Jumat
17 April 2026 | 11 : 57

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pengamat: Konferda-Konfercab PDIP se-Jatim Serentak, Sinyal Satu Komando Hadapi Dinamika Politik

pdip-jatim-251217-Surokim-Abdussalam-2

SURABAYA – Pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan serentak di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dinilai bukan sekadar rutinitas organisasi.

Langkah masif itu dipandang sebagai pesan politik kuat tentang disiplin dan soliditas partai di tengah perubahan lanskap politik nasional yang kian dinamis.

Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menilai, konsolidasi itu menegaskan kembali kontrol struktural dan kesatuan gerak organisasi dari tingkat pusat hingga daerah.

“Konferda dan konfercab serentak ini adalah pesan bahwa PDI Perjuangan bukan partai yang berjalan sendiri-sendiri di daerah,” ungkap Surokim dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12/2025).

Dalam perspektif komunikasi politik, kata Surokim, langkah tersebut menjadi penanda bahwa PDIP ingin memastikan seluruh struktur partai bergerak dalam satu ritme, satu frekuensi, dan satu garis ideologis yang sama.

“Ini satu organisasi yang terhubung secara struktural dan ideologis, dengan disiplin dan ketertiban sebagai fondasi utama,” terangnya.

Konsolidasi internal hadapi tantangan eksternal

Surokim menjelaskan, kedisiplinan dan soliditas partai saat ini sangat relevan di tengah situasi politik nasional yang dinamis. Dinamika itu ditandai dengan perubahan cepat, fragmentasi preferensi pemilih, serta meningkatnya kompetisi antarpartai.

Dalam kondisi seperti ini, partai politik yang tidak memiliki konsolidasi internal yang kuat berisiko kehilangan arah dan daya tahan politiknya.

Surokim juga menilai, konsolidasi serentak tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan PDI-P dalam menghadapi tantangan eksternal yang semakin kompleks.

Tantangan itu mencakup dinamika elektoral, perubahan perilaku pemilih yang semakin rasional, hingga penetrasi politik digital yang mengubah cara partai berkomunikasi dengan publik.

Kedewasaan partai

Di sisi lain, dinamika internal sebuah partai terus terjadi. Surokim tidak menampik konferensi serentak berpotensi memunculkan tarik-menarik kepentingan antarkader, khususnya terkait regenerasi dan pengisian posisi strategis di tingkat daerah.

Namun, dia menegaskan, dinamika tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi politik yang besar dan matang. “Di sinilah ujian kedewasaan partai. Konflik kepentingan dalam perebutan jabatan adalah hal yang wajar,” imbuh Surokim.

Dia mengatakan, kedewasaan partai ditentukan dari cara partai mengelola konflik melalui mekanisme organisasi yang tertib dan diterima sebagai keputusan bersama.

Surokim juga menilai, struktur komando yang kuat serta budaya organisasi yang menekankan kepatuhan terhadap keputusan kolektif menjadi instrumen penting untuk meminimalkan gesekan di tingkat bawah.

Dia menegaskan, kesadaran kader akan pentingnya kepentingan partai di atas kepentingan personal mampu menjaga stabilitas internal sekaligus memperkuat soliditas jangka panjang.

Demokrasi yang substantif

Lebih jauh, Surokim menyoroti peran konfercab sebagai ruang demokrasi internal yang berpotensi substantif. Menurutnya, demokrasi internal tidak selalu identik dengan pemilihan langsung atau kontestasi terbuka, tetapi tercermin dari keterbukaan proses, akuntabilitas pengambilan keputusan, serta kesediaan kader untuk menerima hasil dengan sikap legowo.

“Demokrasi internal yang sehat justru terlihat dari kesediaan kader menghargai proses dan menerima keputusan organisasi. Itu jauh lebih bermakna daripada sekadar kontes jabatan,” ujar Surokim.

Dia juga menyampaikan demokrasi dalam konteks Jatim yang dikenal memiliki karakter politik majemuk dan inklusif. Menurut Surokim, PDIP tetap memerlukan satu narasi ideologis besar sebagai identitas partai.

Namun, ia menekankan, cara penyampaian narasi tersebut harus kontekstual dan sensitif terhadap keragaman sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat di daerah.

