LUMAJANG – Zaenal Abidin, anggota DPRD Kabupaten Lumajang menggelar panggung seni di Caffe Rempah Deso, Sabtu (30/4/2022) malam. Kegiatan bertajuk Ngabuburit, #PolitikAsyik, dimulai sejak pukul 16.00, lalu buka puasa bersama, serta hiburan musik dan penampilan kesenian dan kebudayaan.
Meskipun sejak sore lokasi kegiatan diguyur hujan, namun tidak menyurutkan peserta dalam suksesnya acara tersebut. Terbukti, komunitas atau sanggar kesenian dari 6 kecamatan hadir menyemarakkan kegiatan tersebut. Selain itu, juga berdatangan pula masyarakat sekitar lokasi kegiatan untuk menyaksikan hiburan tersebut.
“Sejak sore diguyur hujan, tapi tidak mematahkan semangat kita semua guna terselenggaranya acara ini. Ada dari Kecamatan Tempeh, Kunir, Rowokangkung, Yosowilangun, Pasirian serta Kecamatan Lumajang,” ujar Zaenal, sapaan akrabnya.
Dalam kegiatan tersebut, Zaenal mengenalkan konsep bagaimana cara berpolitik yang asyik di kalangan pemuda. Mengingat, selama ini mereka mengenal bahwa politik memiliki banyak stigma negatif.
“Saya mencoba untuk memberikan nuansa baru cara berpolitik yang asyik. Milenial kini mengenal politik itu busuk, jahat, serem, gawat dan sebagainya. Padahal tidak seperti itu,” jelas politisi PDI Perjuangan itu.

Dalam kesempatan tersebut, Zaenal juga mengajak milenial yang hadir untuk terus mengawal dan berpartisipasi dalam setiap ajang pemilihan umum. Pasalnya, kata Zaenal, pemilihan umum akan menentukan suatu kebijakan dalam suatu daerah, baik pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, maupun pemilihan presiden.
“Segala keputusan yang menentukan adalah DPR, Bupati dan Wakil Bupati, Gubernur, bahkan Presiden. Jika salah memilih pemimpin, jangan salahkan jika nantinya tidak merawat dan menjaga kesenian atau kebudayaan yang ada di masing- masing daerah,” tambahnya.
Zaenal menyontohkan di Kabupaten Lumajang, bahwa 50 dari anggota DPRD Kabupaten Lumajang tidak semua mau dan bersilaturahmi dengan organisasi kesenian. Oleh karena itu, Zaenal berharap ke depan, milenial dapat menjatuhakn pilihan kepada pemimpin yang tepat dan memiliki integritas yang baik, seperti pada kader-kader PDI Perjuangan.
“Anak-anak muda jangan sampai anti politik, anti partai, ini akaj menjadi bahaya. Dengan demikian nantinya yang menjabat sebagai pemimpin bisa saja mengambil keputusan yang tidak memperdulikan kesenian dan kebudayaan,” terangnya.

Melalui kegiatan tersebur, Zaenal berharap kedepan dapat merangkul lebih banyak lagi generasi milenial yang tergabung dalam organisasi kesenian dan kebudayaan di Lumajang. Sehingga, aspirasi masyarakat terkait kesenian dan kebudayaan bisa diperjuangkan, paling tidak bisa merawat, menjaga, serta melestarikan bersama-sama.
“Terlebih nantinya ada feedback yang baik dari pemkab Lumajang, mendapatkan perhatian yang lebih,” tambahnya singkat.
Zaenal, yang juga anggota Komisi A itu menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga merupakan salah satu Tri Sakti Bung Karno, yakni berkepribadian dalam kebudayaan. Menurutnya, berkepribadian dalam kebudayaan adalah landasan fundamen untuk menciptakan kondisi masyarakat yang harmonis.
“Termasuk di dalamnya, bisa merangkul dan mewadahi para pelaku seni dan penghayat budaya lokal di Lumajang. Hal ini sebagai upaya nyata dari PDI Perjuangan dalam mewujudkan terciptanya tatanan masyarakat yang menghargai budaya asli nenek moyangnya,” tutupnya. (ndy/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS