oleh

Jika Anda Bercita-Cita Meraih Nobel Sastra, Berlarilah!

-Ruang Merah-63 kali dibaca

Bagi sebagian besar orang yang menulis sastra, memimpikan mendapatkan Nobel Sastra adalah hal yang niscaya. Sebab Nobel Sastra dianggap sebagai puncak tertinggi dari pencapaian sastrawan. Bukan saja karena hadiahnya yang sangat besar (pemenang menerima medali emas 18 karat serta hadiah uang yang meningkat dari sekitar US$1 juta pada tahun 2020 menjadi US$1,1 juta (Rp 155,6 miliar) tahun 2021), juga penerima Nobel Sastra mendapatkan gelar yang bergengsi dan memungkinkan mendongkrak penjualan karya-karyanya.

Barangkali, mungkin hanya Jean Paul Sartre, yang tak sudi dirinya dilabeli peraih nobel. Sastrawan sekaligus filsuf Perancis itu terpilih sebagai pemenang Nobel Sastra 1964. Tapi dia dengan tegas menolak hadiah tersebut. Pasalnya, ia tidak menulis untuk mendapatkan nobel dan tak ingin karyanya dibaca karena ia meraih nobel. Sebab hal itu membuat pembaca karya-karyanya jadi terbebani.

“Jika aku disebut ‘Jean-Paul Sastre’ saja,” katanya, “itu akan berbeda dengan ketika aku disebut ‘Jean-Paul Sastre Peraih Nobel Sastra.” Selain pertimbangan pribadi itu, ia juga menyuguhkan pertimbangan politis. Menurut Sartre, panitia Nobel sering berlaku tidak adil kepada penulis-penulis dari Blok Timur. Alasan politis dan ideologis ini mencerminkan keberpihakan, atau setidaknya simpati Sartre kepada komunisme yang memang tidak pernah ia sembunyikan. (baca: “Mereka yang Menolak Nobel”, https://tirto.id/cv26)

Ya. keputusan Sartre menolak Nobel Sastra memang sebuah anomali. Tak banyak sastrawan yang bersikap seperti Sartre. Kebanyakan sastrawan selalu memimpikan dirinya suatu saat diundang ke Swedia sebagai penerima Nobel Sastra.

Karena itu, jika Anda mempunyai cita-cita ingin mendapatkan nobel sastra, maka berlarilah mulai sekarang. Sejauh yang Anda bisa. Secepat yang Anda mampu. Yang penting berlari. Bahkan meski Anda tidak menyukai lari. Tak peduli usia Anda masih teramat muda atau sudah mulai menjelang senja. Berlari baik untuk jantung dan paru-paru Anda.

Setelah itu Anda boleh melakukan hal lain, seperti bela diri atau calestenic. Syukur-syukur aktivitas itu bisa Anda tulis seperti Haruki Murakami menulis aktivitas berlarinya dalam buku What I Talk About When I Talk About Running. Anda bisa bikin buku sejenis, misalnya, What I Talk About When I Talk About Martial Art. Juga mulailah menjaga pola hidup sehat. Makan makanan bergizi, empat sehat lima sempurna. Kurangi alkohol dan merokok, perbanyak bercinta. Jangan suka bergadang. Tidur terlalu malam tidak baik untuk kesehatan. Usahakan tidur minimal 8 jam sehari. Setelah itu perbaiki spiritualitas Anda. Rajinlah beribadah. Berdoa pada Tuhan agar diberi umur panjang.

Jika Anda kaya dan punya banyak sekali harta, rajinlah menabung dan jangan suka menghambur-hamburkan uang. Belilah barang-barang yang berguna untuk kesehatan Anda. Kalau memungkinkan belilah peralatan medis Anda sendiri. Bangun rumah sakit Anda sendiri. Bayarlah dokter-dokter terbaik untuk menjaga Anda. Kalau benar-benar sangat memungkinkan Anda bisa membuat laboratorium bionic Anda sendiri, yang memungkinkan Anda bisa hidup abadi. Tegasnya tetap bernyawa meski separuh tubuh Anda telah berganti mesin.

Semua itu penting Anda lakukan sebab Nobel Sastra tidak diberikan pada seonggok mayat. Sebaik apa pun karya Anda, jika Anda terlalu cepat mati, panitia Nobel Sastra secara otomatis mencoret nama Anda dari daftar seleksi. Jadi, bertahanlah. Bertahanlah semampu yang Anda bisa.

Meski tidak ada batasan usia untuk pemenang nobel, namun sangat tipis kemungkinan untuk dapat nobel di usia muda. Karena setiap sastrawan perlu waktu untuk berkembang. Menulis sastra merupakan proses seumur hidup, hingga mencapai tingkat keunggulan maksimal. Beberapa sastrawan jenius mungkin bisa mencapai tingkat keunggulan maksimal, tapi seringkali nobel tidak meliriknya. Atau mungkin sastrawan jenius itu mati muda.

Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti Denny JA. Menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengerek buku “Atas Nama Cinta”. Sebuah kumpulan puisi biasa saja, cenderung medioker, namun disebutnya sebagai genre baru sastra Indonesia bernama “Puisi Esai”. Dan didaftarkan sebagai calon nominasi Nobel Sastra. Padahal amat sangat jarang pemenang Nobel Sastra, atau bahkan tidak ada, yang baru menerbitkan satu buku lantas beberapa tahun kemudian mendapat nobel.

Sebagaimana keterangan Panitia Nobel dalam situs resminya yang dijelaskan sebagai berikut: “Anda dapat memenangkan Hadiah Nobel jika Anda menghabiskan hidup Anda dengan membaca dan menulis karya yang luar biasa dan benar-benar mendedikasikan hidup Anda untuk menulis dan menjadi penulis yang sangat baik.”

Pertanyaannya apakah Denny JA sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk itu? Saya rasa tidak. Dia hanya menghabiskan uangnya untuk mula-mula membikin buku puisi esai “Atas Nama Cinta”, kemudian menghabiskan uang yang lain lagi untuk mensponsori proyek buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, lalu menghamburkan uangnya yang lain lagi untuk proyek lomba puisi esai tingkat nasional yang digelar di 34 propinsi di seluruh Indonesia. Dan masih dengan puisi esai yang itu-itu juga ia mencoba mengelabui publik dengan pers rilis yang disebarkan ke media-media online, seolah-olah telah jadi nominator Nobel Sastra.

Kalau hanya begitu saja pola yang dilakukannya untuk mengerek puisi esai dan namanya sendiri, kita tahu bahwa nobel masih teramat jauh dari hidupnya. Jadi, janganlah ditiru cara-cara semacam itu, jika Anda ingin mendapatkan Nobel Sastra. Selain pemborosan, juga kerap berakhir dengan olok-olok yang bisa membuat kepala pening, insomnia, dan darah tinggi. Ingat, sayangi kesehatan Anda. Umur yang panjang adalah salah satu jaminan Anda mendapatkan Nobel Sastra.

Sebaiknya, uang Anda yang banyak itu, selain dihabiskan untuk segala hal yang sudah saya sebutkan di muka, Anda gunakan juga untuk membuat laboratorium sastra Anda sendiri. Sastra juga adalah sains, sebagaimana fisika dan kimia. Sebagaimana sains umumnya, maka untuk membuat inovasi-inovasi baru, penemuan-penemuan baru dalam sastra, laboratorium sastra adalah hal yang niscaya. Anda bisa berkolaborasi dengan sastrawan-sastrawan dari dalam atau luar negeri yang mumpuni untuk mengembangkan laboratorium sastra Anda sendiri dan mulai melakukan ekseperimen Anda sendiri. Jika seandainya apa yang Anda hasilkan dari laboratorium sastra itu akhirnya tidak juga mendapatkan nobel, setidaknya Anda telah menciptakan sesuatu yang luar biasa, yang sangat berguna untuk generasi berikutnya. Hasrat yang besar baik dalam sastra maupun dalam kehidupan menentukan hasil akhir dari karya sastra Anda.

Jika semua itu kelihatan sulit bagi Anda, terlalu rumit dan memikirkannya saja membuat Anda menderita mual, muntah, dan mengalami gejala masuk angin atau serangan jantung, sementara keinginan Anda untuk populer dan terkenal di jalan pena begitu meletup-letup seperti popcorn di atas penggorengan, jangan bersedih. Anda bisa menyeberang jalan, ke jalur yang lebih mudah dan mungkin punya sedikit hambatan: menulis buku populer, cerita-cerita populer. Seperti “Cara Cepat Beternak Kepiting Merah” atau bikinlah novel “Laskar Penyanyi” sebuah cerita pop semiotobiografi yang berisi suka duka menjadi Indonesian Idol, misalnya. Naskah-naskah populer lebih menjanjikan Anda untuk hidup mapan dari menulis, daripada Anda masuk ke rimba sastra yang berbahaya dan tak sedikit meminta korban nyawa hanya demi bertaruh untuk menghasilkan karya besar.

Hidup ini pilihan. Tapi kalau Anda punya kesempatan memilih dari segala hal yang saya ceritakan di muka, ada baiknya Anda tidak memilih jalan hidup seperti yang dilakukan Denny JA. Terlalu mengerikan untuk diteladani apalagi dijadikan pedoman. Ya, kecuali Anda memang berbakat jadi politikus profesional dan mengincar kursi jabatan tertentu seperti komisaris BUMN. Tapi kalau Anda berminat menjadi sastrawan sejati, yang tidak mementingkan penghargaan apa pun, hanya mementingkan capaian kualitas dari karya sastra Anda, apa yang dilakukan Sartre bisa dijadikan pedoman. (*)