo ing pandum menuju sangkan paraning dumadi; sak bejo bejane wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo. Di situlah sastra sering dilupakan sebagai sesuatu yang seharusnya diingat, karena kita hadir bukan sebagai penderita amnesia.

Krisis sastra dan keindahan yang terus menerus terjadi, akan berakibat menipisnya rasa berbudaya. Rasa berbudaya yang terus berlangsung, dapat memunculkan petaka. Malapetaka yang merealita, dapat menimbulkan pembusukan budaya. Budaya yang busuk, akan melahirkan kebusukan-kebusukan yang lain. Memang, republik ini belum busuk, tetapi aromanya, pelan tapi pasti, tercium tidak sedap, dan sedikit sangit.

Gencarnya arus globalisasi dengan diikuti hadirnya kecanggihan teknologi di dalam penerapannya yang menerpa Indonesia, membuat lahirnya peradaban Indonesia dibawa menuju ke arah kehidupan dunia Barat. Lahirnya modernisasi di dalam masyarakat kita telah sedikit banyak mengubah cara pandang dan pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang tercipta merupakan duplikasi budaya masyarakat Barat yang cenderung berjiwa konsumtif dan hedonis.

Berbagai macam fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan masyarakat dewasa ini, telah mengilustrasikan suatu keadaan yang mencerminkan layaknya kehidupan masyarakat dunia barat dan telah menggeser kedudukannya dari budaya kelokalan Indonesia telah eksis sebelumnya. Pola ini memang sengaja dilakukan oleh para penguasa media yang melahirkan dan mempopulerkan pola hidup semacam itu lewat pengaruh produknya, yang notabene sebagai cerminan kebudayaan lebih modern serta digembar-gemborkan melalui jejaring medianya yang telah mereka bangun sebelumnya, hingga masyarakat khususnya generasi muda terkena dampak dan bertekuk lutut meniru secara mentah-mentah tanpa adanya koreksi diri dari produk di balik tayangan medianya dari lansiran kaum kapitalis itu.

Industri media yang menguasai jaringan cyber digital space itu, memang telah sengaja mengobrak-abrik tatanan hidup bangsa Indonesia yang terkenal satun itu, dan telah menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia selama bangsa ini didirikan oleh para pendahulunya, kini diganti dengan kebudayaan seronok, berperilaku rusak, dangkal pemikiran, berjiwa pragmatis, instanis, konsumtif serta hedonis.

Jaringan media, entah dalam bentuk televisi atau film yang harusnya sebagai alat pencerahan hidup masyarakat, kini telah mengambil alih posisi, sehingga budaya luhur dan norma kesantunan yang sudah mapan warisan dari nenek moyang itu, kini keberadaanya digantikan dengan budaya baru sebagai cerminan realitas palsu yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Akhirnya, lahirlah peradaban baru dengan keragaman bentuk hasil replika dari kebudayaan Barat di Indonesia.

Kehadiran teknologi digital di tengah aktivitas manusia telah menunjukkan tingkat peradaban manusia pada titik kulminasi eksprimentasi teknologi, di mana kenyataan ini menegaskan bahwa perangkat “teknologi digital” telah menggeser pemahaman “logika matematis” konvensional. Dengan demikian akan terjadi pengkaburan persepsi antara “akal manusia” yang menghasilkan persepsi dan “akal buatan” yang menghasilkan teknologi. Akibatnya, realitas yang terlahir adalah  jarak “rohani” menangkap suatu peristiwa yang tadinya dibatasi dari layar monitor ke mata, kini lebih dekat lagi sampai ke lensa mata, dan semakin mendekat lagi hingga “diri kita” telah masuk dan dipermainkan oleh mesin-mesin canggih melalui perangkat cyber virtual digital.

Kenyataan ini menegaskan bahwa, berperannya kehadiran teknologi informasi dalam relung-relung kehidupan manusia, membuat sesuatu yang tadinya ada sebatas angan-angan di ”dunia maya”, kini telah menjadi suatu hal yang seolah-olah menjadi ”realitas sebenarnya”, bahkan komunikasi antar manusia semakin lebih dekat. Pada awalnya persepsi manusia menyatakan, dunia ini sangat luas dan untuk berkomunikasi tentunya diperlukan waktu yang panjang dan berliku-liku dalam proses operasionalnya.

