Selasa
22 September 2026 | 10 : 01

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Musik Tongling dan Para Ksatria Perambah Belantara Gunung Lawu

pdip-jatim-magetan-diana-sasa-290421.b

MAGETAN – Tongling, akronim dari alat musik kentongan dan seruling.  Dalam hikayatnya, tongling dimainkan para ksatria untuk me-ninabobo-kan makhluk halus yang mengganggu mereka saat membabat hutan belantara untuk pemukiman yang kini dikenal dengan nama: Dusun Wonomulyo.

Dusun ini bagian dari Desa Genilangit Kecamatan Poncol. Berada di kaki Gunung Lawu, Wonomulyo kerap berselimut kabut.

Tongling, kedua alat musik ini terbuat dari bambu. Di daerah ini bambu memang tumbuh subur dan beranak pinak dalam rumpun. Sehingga untuk mendapatkan bahan tongling bisa didapat dengan mudah.

Kesenian musik Tongling di tempat ini, saat sekarang dibina oleh Diana Amaliya Verawatiningsih atau akrab disapa Diana Sasa, anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan. Hal itu seperti diakui oleh salah seorang pengurus kelompok musik Tongling Pringgowulung, Winarto.

Sebagai sebuah seni musik, tidak diketahui secara pasti sejak kapan kesenian musik tongling dimainkan. Hanya saja, menurut Winarto, pada 21 Januari 1992 ada 4 warga yang mendirikan kelompok musik. Mereka: Jono (almarhum), Sastro Sarengat, Supono dan Darsono. Kelompok musik itu yang kemudian menggunakan peralatan tongling sekaligus menjadikannya nama kelompok, yakni Tongling Pringgowulung.

Lanjut Winarto, ketika itu, salah seorang pendiri kelompok yakni Jono almarhum, terinspirasi dari sejarah babat Dusun Wonomulyo. Dimana tongling digunakan saat proses babat dusun.

Babat dusun dimulai saat ksatria dari Keraton Mataram Ki Hajar Wonokoso (leluhur dusun) bersama 7 pengikutnya datang ke hutan belantara di kaki gunung Lawu. Mereka bermaksud membabat hutan untuk pemukiman. Tetapi babat hutan bukan hal yang mudah.

“Sebelum menjadi pemukiman, Dusun Wonomulyo adalah hutan belantara. Hutan rimba yang dihuni banyak jin dan lelembut (makhluk halus),” ungkap Winarto Rabu (28/04/2021).

Namun, Ki Hajar Wonokoso tak gentar menghadapi semua halangan. Dikisahkan jika ia memiliki senjata berupa seruling sakti. Begitu seruling dimainkan sembari ngidung (berdendang), para mahkluk halus tersebut merasa nyaman dan tenang seperti di-ninabobo-kan.

Sementara kentongan, ditabuh Ki Hajar Wonokoso untuk mengumpulkan para pengikutnya dalam proses babat Dusun Wonomulyo tersebut.

Atas dasar cerita itu, Jono almarhum dan seniman lokal mengabadikan sejarah babat Dusun Wonomulyo dengan mengekspresikannya dalam bentuk kesenian musik tongling. Kini, musik tongling kerap ditampikan pada even di tingkat lokal bahkan nasional. (rud/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Festival Jaranan Trenggalek ke-30 Masuk KEN, DPRD Dorong Jaranan Makin Mendunia

TRENGGALEK – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 tahun 2026 menjadi momentum penting bagi pelestarian ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Soroti SiLPA Rp126,22 Miliar, Minta Realisasi APBD Kota Batu Diperbaiki

BATU — Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Batu menyoroti tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Zuhri Dorong Pemkot Surabaya Evaluasi dan Optimalkan Pengelolaan GBT

SURABAYA – Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengevaluasi ...
LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan Magetan Soroti Pengadaan Videotron dan Mobil Dinas PKK 

MAGETAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan menggelar sidang paripurna dengan agenda ...
KRONIK

Tinjau Mata Air Mandhung, Bupati Lukman: Air untuk Masa Depan Bangkalan

BANGKALAN – Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, mengatakan, sumber air bukan hanya persoalan ketersediaan air pada saat ...
KRONIK

Hj. Ansari PDIP Minta Pimpinan Komisi VIII DPR Serius Sikapi Masalah UINSA

JAKARTA – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, mendorong evaluasi total terhadap tata kelola Perguruan Tinggi ...