oleh

Jejak Perjuangan Bung Karno di Pengasingan Pulau Bangka (6-Habis)

Benda Sejarah dan Dokumentasi yang Tak Utuh Lagi

pdip-jatim-jejak-BK-061Kisah perjuangan tokoh bangsa terancam tinggal cerita. Bukti-bukti otentik benda dan dokumentasi sejarah di Wisma Ranggam dan Pesanggrahan Menumbing satu per satu raib. Diperlukan keseriusan pemerintah dan banyak pihak untuk pelestarian cagar budaya.

EDDY Rasidi (56 tahun) mengusap kepalanya. Nafasnya ditarik dalam-dalam. “Saya tidak tahu mesti minta tolong siapa lagi untuk memelihara wisma ini,” keluh Juru Pelihara Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam ini.

Berdasarkan pantauan reporter www.pdiperjuangan-jatim.com terhadap aset bersejarah Wisma Ranggam di Jl Panglima Sudirman Kecamatan Muntok, Bangka Barat, Minggu (2/5/2016) sore, kondisi rumah pembuangan Bung Karno dkk semasa agresi Belanda ke II ini memang memprihatinkan.

Pagar di samping kiri dan kanan bangunan induk tampak berkarat di sana sini. Begitu pula kondisi atap bangunan. Di bagian depan tampak talang air lepas dari tempatnya. Menggantung begitu saja seperti meminta tolong pengunjung.

Di bagian dalam, tepatnya ruang tengah, nampak retakan dan lobang-lobang ukuran kecil menghias langit-langit. Kondisi juga terlihat di kamar tidur Bung Karno. Begitu pula di kamar bagian depan yang menjadi kamar dari H Agus Salim dan Mohammad Roem. “Kalau hujan ya bocor,” ungkap Eddy Rasidi.

Tak kalah memprihatinkan adalah keberadaan benda-benda bersejarah, dokumentasi, maupun arsip. Pahatan puisi Bung Hatta di lempengan tembaga yang dulunya ada di tugu wisma ini hilang dari tempatnya.

Perabot tiruan yang dibuat mirip seperti perabot aslinya semacam meja, kursi, lemari, dan tempat tidur, kondisinya juga kurang sedap dipandang. Begitu pula dengan barang seperti tas koper, lampu, dan mesin ketik milik Bung Karno.

pdip-jatim-jejak-BK-062“Ini sudah nggak asli semua. Mesin ketik ini saja saya beli dengan uang sendiri dan saya taruh di sini. Ya seperti ini kondisinya,” ungkap Eddy Rasidi.

Di tempat ini juga tidak ditemukan semacam katalog atau arsip yang bisa menuntun pengunjung untuk memahami secara utuh jejak perjuangan Bung Karno dan para tokoh bangsa di masa lalu.

(Baca: Jejak Perjuangan Bung Karno di Pengasingan Pulau Bangka-5)

Beruntung Eddy Rasidi dan istrinya, Latifah, masih bertahan di tempat ini. Sejak tahun 2000 Eddy dan Latifah dipercaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi menjadi juru pelihara Wisma Ranggam. Berstatus pegawai honorer, Eddy menerima satu juta rupiah saban bulannya. Itu pun belakangan waktu ini.

“Dulu cuma Rp 100 ribu. Sebelum itu, tahun 1999, malah 9 bulan tidak dibayar sepeserpun. Tapi tak apa. Saya lakukan karena cinta negeri ini,” ungkap Eddy Rasidi.

Berbekal uang honor yang terbilang pas-pasan Eddy Rasidi “menghias” wisma dengan menambahi sejumlah buku-buku  sejarah. Itu pun ala kadarnya. Termasuk memajang foto atau guntingan koran yang memuat para tokoh atau artis yang pernah berkunjung. “Saya lakukan semampu saya,” katanya.

Sementara kondisi Pesanggrahan Menumbing terlihat jauh lebih terawat. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pariwisata Kabupaten Bangka Barat menempatkan sejumlah pegawainya untuk menjaga dan membersihkan tempat ini secara rutin.

Namun, seperti halnya di Wisma Ranggam, benda bersejarah yang ada sebagian besar adalah tiruan. Dari Perabot hingga peci Bung Karno. Di tempat ini juga tidak ada katalog sebagai pembimbing bagi pengunjung memasuki “lorong” waktu lampau.

“(Katalog) Biasanya ada. Ini kebetulan lagi habis,” dalih Joko, pegawai UPTD yang berjaga pada saat reporter media ini ke tempat tersebut, Minggu (2/5/2016) siang.

pdip-jatim-jejak-BK-063Selain benda bersejarah yang mulai menipis jumlahnya, demikian pula dokumentasi foto. Satu persatu mulai terselip tak tentu rimba. Salah seorang saksi hidup yang pernah berinteraksi langsung dengan Bung Karno, RA Indrawati (83 tahun), mengatakan, dulunya ia punya banyak koleksi foto sejarah Bung Karno dkk. Suaminya, almarhum Abdullah Jamaluddin terbilang rajin merawat foto-foto tersebut. Termasuk membubuhkan catatan peristiwa yang terjadi dari foto-foto yang ada.

Namun foto koleksi milik keluarga RA Indrawati menyusut jumlahnya. Belakangan waktu, seseorang mengaku pegawai pemerintah meminjam sejumlah foto untuk digandakan dan dibuat arsip. Pihak keluarga pun percaya dan menyerahkan sejumlah foto begitu saja. Namun, foto-foto itu tak pernah kembali ke rumah. “Tak ada kembali. Mudah-mudahan digunakan untuk semestinya,” kata RA Indrawati.

Lebih tragis lagi dokumentasi foto milik keluarga Hasan Ali. Tiga album foto Muntok tempo dulu, termasuk bukti keberadaan Bung Karno singgah di rumah tokoh masyarakat Bangka itu hilang tak jelas jluntrungannya seiring lepasnya rumah Hasan Ali ke pihak ketiga. Rumah panggung berbahan kayu milik Hasan Ali pun sudah berganti rupa sejak dilepas ke pihak lain tahun 1994 silam.

Elly Sumarni (54 tahun), salah seorang cucu Hasan Ali khawatir, kelak saat anak cucunya bercerita jika Bung Karno pernah singgah di rumah kakek buyutnya (Hasan Ali) pasti akan dibilang omong kosong. Sebab hampir seluruh bukti dokumentasi nyaris sudah tidak ada lagi. “Sesak rasanya mengingat ini,” kata Elly Sumarni.

Berdasarkan kenyataan yang ada, dibutuhkan keseriusan dari pemerintah dan banyak pihak untuk bersama-sama melestarikan cagar budaya seperti harapan disampaikan Eddy Rasidi. “Semua pihak harus terlibat. Kalau enggak, sejarah bisa terputus,” pungkasnya. (hs)