oleh

Jejak Perjuangan Bung Karno di Pengasingan Pulau Bangka (1)

pdip-jatim-jejak-bung-karno-01SELAMAT datang bulan Bung Karno, Juni 2016. Bulan dimana Bung Karno dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901 di Kampung Pandean, Surabaya. Juga bulan dimana Presiden pertama RI itu dipanggil menghadap Tuhan pada 21 Juni 1970 di Jakarta dan dimakamkan di Blitar.

Sekaligus bulan dimana sang Proklamator Kemerdekaan RI itu mengemukakan pokok-pokok pikirannya tentang dasar-dasar negara yang kini dikenal sebagai Pancasila. Lima sila dasar negara disampaikan Bung Karno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945.

Untuk mengisi dan meresapi nilai-nilai kebangsaan bulan Bung Karno, redaksi menurunkan reportase situs-situs bersejarah tempat pengasingan Bung Karno, Bung Hatta dan sejumlah tokoh bangsa di Pulau Bangka pada 1948-1949.

Heru Setyanto dari www.pdiperjuangan-jatim.com, beberapa waktu lalu melakukan peliputan langsung di dua temat pengasingan Bung Karno dkk, yakni di Pesanggrahan Menumbing di Bukit Menumbing dan Wisma Ranggam Kota Muntok. Kedua tempat berada di Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

pdip-jatim-jejak-bung-karno-02Banyak hal didapat dari peliputan yang dilakukan tanggal 1 sampai 3 Mei 2016. Dari sejumlah dokumen yang berada di dua tempat pengasingan itu dapat digambarkan bagaimana Bung Karno, Bung Hatta, dan para tokoh bangsa mempertahankan kemerdekaan RI. Seperti diketahui, waktu itu adalah masa agresi Belanda yang kedua. Kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan empat tahun sebelumnya, 1945, berusaha direnggut kembali.

Tim peliputan juga mewawancarai sejumlah saksi mata. Pelaku sejarah yang terlibat dan berinteraksi langsung dengan Bung Karno ketika itu. Dari wawancara yang dilakukan didapat keterangan bagaimana Bung Karno sebagai Presiden RI ke-I, sebagai tokoh bangsa, namun menjadi tahanan politik menjalani kesehariannya di tanah pengasingan.

Bagaimana pula dalam situai yang penuh pengawasan dari mata-mata Belanda, Bung Karno dkk tetap berkonsolidasi. Terus bersentuhan dan menggalang kekuatan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Bagaimana juga dalam situasi dan kondisi seperti itu strategi dan taktik terus dijalankan untuk mengobarkan dan mengabarkan kemerdekaan ke dunia internasional.

Mempertahankan kemerdekaan dilakukan Bung Karno dkk di Pulau Bangka sejatinya adalah mempertahankan nilai-nilai Pancasila. Mempertahankan filosofi, dasar, dan komitmen berbangsa dan bernegara. Ini seperti ditegaskan oleh Bung Hatta dalam puisinya yang ditulis di tempat pengasingan sebagai berikut:

Di bawah gemerlap sinar terang cuaca

Kenang-kenang membawa kemenangan

Bangka, Djokjakarta, Djakarta

Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. 

(*)

rekening gotong royong