SURABAYA – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mendesak pemerintah pusat memperkuat kebijakan pengembangan desa wisata berbasis ekonomi kreatif. Ia menilai kampung-kampung tematik di Surabaya, khususnya Kampung Batik Okra, memiliki kapasitas menjadi model nasional pemberdayaan ekonomi rakyat.
Pernyataan itu disampaikan Novita saat kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Kampung Batik Okra, Selasa (10/2/2026). Menurutnya, kampung tematik tidak boleh hanya dipoles sebagai destinasi visual, tetapi harus diperkuat sebagai ekosistem ekonomi yang memberi dampak langsung bagi warga.
“Saya melihat peluang ekonomi yang nyata dan berdampak langsung. Ini bukan sekadar kampung cantik, tetapi ekosistem ekonomi rakyat yang harus diperkuat kebijakannya,” tegas Novita, dalam keterangannya kepada media, Rabu (11/2/2026).
Ia menyoroti aktivitas ekonomi warga yang tumbuh secara organik. Di Kampung Batik Okra, selain membatik, berkembang pula UMKM kopi dan kuliner yang dikelola masyarakat setempat.
Novita menilai, desa wisata yang lahir dari inisiatif warga akan menciptakan manfaat jangka panjang sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Karena itu, dukungan lintas sektor, khususnya dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dinilai menjadi kunci.

“Desa wisata harus dinilai dari pengalaman autentik yang ditawarkan, seperti belajar membatik dan mengenal produk UMKM lokal. Ini kekuatan budaya yang bisa dibawa ke panggung global,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, daya tarik Kampung Batik Okra di Jalan Kranggan VII, Bubutan itu telah melampaui pasar lokal. Pengunjung datang dari berbagai daerah hingga mancanegara.
“Mayoritas pengunjung dari kampus dan sekolah di Jakarta. Bahkan ada wisatawan asing yang datang khusus untuk membatik dan membeli produk lokal,” ungkap politisi PDI Perjuangan tersebut.
Sementara itu, pendiri Kampung Batik Okra, Ridi Sulaksono, menegaskan pengembangan kampung batik ini berangkat dari semangat pelestarian budaya. “Kami fokus pada pelestarian budaya batik di skala RW. Soal omzet bukan prioritas utama, meski ke depan bisa diarahkan pada penguatan industri,” ujarnya.
Ridi menambahkan, produk Kampung Batik Okra kini telah beredar di berbagai daerah dan menembus pasar internasional. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki daya saing global apabila dikelola secara konsisten dan mendapat dukungan kebijakan yang tepat. (nia/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










