Sabtu
26 September 2026 | 6 : 28

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Malam Ketika Para Penari Tayub Diwisuda, Merawat Warisan Leluhur Trenggalek

pdip jatim 260926 tayub nggalek 1

ALUNAN gamelan terdengar mengalun di tengah keheningan malam. Irama musik tradisional itu berpadu dengan gerak gemulai para penari, laki-laki dan perempuan, yang mengenakan busana khas.

Para penari perempuan tampil berkebaya dengan selendang yang melingkar di tubuh. Sementara para penari lainnya mengenakan seragam batik.

Malam itu bukan sekadar pertunjukan seni. Ada suasana berbeda yang terasa di Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.

Para penari yang tergabung dalam Paguyuban Seni Langen Tayub Sindu Budoyo tengah menjalani prosesi wisuda pelestari seni budaya tayub.

Layaknya seremoni kelulusan, puluhan penari mengikuti prosesi dengan penuh khidmat. Mereka tidak hanya dinyatakan telah menyelesaikan sebuah proses, tetapi juga mengikrarkan diri untuk terus menjaga kesenian tayub sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Trenggalek.

Lebih dari 25 penari mengikuti wisuda tersebut. Sebagian besar bahkan sudah berusia lanjut.

Namun usia bukan alasan untuk berhenti berkesenian.

Justru di usia senja, mereka masih memilih berada di tengah gamelan, menari, dan merawat tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi yang hadir dalam agenda tersebut mengatakan, tradisi semacam itu menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Trenggalek dengan budaya leluhur.

“Inilah ciri khasnya Trenggalek. Warganya masih memegang teguh tradisi leluhur. Salah satunya ini, seni tayub. Seni ini sudah melegenda,” kata Doding, Jumat malam (25/9/2026).

Bagi para penari, malam wisuda tersebut menjadi penanda penting. Mereka secara resmi menyatakan diri sebagai bagian dari pelestari seni tayub.

Ikrar pun dibacakan di hadapan warga yang hadir.

Ada tanggung jawab budaya yang ikut disematkan bersama prosesi tersebut. Bukan hanya bisa menari, tetapi juga menjaga pakem dan nilai yang terkandung dalam kesenian tayub agar tidak hilang ditelan zaman.

“Sekali lagi, saya mengucapkan selamat atas wisuda para pelestari seni budaya tayub. Tetap pegang teguh pakem dan jangan sampai hilang di tengah impitan teknologi zaman yang terus berkembang,” pesan Doding.

Tayub dan Cerita Leluhur

Di tengah masyarakat, tayub memang memiliki cerita yang panjang.

Kesenian ini tidak sekadar dikenal sebagai seni pertunjukan. Bagi masyarakat Mataraman, tayub juga berkaitan dengan tradisi syukuran dan kehidupan agraris.

Doding menuturkan, berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, tayub merupakan kesenian yang diwariskan para pendahulu dan pernah digunakan dalam berbagai kegiatan syukuran setelah panen.

Di balik gerak tari dan iringan gamelan, tersimpan harapan agar hasil pertanian berikutnya kembali melimpah.

Sosok penari perempuan atau ledek juga memiliki kisah tersendiri. Dalam cerita yang berkembang, ledek dikaitkan dengan sosok Dewi Sri yang dikenal dalam tradisi masyarakat agraris sebagai simbol kesuburan.

Sementara itu, terdapat pula kisah Dewo Kolo yang ingin mendekati Dewi Sri. Namun keinginannya ditolak sehingga kemudian diajak menari.

Cerita-cerita semacam itu menjadi bagian dari kekayaan narasi yang hidup di tengah masyarakat dan ikut menyertai perjalanan kesenian tayub dari generasi ke generasi.

Tetap Hidup di Tengah Pandangan Miring

Perjalanan tayub tentu tidak selalu mulus.

