Kamis
15 Oktober 2026 | 6 : 43

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pendidikan Karakter dan Cinta Tanah Air : Catatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

PDIP-Jatim Susy Cecilia 15102026

Oleh Susy Cecilia Agustina S.*

IBARAT pohon, cinta tanah air tidak tiba-tiba tumbuh, tapi perlu disemai, dipupuk, dan dirawat. Rasa bangga terhadap bangsa, penghargaan pada sejarah, serta peduli lingkungan merupakan pupuk yang perlu dipercikkan sejak usia dini. Pun, pendidikan karakter, tidak cukup melalui buku, lagu-lagu, atau seremonial. Anak-anak perlu diajak untuk melihat dunai nyata di sekitarnya.

Mungkin kesadaran semacam ini yang melingkupi sekolah-sekolah swasta di Surabaya. Mereka tidak hanya menawarkan suasana kelas yang kondusif, akan tetapi juga kegiatan luar kelas didesain menjadi wahana membentuk karakter anak yang menyenangkan dan membumi. Outbound, misalnya, menjadi salah satu kegiatan yang cukup diminati. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang luar biasa pada anak: bermain, bergerak, bersosialisasi, dan belajar memahami lingkungannya.

Tetapi, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan, “Tidakkah outbond yang menyenangkan ini dimanfaatkan untuk mengenalkan sejarah dan menumbuhkan cinta Tanah Air pada anak usia dini?”

Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, saya kira jawabannya bukan sekadar ya atau tidak. Tapi perlu melihat tahap perkembangan anak dan Surabaya sebagai kota yang penuh cerita sejarah.

Kunjungan Museum: Mengendal Identitas Surabaya

Surabaya memiliki identitas kuat sebagai Kota Pahlawan dengan berbagai peninggalan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keberanian, persatuan, pengorbanan, dan nasionalisme bukan sekadar cerita masa lalu, tapi warisan nilai yang seharusnya terus menyala di dada generasi penerusnya. Keberadaan Tugu Pahlawan, Museum Sepuluh Nopember, Gedung Nasional Indonesia, dan gedung lainnya, merupan situs-situs wisata yang menyimpan nilai-nilai sejarah kebangsaan. Di sanalah, para pelejar –mulai anak usia dini hingga mahasiswa – mengenal sejarah Kota Pahlawan.

Misalnya, sekelompok anak PAUD mengunjungi kawasan Tugu Pahlawan bersama guru dan orang tua mereka. Mereka tidak harus memahami secara mendalam kronologi Pertempuran 10 November 1945. Mereka cukup mengenal bahwa tempat tersebut dibangun untuk mengenang orang-orang yang berjuang demi Indonesia. Guru dapat bercerita, bahwa dahulu kala para pemberani bahu-membahu menjaga negeri kita ini. Karena merekalah, kita hari ini bisa menikmati belajar, bermain, dan hidup bersama dengan damai.

Dengan demikina, anak mulai mengenal, mulai memahami bahwa Indonesia dianyam dari cerita, perjuangan, dan nilai kebersamaan. Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang membanggakan.

Pendidikan Karakter: Sejak Usia Dini

Usia dini sering disebut sebagai masa penting pembiasaan, pembentukan sikap, dan nilai dasar hidup. Anak belajar melalui pengamatan, pengalaman konkret, pengulangan, serta interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, pendidikan cinta tanah air seharusnya tidak dipersempit menjadi kegiatan menghafalkan Pancasila, menyebutkan nama pahlawan, atau menyanyikan lagu nasional, tetapi juga perlu dilengkapi dengan pengalaman yang memungkinkan anak memahami makna kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak usia tiga hingga enam tahun mungkin belum memahami arti nasionalisme secara konseptual. Namun, mereka dapat belajar menghargai teman yang berbeda, menjaga kebersihan lingkungan, berbagi makanan, mengantre dengan tertib, dan bekerja sama dalam permainan.

Bukankah nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila?

Ketika mengunjungi museum, anak-anak dapat belajar menghormati peninggalan sejarah, mendengarkan cerita dengan tertib, dan menjaga fasilitas umum. Ketika mengikuti permainan kelompok bertema perjuangan, anak-anak belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai dengan menjadi yang paling kuat, melainkan melalui kerja sama dan saling membantu.

Dengan demikian, pendidikan cinta tanah air tidak berhenti pada pengenalan simbol negara, tetapi berkembang menjadi pembiasaan sikap yang mencerminkan nilai kebangsaan.

Mengubah Outbound Menjadi Wisata Edukasi Kebangsaan

Outbound pada dasarnya memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karakter. Melalui kegiatan di luar kelas, anak memperoleh pengalaman baru dan menyenangkan. Sayangnya, outbound sering dipahami sebagai kegiatan rekreasi, dan kesempatan untuk memperkenalkan nilai sosial, budaya, dan sejarah terlewatkan.

