Jumat
19 Juni 2026 | 6 : 02

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Saat Indonesia Dipersulit Ikut Olimpiade, Bikin PON hingga Even Tandingan

PON

SEJARAH hegemoni politik olahraga tingkat dunia oleh negara-negara besar menemukan sandungan ketika berhadapan dengan Negara Indonesia. Bukannya takluk, Republik Indonesia malah membuat pesta olah raga secara mandiri, hingga membuat even olahraga tingkat dunia atau olimpiade tandingan.

Percepatan membangun negara dari berbagai bidang terus dilakukan pasca-proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Termasuk bidang olahraga, dengan bersiap mengikuti olimpiade di London pada 1948.

Namun International Olympic Commitee (IOC) sebagai pihak penyelenggara, mempersulit rencana RI. Ada tiga hal yang menjadi alasan IOC seperti dilansir dari vredeburg.id

Pertama, Indonesia tidak terdaftar sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) sebagai induk seluruh cabang olahraga di Indonesia belum terdaftar sebagai anggota resmi IOC. Dan ketiga, Inggris menolak paspor Indonesia.

IOC hanya memberikan kesempatan kepada RI sebagai peninjau. Itu pun, delegasinya harus menggunakan paspor Belanda.

Upaya itu dimaknai sebagai langkah penolakan keikutsertaan Indonesia dalam Olimpiade 1948. PORI yang diketuai oleh Mr Widodo Sastrodiningrat mengambil keputusan untuk mengadakan konferensi darurat pada 1 Mei 1948 di Solo. Ide tercetus: menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON).

PON pertama kali diadakan pada 9-12 September 1948 di Solo. Hari pertama penyelenggaraan, tanggal 9 September kemudian ditetapkan sebagai sebagai Hari Olahraga Nasional dan diperingati saban tahun hingga kini.  

Upacara pembukaan PON I diselenggarakan di halaman istana negara Yogyakarta (Gedung Agung) pada 8 September 1948. Saat itu, roda pemerintahan RI “hijrah” dari Jakarta ke Yogyakarta seiring kedatangan NICA bersama pasukan sekutu pada 1946 atau dikenal istilah agresi militer Belanda untuk merebut kembali Indonesia.

PON pertama diikuti sekitar 600 atlet dari 13 daerah. Cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi atletik, bola basket, bola keranjang, bulu tangkis, panahan, pencak silat, renang (termasuk polo air), sepak bola, dan tenis. 

PON I ditutup pada 12 September 1948. Upacara penutupan dilaksanakan di Stadion Sriwedari dan dihadiri langsung oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. 

Keberhasilan PORI dalam menyelenggarakan PON I tahun 1948 di Solo menjadi bukti nyata tonggak sejarah persatuan dan perkembangan olahraga di Indonesia.

“PON pertama ini juga telah membuktikan kepada dunia luar bahwa bangsa Indonesia masih tetap dapat memegang persatuan dan kesatuan bangsa di tengah-tengah dentuman meriam dan kondisi negeri yang kian tidak menentu,” sebut vredeburg.

GANEFO1963

Presiden Sukarno membuka Games of the Emerging Forces (GANEFO) di Stadion Gelora Bung Karno, 10 November 1963. GANEFO diikuti kontingen dari berbagai negara, menjadi semacam even tandingan olimpiade.

Gelaran GANEFO buntut dari konflik IOC dengan Indonesia, selaku panitia penyelenggara Asian Games ke-4 tahun 1962. IOC memutuskan untuk menangguhkan keikutsertaan Indonesia pada Olimpiade di Tokyo tahun 1964. Alasannya, Indonesia dinilai melakukan pelanggaran berupa memasukkan pertimbangan politik dalam ajang olahraga.

Presiden Sukarno tidak terima dengan keputusan IOC. Bagi Soekarno, IOC pun mencampuradukkan politik dan olahraga.

“Mari berkata jujur.. Saat mereka (IOC) mengucilkan RRC, apakah itu bukan politik? Saat mereka tak ramah dengan Republik Arab Bersatu, apakah itu bukan politik? Saat mereka tak ramah pada Korea Utara, itu bukan politik? Saat mereka mengucilkan Vietnam Utara, itu bukan politik? Saya hanya sedang jujur,” katanya sebagaimana tertulis dalam Buletin Ganefo edisi pertama (Juli 1963) seperti dikutip dari tirto.id.

Presiden Sukarno lantas memerintahkan membuat olimpiade tandingan. Sikap berani Sukarno mendapat dukungan dari rakyat. Menteri Olahraga Maladi ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Sebanyak 12 negara berpartispiasi dalam GANEFO. Yakni Kamboja, RRC, Guinea, Indonesia, Irak, Pakistan, Mali, Vietnam Utara, Republik Arab Bersatu (Mesir dan Suriah), dan Uni Soviet, Ceylon (Sri Lanka) dan Yugoslavia.

“Negara yang baru seumur jagung kala itu, telah membuat gebrakan demi gebrakan yang tak jarang mengganggu kepentingan para penguasa lama,” sebut Tirto.(frgj/hs)

===

Keterangan foto: Cabang atletik PON I di Solo, 9-12 September 1948. Majalahfakta.id. Foto: Frans Mendur/repro IPPHOS Remastered karya Yudhi Soerjoatmodjo.

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

MILANGKORI

Rijanto: Tradisi dan UMKM Harus Berjalan Beriringan untuk Perkuat Ekonomi Warga

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto menegaskan pelestarian tradisi harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan ...
KRONIK

Kabar Duka: Dokter Relawan Itu Berpulang

SIDOARJO – Keluarga besar PDI Perjuangan diselimuti duka mendalam atas berpulangnya dokter Rismala Fitria Dewi pada ...
SEMENTARA ITU...

Saat Ribuan Warga Berkumpul di Pantai Serang, Merawat Tradisi dan Menjaga Harapan

Ribuan warga memadati Pantai Serang, Blitar, untuk mengikuti tradisi Larung Sesaji menyambut 1 Suro. Tradisi ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Minta Kecamatan dan Kelurahan Kawal Sensus Ekonomi 2026

Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya Anas Karno mengajak kecamatan dan kelurahan mengawal Sensus Ekonomi 2026 agar ...
LEGISLATIF

DPRD Trenggalek Cari Solusi Agar PPPK Tak Terdampak Batas Belanja Pegawai 30 Persen

Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi meminta Pemkab mengoptimalkan PAD untuk mengantisipasi dampak kebijakan ...
HEADLINE

Said Abdullah Tegaskan PDIP Jadi Partai Penyeimbang, Tekankan Sikap Objektif dan Proporsional

JAKARTA – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Said Abdullah menegaskan bahwa posisi ...