“Pendekatan komunikasi politik harus empatik dan membumi. Narasi ideologi tidak cukup disampaikan secara normatif, tetapi harus hadir dalam bahasa yang dipahami publik dan diterjemahkan dalam tindakan nyata,” kata Surokim.

Politik berbasis ideologi

Sementara itu, pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Airlangga Pribadi menilai, konferda dan konfercab serentak itu menjadi sinyal dari PDIP yang tengah memasuki fase konsolidasi dan perjuangan politik baru.

Menurutnya, agenda tersebut mencerminkan upaya partai untuk menegaskan kembali politik berbasis ideologi di tengah menguatnya pragmatisme politik dan praktik politik jangka pendek.

“PDIP sedang membangun antitesis terhadap politik uang dan politik tanpa keberpihakan yang nyata,” ungkap Airlangga.

Dia menyebutkan, konsolidasi itu menunjukkan bahwa partai ingin meneguhkan kembali politik ideologis yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Airlangga menambahkan, pembumian ajaran Bung Karno sebagai fondasi ideologi partai menjadi semakin relevan di tengah transformasi sosial dan teknologi yang memengaruhi preferensi pemilih, terutama generasi muda dan generasi (gen) Z.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah cara menerjemahkan ideologi tersebut ke dalam bahasa, medium, dan program yang mampu menjangkau kelompok pemilih baru tanpa kehilangan substansi.

Regenerasi kader ideologis

Lebih lanjut, Airlangga menekankan pentingnya kesinambungan kepemimpinan yang berjalan seiring dengan regenerasi kader.

Menurutnya, kesinambungan mencerminkan stabilitas ideologis dan organisasi, sedangkan regenerasi membuka ruang bagi kader-kader baru untuk berkontribusi dan memperluas daya jangkau politik partai.

“Kepemimpinan yang teruji secara ideologis, berintegritas, dan dekat dengan persoalan rakyat menjadi kunci navigasi partai dalam menghadapi perubahan zaman,” kata Airlangga.

Terkait hal itu, kedua pengamat sepakat bahwa tantangan terbesar PDI-P ke depan bukan semata persaingan antarpartai, melainkan perubahan perilaku pemilih yang semakin rasional dan cair.

Kini, perilaku pemilih cenderung menilai kinerja, keberpihakan kebijakan, serta manfaat konkret yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, konsistensi antara nilai ideologis, program kerja, dan kinerja nyata dinilai menjadi faktor penentu daya saing partai.

PDIP pun diharapkan mewujudkan itu dengan budaya organisasi yang tertib, disiplin tinggi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial dan politik.

Partai berlambang banteng itu dinilai memiliki modal kuat untuk menjaga soliditas internal sekaligus meneguhkan perannya sebagai partai ideologis yang tetap relevan dan berkelanjutan di tengah tantangan masa depan. (nia/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

BERITA TERKINI

Said Abdullah: Pers Harus Jadi Pilar Keempat Demokrasi dan Kontrol Kekuasaan

Said Abdullah menegaskan pers harus menjadi pilar keempat demokrasi dan alat kontrol kekuasaan saat menerima ...
HEADLINE

PWI Jatim Anugerahi Said Abdullah, Dinilai Sukses Kelola Kebijakan Fiskal

MH Said Abdullah menerima penghargaan dari PWI Jawa Timur pada puncak Hari Pers Nasional 2026 di Surabaya, atas ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta OPD Surabaya Publikasikan Output dan Outcome Program ke Publik

Eri Cahyadi meminta OPD Surabaya mempublikasikan output dan outcome program untuk meningkatkan transparansi dan ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Terima Penghargaan KWP Awards 2026, Tekankan Peran Media Kawal Kinerja DPR

Puan Maharani menerima penghargaan KWP Awards 2026 dan menegaskan peran penting media dalam mengawal serta ...
LEGISLATIF

Sawah di Pakusari Terdampak Limbah, DPRD Minta Pemkab Jember Pahami UU Pengelolaan Sampah

Pemkab Jember diminta memahami UU Pengelolaan Sampah setelah limbah mencemari irigasi dan mengancam 10 hektare ...
LEGISLATIF

Pansus DPRD Jatim Soroti Program OPD, Anggaran Besar Belum Tekan Kemiskinan

DPRD Jatim menilai program OPD belum berdampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan meski capaian administratif ...