Sekolah harus mulai mengembangkan konsep outbound berbasis wisata edukasi kebangsaan. Konsep ini bukan berarti mengganti seluruh kegiatan bermain dengan pembelajaran sejarah yang serius. Sebaliknya, unsur sejarah justru dipadukan dengan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia anak.

Contohnya: kunjungan ke museum dapat dikemas melalui kegiatan mencari gambar bendera Merah Putih, mengenali warna dan simbol kebangsaan, mendengarkan dongeng tentang keberanian, atau membuat karya seni sederhana setelah melihat benda bersejarah. Anak-anak juga diajak mengikuti permainan kelompok yang mengajarkan gotong royong. Mereka dapat membuat kolase bendera Indonesia, menggambar tempat bersejarah, atau menceritakan kembali pengalaman mereka dengan bahasa sendiri.

Kegiatan tersebut tidak memerlukan penyampaian materi yang rumit. Justru kekuatannya terletak pada pengalaman yang sederhana, menyenangkan, dan mudah diingat.

Tentu saja, kunjungan museum perlu mempertimbangkan keamanan, kenyamanan, durasi kegiatan, fasilitas sanitasi, serta kesiapan emosional anak. Tidak semua ruang museum atau materi sejarah sesuai untuk anak usia dini. Karena itu, sekolah harus memilih lokasi, cerita, dan aktivitas secara selektif.

Perencanaan yang baik membuat outbound menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman mengenal identitas bangsa.

Perspektif Ilmu Komunikasi: Anak Belajar dari Cerita dan Pengalaman

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, keberhasilan penyampaian pesan tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh cara pesan tersebut dikemas, media yang digunakan, serta karakteristik penerimanya.

Anak usia dini memiliki kemampuan memahami informasi berbeda dengan orang dewasa. Pesan terlalu abstrak, panjang, atau formal cenderung sulit diterima. Sebaliknya, komunikasi melalui cerita, gambar, permainan, gerakan, dan pengalaman langsung lebih dekat dengan cara anak mengenal dunia. Karena itu, museum dipandang bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan sebagai media komunikasi pendidikan.

Benda peninggalan sejarah – bangunan, foto, serta ruang pamer- menyimpan pesan masa lalu. Guru pendamping perlu menerjemahkan pesan tersebut melalui bahasa sederhana dan sesuai dengan usia anak. Misalnya, ketika anak melihat foto para pejuang, guru tidak harus menjelaskan seluruh latar belakang peperangan. Guru dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai keberanian, persahabatan, dan pentingnya saling menolong. Guru dapat mengelaborasinya dengan pertanyaan, misal, “Kalau temanmu kesulitan, apa yang bisa kamu lakukan?”

Di sinilah komunikasi pendidikan memainkan peran penting. Sejarah tidak lagi menjadi informasi yang jauh dari kehidupan anak, tetapi menjadi pesan moral yang dekat dengan pengalaman mereka.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan humanistik yang menempatkan anak sebagai individu yang aktif, memiliki rasa ingin tahu, serta membutuhkan pengalaman belajar yang bermakna. Anak tidak diposisikan sebagai penerima informasi yang harus menghafalkan seluruh penjelasan guru. Mereka justru diberikan kesempatan untuk bertanya, mengamati, merasakan, dan menemukan makna melalui pengalaman sendiri.

Peran Sekolah, Orang Tua, dan Pemerintah

Gagasan memasukkan wisata sejarah dalam program outbound PAUD tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Sekolah memiliki ruang untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran kreatif yang selaras dengan kurikulum dan kebutuhan perkembangan anak. Program kunjungan sejarah dapat dimasukkan ke dalam agenda tahunan sekolah, kegiatan proyek pembelajaran, atau program penguatan karakter.

Namun, sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Orang tua memiliki peran penting dalam memperkuat pengalaman belajar anak setelah kegiatan selesai. Ketika anak pulang dari museum, orang tua dapat mengajak mereka berbincang mengenai pengalaman yang didapat, cerita apa yang paling menarik, dan hal baik apa yang mereka pelajari.

Percakapan sederhana di rumah membantu anak mengingat pengalaman sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melalui instansi yang membidangi pendidikan, kebudayaan, dan pengelolaan museum, juga dapat mengambil peran dengan mendorong tersedianya paket kunjungan edukatif khusus anak usia dini.

Idealnya, paket kunjungan tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga pemandu yang memahami komunikasi anak, kegiatan interaktif, serta fasilitas yang ramah keluarga.

Kerja sama antara sekolah, pengelola museum, komunitas sejarah, dan orang tua dapat menjadi langkah awal membangun ekosistem pendidikan karakter berbasis kekayaan sejarah lokal. Bahkan, apabila dikembangkan secara konsisten, Surabaya berpotensi menjadi contoh kota yang memanfaatkan identitas sejarahnya sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak usia dini.

Kenalkan Anak pada Dunia melalui Sejarah Kotanya

Di era digital, anak-anak mudah mengenal berbagai tokoh, karakter animasi, dan budaya populer dari berbagai negara. Hal ini merupakan keniscayaan globalisasi yang tidak mungkin dihindari. Anak-anak boleh mengenal dunia yang luas. Mereka boleh belajar bahasa asing, menikmati cerita internasional, dan tumbuh dengan wawasan global.

