Sabtu
01 Agustus 2026 | 9 : 27

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Jadi Muslim Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia

PDIP-Jatim-Dr.-Sholikh-24082025

oleh Dr. Sholikh Al Huda

BUNG KARNO pernah berpesan, “Janganlah kita menjadi orang Islam di Indonesia, Kristen di Indonesia, atau Hindu di Indonesia. Jadilah orang Islam Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia.” Pesan ini terasa sederhana, tapi sesungguhnya adalah penangkal paling ampuh terhadap polarisasi politik identitas yang makin marak hari ini. Agama harus membumi di tanah air, bukan sekadar jadi tempelan simbol dalam perebutan kekuasaan.

Nasionalisme yang Basah

Dalam Dibawah Bendera Revolusi, Bung Karno menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme kosong, melainkan nasionalisme yang “dibasahi oleh jiwa agama.” Artinya, agama memberi ruh pada nasionalisme, tapi jangan sampai agama dijadikan alasan untuk memecah belah bangsa.

Bung Karno paham betul, Indonesia ini rumah bersama. Kalau umat Islam hanya sibuk jadi “orang Islam di Indonesia”, atau umat Kristen jadi “orang Kristen di Indonesia”, bangsa ini akan terbelah. Tapi kalau kita sama-sama menjadi “orang Indonesia yang beragama”, persatuan akan lebih kokoh.

Agama yang Membumi

Islam Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia – semua punya warna khas yang lahir dari sejarah panjang Nusantara. Islam yang akrab dengan wayang dan pesantren, Kristen yang menyatu dengan budaya lokal, Hindu yang bertransformasi di Bali.

Inilah agama-agama yang membumi, yang berakar di tanah air, bukan sekadar impor dari luar. Bung Karno mengingatkan, kalau beragama hanya meniru bentuk luar, kita bisa kehilangan jiwa bangsa. Islam yang keras meniru Timur Tengah, atau Kristen yang kaku meniru Barat, tak akan cocok dengan realitas sosial kita.

Relevansi Era Kekinian

Delapan puluh tahun setelah proklamasi, pesan Bung Karno tetap segar. Kita masih melihat politik identitas dipakai untuk merebut suara. Umat dipecah-pecah: Muslim dipisahkan dari Kristen, minoritas dipertentangkan dengan mayoritas.

Padahal, kata Bung Karno, tugas kita justru sebaliknya: merangkul semua. Seorang Muslim Indonesia bukan cuma taat salat, tapi juga menjaga persatuan. Seorang Kristen Indonesia bukan sekadar pergi ke gereja, tapi juga ikut membangun bangsa. Seorang Hindu Indonesia bukan hanya sembahyang, tapi juga menghidupi nilai dharma dalam kehidupan sosial.

Beragama dan Berbangsa

Pesan Bung Karno mengajak kita keluar dari jebakan sempit: memilih antara agama atau bangsa. Ia ingin kita memadukan keduanya. Dengan begitu, nasionalisme tidak kering, agama pun tidak eksklusif.

Di era polarisasi dan radikalisme, seruan ini jadi penangkal ampuh. Menjadi Muslim Indonesia berarti mengamalkan Islam yang ramah, adil dan cinta tanah air. Menjadi Kristen Indonesia berarti iman tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk solidaritas sosial. Menjadi Hindu Indonesia berarti menjaga harmoni, bukan hanya ritual.

“Agama tanpa kebangsaan bisa memecah belah. Kebangsaan tanpa agama bisa kehilangan jiwa. Bung Karno ingin keduanya menyatu dalam diri kita,” seru Bung Karno. Seruan ini bukan sekadar kutipan sejarah, tapi panduan masa depan. Nasionalisme tanpa agama bisa gersang, agama tanpa nasionalisme bisa pecah belah. Maka, keduanya harus menyatu dalam tubuh bangsa.

Kalau Bung Karno masih hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Saudara-saudara, janganlah beragama seperti sedang numpang di Indonesia. Beragamalah dengan jiwa Indonesia. Jadilah Muslim Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia.”

Di situlah letak kebijaksanaan Bung Karno: membumikan agama dalam keindonesiaan, dan mengindonesiakan agama agar tetap relevan. Sebuah pesan yang tak lekang oleh zaman. (*)

*Dr. Sholikh Al Huda, Wakil Ketua BAMUSI Jawa Timur & Ketua Pusat Studi Islam dan Pancasila (PuSIP)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Deni Wicaksono: Infrastruktur Jadi Aspirasi Terbesar Warga Saat Reses di Dapil IX

TRENGGALEK – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur, Deni Wicaksono, memastikan akan mengawal aspirasi masyarakat ...
BERITA TERKINI

Erma Susanti Kawal Implementasi Perpres Perlindungan Pekerja Transportasi Online

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Erma Susanti minta implementasi Perpres Nomor 27 Tahun 2026 benar-benar ...
KRONIK

Bupati Fauzi Tinjau Bubidaya Lele dan Ayam Petelur, Pastikan Manfaat Program Pemberdayaan

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, meninjau budidaya ikan lele dan ayam petelur milik kelompok ...
KRONIK

Dugaan Pemerkosaan Dua Santriwati di Sidoarjo: BBHAR PDIP Jatim Mintakan Perlindungan dan Restitusi dari LPSK

SURABAYA – Badan Bantuan Hukum Advokasi Rakyat (BBHAR) DPD PDI Perjuangan Jawa Timur secara resmi mengajukan ...
EKSEKUTIF

Bupati Gresik Boyong 5 Penghargaan Harganas Jatim, Inovasi TPA Masmundari Jadi Andalan

GRESIK – Pemerintah Kabupaten Gresik meraih lima penghargaan dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ...
KABAR CABANG

Musran-Musranran se-Kecamatan Kalidawir Sukses Akomodasi 30 Persen Gen Z dan Perempuan

TULUNGAGUNG – Musyawarah Ranting dan Anak Ranting PDI Perjuangan se- Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, ...