oleh

Komunitas Binaan Sonny Danaparamita Bedah Buku “Hari-hari Terakhir Soekarno” dan Berbagi Sembako di 10 Desa

-Kronik-93 kali dibaca

SITUBONDO – Semangat menyemarakkan Bulan Bung Karno Juni 2022 terus digelorakan Se-Tretanan Dhibik Situbondo (STD),  komunitas binaan Anggota DPR RI Sonny Danaparamita .

Pada pekan terakhir bulan ini, tepatnya Jumat (24/6/2022), para relawan STD menggelar dua kegiatan sekaligus. Yakni diskusi dan bedah buku berjudul Hari-hari Terakhir Soekarno, serta berbagi sembago untuk warga tidak mampu di sejumlah desa.

Diskusi dan bedah buku sebagai upaya kaderisasi yang dilakukan Sonny kepada anak-anak muda anggota STD maupun milenial di Situbondo.

Tujuannya untuk menambah wawasan terkait pemikiran dan sosok Pendiri Bangsa, Soekarno. Diskusi menghadirkan narasumber Nyoman Dharma.

Ia menyampaikan, bedah buku setidaknya untuk memberikan pencerahan bagaimana ketabahan Sukarno pada akhir masa hidupnya yang tetap menggelorakan persatuan. Meski, mendapatkan pelayanan atau perawatan kesehatan yang tidak setimpal dari pemerintah ketika itu.

“Menyedihkan. Dan hingga saat ini,  mengutip ungkapan Ramadhan KH, walaupun bintang sudah tiada, cahayanya masih tetap gemerlapan,” ujar Nyoman Dharma.

Usai acara diskusi buku, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian sembako untuk warga tidak mampu. Acara bertajuk safari sosial dilaksanakan di sepuluh desa. Yakni Desa Kilensari, Peleyan, Wringin Anom, Alasmalang, Kukusan kendit, Kotakan, Mimbaan, Arjasa dan Agel.

Terkait dua acara tersebut, Sonny T Danaparamita mengungkapkan, pihaknya sengaja membuat banyak kegiatan khususnya pada hal-hal yang berdampak langsung kepada masyarakat.

“Sebab dengan begitu esensi dari perayaan Bulan Bung Karno dapat benar-benar terasa,” katanya.

Ia pun mengapresiasi semangat dari relawan STD Situbondo yang terus bergerak dengan turun langsung ke masyarakat. Sonny berharap, kegiatan sosial yang orientasinya membantu masyarakat dapat terus konsisten dilalukan oleh STD Situbondo, terutama untuk masyarakat yang ada di desa.

“Sebab desa harus dijadikan pusat pendidikan politik terkait ide, gagasan, cita-cita dan perjuangan Bung Karno. Selain sebagai pusat pendidikan politik, desa juga merupakan pusat pengorganisasian rakyat,” katanya.

Namun, Sonny mewanti-wanti,  pelaksanakan kegiatan sosial tidak hanya sekadar membagikan sembako, tetapi juga memberikan edukasi.(isa/hs)