oleh

Ketua DPC Surabaya: Silaturahim Virtual Tak Surutkan Makna Persaudaraan

-Kabar Cabang-34 kali dibaca

SURABAYA – Jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1442 Hijriah, kepada seluruh umat muslim yang merayakan, khususnya di Kota Pahlawan.

Mendukung anjuran pemerintah, PDIP Surabaya juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan silaturahim secara virtual, demi meminimalisasi kerumunan di masa pandemi Covid-19.

”Kami keluarga besar PDI Perjuangan Kota Surabaya mengucapkan: selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah, yang jatuh pada Kamis 13 Mei 2021. Selamat berbahagia merayakan hari kemenangan, setelah satu bulan berpuasa. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin,” ucap Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono, Rabu (12/5/2021).

“Kita merayakan Lebaran dengan tetap disiplin pada protokol kesehatan: memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak satu sama lain, atau menghindari kerumunan. Kita perkuat silaturahmi, dengan halalbihalal secara virtual yang tidak akan menyurutkan makna persaudaraan di antara kita semua. Semoga kita selamat dari Covid-19, diberikan kesehatan dan keberkahan,” tambah politisi yang juga Ketua DPRD Kota Surabaya ini.

Dia optimistis, dengan gotong royong semua pihak, Surabaya dan Indonesia bisa melewati masa pandemi dengan baik.

“Momentum Idul Fitri mengajak kita semua untuk berefleksi, kembali ke dalam kesucian hati, diiringi harapan agar ke depan kita bisa bersama-sama lebih konsisten dalam menjalankan kebaikan kepada sesama,” ujar mantan wartawan yang akrab disapa Awi ini. 

Adi mengatakan, Lebaran 2021 adalah Lebaran kedua yang harus dilewati dalam suasana pandemi Covid-19. Kedekatan personal dengan saling berjabat tangan atau berkunjung ke rumah tetangga serta sanak-saudara, tambah dia, seyogianya tidak dilakukan.

Menurutnya, semua ini demi keselamatan bersama agar Indonesia tidak mengalami lonjakan kasus Covid-19 sebagaimana terjadi di India, Malaysia, Brazil, dan Uni Eropa akibat mulai lengah dalam menerapkan protokol kesehatan.

”Di India dan banyak negara lain terjadi lonjakan kasus karena kerumunan, menjadi super spreader alias penyebar Covid-19 yang sangat hebat. Kita harus belajar. Sehingga kita dukung pemerintah untuk sementara meniadakan mudik, yang tentu kemudian silaturahim dan tradisi saling berkunjung bisa kita lakukan secara daring,” bebernya.

Saat ini, sebut Awi, tren kasus Covid-19 di Surabaya semakin menurun. Per 10 Mei, tinggal 108 kasus aktif.

Tingkat keterisian tempat tidur di rumah atau bed occupancy ratio (BOR) di Kota Pahlawan juga masih jauh di bawah ketentuan maksimal WHO, yaitu sebesar 60 persen. ”Mari tren yang baik ini kita jaga agar tidak ada lonjakan kasus,” ajak Adi.

Dia pun mengapresiasi Pemkot Surabaya yang meniadakan open house di kediaman wali kota yang biasanya digelar saat Lebaran.

”Saya lihat Pemkot Surabaya akan menggelar halalbihalal secara virtual, disiarkan di media sosial. Itu adalah sesuatu yang baik, dan menjadi contoh bahwa meskipun silaturahim virtual tetap tidak mengurangi maknanya,” sebutnya. (goek)