Namun, di tengah keterbukaan tersebut, jangan sampai anak justru tumbuh tanpa mengenal sejarah kota dan bangsanya sendiri.

Kita patut bertanya, apakah anak-anak yang tinggal di Surabaya telah memperoleh kesempatan yang cukup untuk mengenal mengapa kotanya disebut Kota Pahlawan? Apakah sekolah sudah memberikan ruang bagi mereka mengenal perjuangan bangsa melalui pengalaman yang menyenangkan? Atau pendidikan sejarah baru dianggap penting ketika anak mulai memasuki jenjang sekolah dasar dan mampu menghafalkan nama serta tanggal peristiwa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama.

Pendidikan cinta tanah air tidak dimaksudkan untuk membatasi wawasan anak terhadap dunia luar. Pengenalan terhadap identitas lokal dan nasional dapat menjadi fondasi agar anak tumbuh percaya diri, menghargai keberagaman, dan tetap memiliki rasa keterikatan terhadap bangsanya.

Mengenal dunia merupakan kebutuhan, tetapi mengenal akar sejarah sendiri juga merupakan bagian penting dari pembentukan jati diri.

Dari Museum, Menumbuhkan Generasi yang Peduli Bangsa

Mengajak anak PAUD mengunjungi museum mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Mereka belum tentu mengingat nama seluruh pahlawan, memahami peristiwa sejarah, atau mengerti arti kemerdekaan secara utuh.

Namun, pendidikan karakter memang tidak selalu menghasilkan perubahan yang dapat diukur dalam satu hari. Anak yang hari ini belajar menghormati bendera, mendengarkan cerita perjuangan, menjaga fasilitas museum, dan bekerja sama dengan teman-temannya sedang membangun pengalaman awal tentang nilai kebangsaan.

Pengalaman tersebut dapat menjadi dasar bagi pembentukan sikap yang lebih matang ketika mereka tumbuh dewasa. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, saya berharap sekolah-sekolah, khususnya pada jenjang playgroup dan PAUD, mulai mempertimbangkan wisata sejarah sebagai bagian dari program outbound yang terencana dan berkelanjutan.

Tidak harus setiap kegiatan luar kelas dilakukan di museum. Namun, setidaknya sekolah dapat memberikan ruang secara berkala bagi anak-anak untuk mengenal tempat bersejarah, budaya lokal, serta nilai perjuangan bangsa melalui kegiatan yang menyenangkan.

Pendidikan karakter cinta tanah air bukan hanya tanggung jawab guru sejarah, bukan pula sekadar kewajiban lembaga pendidikan. Akan tetapi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

Surabaya mewariskan begitu banyak kisah perjuangan. Sudah sepatutnya warisan itu tidak hanya tersimpan di balik dinding museum atau diperingati dalam seremoni tahunan, tetapi juga dihidupkan dalam pengalaman belajar generasi penerus.

Sebab, cinta tanah air tidak selalu dimulai dari pidato besar tentang nasionalisme. Ia bisa tumbuh dari langkah kaki kecil seorang anak yang pertama kali memasuki museum, melihat bendera Merah Putih, mendengarkan kisah keberanian, lalu pulang dengan rasa bangga menjadi anak Indonesia.

Jika kita ingin melahirkan generasi yang mencintai bangsanya, jangan menunggu mereka dewasa untuk mengenalkan Indonesia. Biarkan mereka mengenal, merasakan, dan mencintai tanah airnya sejak langkah pertama mereka belajar tentang dunia.

*Susy Cecilia Agustina S., mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Memiliki perhatian terhadap pendidikan karakter anak usia dini, komunikasi pendidikan, serta penguatan nilai kebangsaan melalui pembelajaran berbasis pengalaman.

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KOLOM

Pendidikan Karakter dan Cinta Tanah Air : Catatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Oleh Susy Cecilia Agustina S.* IBARAT pohon, cinta tanah air tidak tiba-tiba tumbuh, tapi perlu disemai, dipupuk, ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Dorong Anak Muda Trenggalek Jadi Entrepreneur dan Buka Lapangan Kerja

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mendorong generasi muda menjadi entrepreneur yang mampu ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Minta Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat yang terdampak kebakaran ...
LEGISLATIF

Kaji Ipuk: Pemkot Surabaya Siapkan 50 Hektare Lahan Makam di Sumberejo

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menyiapkan lahan cadangan seluas 50 hektare di kawasan ...
MILANGKORI

Dari Desa, Dimas Pratama Merawat Kedekatan dengan Petani Lewat Demang Sambang

TULUNGAGUNG – Bagi petani, persoalan sehari-hari tidak selalu berhenti di sawah. Ada kebutuhan keluarga yang harus ...
LEGISLATIF

Doding Rahmadi Bakal Bangun Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan di Trenggalek

TRENGGALEK – Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, merencanakan pembangunan sumur bor untuk mengatasi ...