Kesenian tersebut masih menghadapi pandangan miring dari sebagian masyarakat. Tayub terkadang dilekatkan dengan pertunjukan tari dan minuman keras.

Doding menilai pandangan semacam itu tidak semestinya membuat masyarakat meninggalkan kesenian yang telah menjadi bagian dari sejarah budaya daerah.

“Banyak anggapan memang, identik dengan menari dan minuman keras. Tetapi sebenarnya ada makna mulia di balik kesenian tayub ini,” ujarnya.

Justru melalui pelestarian dan pemahaman terhadap sejarah serta pakemnya, masyarakat dapat melihat tayub dari sisi budaya yang lebih utuh.

Para penari yang malam itu diwisuda menjadi salah satu buktinya.

Mayoritas memang sudah lanjut usia. Tetapi mereka masih memiliki kemauan untuk belajar, tampil, sekaligus mewariskan kesenian tersebut.

Mereka seperti sedang mengatakan bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara besar.

Kadang cukup dengan tetap berlatih.

Tetap menari.

Tetap memainkan gamelan.

Dan memastikan generasi berikutnya masih mengenal kesenian yang diwariskan para leluhurnya.

Bukan Hanya Tayub

Doding berharap masyarakat Trenggalek tidak melupakan kesenian tradisional yang menjadi identitas daerah.

Tayub hanya salah satu bagian dari kekayaan budaya Trenggalek.

Ada pula jaranan dengan beragam bentuk dan karakter, seperti Turangga Yaksa, Pegon, Senterewe dan berbagai kesenian tradisional lainnya.

Menurutnya, kekayaan tersebut harus dirawat bersama. Sebab ketika sebuah kesenian kehilangan generasi penerus, yang hilang bukan hanya sebuah pertunjukan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat.

“Ini kekayaan budaya Trenggalek. Harus tetap dijaga,” pungkas pria yang juga Sekretaris DPC PDIP Trenggalek itu.

Malam semakin larut di Desa Duren.

Namun gamelan belum benar-benar kehilangan gaungnya.

Para penari yang baru saja diwisuda telah membawa satu tanggung jawab baru: memastikan tayub tetap hidup.

Di tengah derasnya teknologi dan perubahan zaman, mereka memilih tetap memegang selendang, mengikuti irama gamelan, dan menjaga warisan leluhur agar tidak berhenti hanya sebagai cerita masa lalu. (abdul aziz/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

MILANGKORI

Malam Ketika Para Penari Tayub Diwisuda, Merawat Warisan Leluhur Trenggalek

ALUNAN gamelan terdengar mengalun di tengah keheningan malam. Irama musik tradisional itu berpadu dengan gerak ...
OLAHRAGA

Pemkot Surabaya Siapkan Fasilitas Olahraga Gratis untuk Putaran Nasional Piala Soeratin

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan sejumlah fasilitas olahraga milik pemerintah kota untuk ...
KRONIK

Bukan Cuma Soal Trofi, Bupati Lukman Sebut PORSADIN Jadi Ajang Level Up Karakter Santri Bangkalan

BANGKALAN – Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, mengingatkan para santri diniyah untuk menjaga kepercayaan dan tanggung ...
KRONIK

E-PAD dan SIMPLING Masuk Nominasi JAWARA 2026, Bupati Ipuk: Kami Kembangkan Sesuai Kebutuhan Masyarakat

BANYUWANGI – Dua inovasi Banyuwangi, E-PAD dan SIMPLING (Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Laboratorium ...
KABAR CABANG

DPC Ngawi Cek Rutin Kesehatan Pengurus, Agar Tetap Bugar Dampingi Rakyat

NGAWI – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi menggelar pemeriksaan kesehatan bagi pengurus partai di Kantor ...
LEGISLATIF

Anas Karno: Layanan Online dan Kehadiran ASN di Balai RW Harus Berjalan Bersamaan

SURABAYA – Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya Anas Karno menegaskan seluruh upaya untuk memberikan pelayanan ...