Globalisasi muncul sebagai pergerakkan pemikiran manusia untuk ingin mengetahui isi dunia. Secara teoretis globalisasi juga dapat dikatakan sebagai penggambaran dari teori evolusi yang telah dikemukakan oleh Darwin dengan pergerakan perkembang-biakan pertumbuhan dari hewan primata itu menjadi asal mulanya manusia. Demikian juga dengan istilah globalisasi merupakan penggambaran dari puncak perubahan peradaban manusia yang telah menunjukkan pergerakannya.

Modernisasi yang dilakukan secara besar-besaran dalam dunia teknologi, hingga melahirkan teknologi digital yang memungkinkan manusia masuk dalam “dunia maya” seperti sekaranag ini kita rasakan. Kenyataan ini menyatakan, lahirnya teknologi terkini membuat manusia semakin mudah untuk mewujudkan ide imajinatifnya segila apapun, dengan mudah dapat terwujudkan. Sehingga persepsi tentang suatu realitas yang ada dan tiada sangat tipis bedanya. Hal ini disebabkan oleh “perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan manusia hidup dalam ruang di mana mitos “ada” menjadi dunia citra.

Di tengah kegilaan imajinasi dunia teknologi, kita semua tentu mengenal Soekarno, Proklamator yang dijuluki Bapak Kebudayaan Indonesia. Soekarno adalah Presiden Indonesia yang dikenal pandai berorasi yang diperkuat oleh cerita pewayangan serupa Mahabrata dan Ramayana. Pada masa pembuangan, Soekarno juga berperan sebagai penulis naskah, menjadi sutradara, melatih, dekorasi panggung, dan sebagai marketing /manajer. Ketika menjadi presiden ia lebih dikenal sebagai kolektor lukisan pelukis anak bangsa dan pemimpin yang asyik menikmati tari-tarian dan musik budaya bangsa.

Sebagai pemimpin Soekarno termasuk pemimpin yang paling aktif memajukan kesenian tradisional. Ia ingin kesenian tradisional itu bisa dinikmati masyarakat bangsa yang sedang berada dalam proses perubahan.  Soekarno juga terlibat di dalam perencanaan bangunan milik negara. Sebagai seorang arsitek Soekarno terlibat di dalam perencanaan Masjid Istiqlal, Gedung MPR/DPR, Monumen Nasional, gedung Bank Indonesia dan Hotel Indonesia.

Dalam bidang seni patung, Soekarno juga mempunyai peranan penting dalam menghadirkan patung Pancoran atau patung Dirgantara, Tugu Tani, Tugu Selamat Datang dan lainnya. Begitulah, bagi Soekarno, penciptaan karya seni dan bentuk kreasi kultural bukan hanya hiburan, tetapi juga usaha pengayaan wawasan sebagai bagian dari perjuangan. Semuanya adalah bagian esensial dalam proses nation-building.

Poin penting dalam narasi ini, bukan soal Soekarno semata. Tetapi, cara mencintai dan memelihara bangsa supaya diruwat agar corak Nusantara dalam wajah Indonesia tetap terjaga, baik dari perspektif sastra maupun dari skop yang lebih luas: kebudayaan.

Salah satu narasi Bung Karno yang perlu kita pegang teguh, “Jika ingin jadi Muslim, jangan jadi orang Arab. Jika ingin jadi Hindu, jangan jadi orang India. Begitu juga, jika ingin jadi Kristen, jangan jadi orang Roma, tetapi jadilah Indonesia. Jadilah Indonesia ini berarti dalam konteks budaya harus memiliki kepribadian yang berwawasan Nusantara yang gemah ripah loh jinawi.

Karena bagi Bung Karno, penjajahan terbesar adalah melawan bangsa sendiri yang aneh-aneh, termasuk tidak berbudaya. Dulu, sajak “Aku Melihat Indonesia”, Bung Karno menyatakan, Jikalau aku melihat // sawah-sawah yang menguning-menghijau//

Aku tidak melihat lagi // batang-batang padi yang menguning menghijau// Aku melihat Indonesia. Akan tetapi, andai Bung Karno masih hidup, apakah akan mengatakan hal yang sama, pada dimensi Indonesia yang sudah tidak menusantara dari sisi sastra dan budaya?

Tulisan disampaikan dalam acara Malam Sastra dan Bulan Bung Karno STKIP Sumenep, 1 Juni 2022