TRENGGALEK – Suasana hangat terasa di sebuah pertemuan sederhana di Kecamatan Panggul, Trenggalek, saat anak-anak disabilitas duduk bersama orang tua mereka. Di tengah momen Ramadan yang penuh makna, perhatian dan kepedulian menjadi hal yang paling terasa.
Anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini, hadir menyapa langsung mereka. Bagi Novita, pertemuan pada hari Minggu kemarin itu bukan sekadar kunjungan, melainkan ruang untuk menguatkan semangat—bahwa setiap anak memiliki keistimewaan.
“Adik-adik di sini bukan kurang, tetapi berbeda dengan cara yang luar biasa. Setiap manusia diciptakan membawa cahayanya masing-masing,” ujarnya di hadapan para orang tua dan anak-anak, dikutip Selasa (17/3/2026).
Di balik senyum anak-anak, ada keteguhan para orang tua yang setia mendampingi. Novita pun memberikan penghormatan kepada mereka yang menjalani peran dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

“Bapak dan Ibu adalah pahlawan sesungguhnya. Kesabaran dan kasih sayang ini adalah pelajaran tentang arti keikhlasan,” ungkapnya.
Momentum Ramadan, menurut Novita, seharusnya menjadi pengingat untuk memperluas kepedulian sosial, terutama bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Ia menekankan bahwa perhatian terhadap mereka tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Salah satu upaya nyata yang disorot adalah keberadaan Rumah Terapi Bina Permata di Kecamatan Panggul. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi solusi agar keluarga tidak perlu jauh mencari layanan terapi bagi anak-anak mereka.
“Saya ingin memastikan rumah terapi ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat, agar anak-anak kita bisa mendapatkan layanan lebih dekat dan lebih mudah,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengajak pemerintah desa, kecamatan, hingga instansi terkait untuk lebih aktif hadir, mendata, dan merespons kebutuhan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Novita juga mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikologis, maupun kekerasan berbasis digital. “Kita harus memastikan tidak ada satu pun warga yang berjalan sendirian. Negara harus hadir, dan kita semua harus saling menjaga,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, bantuan sembako diserahkan kepada keluarga yang hadir. Nilainya mungkin sederhana, namun maknanya lebih dari sekadar materi—sebuah simbol bahwa kepedulian masih tumbuh dan terus dijaga.
“Bingkisan ini mungkin tidak seberapa, tetapi ini tanda kasih sayang bahwa kita adalah satu keluarga yang saling menguatkan,” pungkasnya. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










