oleh Dr. Sholikh Al Huda
BUNG KARNO pernah berpesan, “Janganlah kita menjadi orang Islam di Indonesia, Kristen di Indonesia, atau Hindu di Indonesia. Jadilah orang Islam Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia.” Pesan ini terasa sederhana, tapi sesungguhnya adalah penangkal paling ampuh terhadap polarisasi politik identitas yang makin marak hari ini. Agama harus membumi di tanah air, bukan sekadar jadi tempelan simbol dalam perebutan kekuasaan.
Nasionalisme yang Basah
Dalam Dibawah Bendera Revolusi, Bung Karno menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme kosong, melainkan nasionalisme yang “dibasahi oleh jiwa agama.” Artinya, agama memberi ruh pada nasionalisme, tapi jangan sampai agama dijadikan alasan untuk memecah belah bangsa.
Bung Karno paham betul, Indonesia ini rumah bersama. Kalau umat Islam hanya sibuk jadi “orang Islam di Indonesia”, atau umat Kristen jadi “orang Kristen di Indonesia”, bangsa ini akan terbelah. Tapi kalau kita sama-sama menjadi “orang Indonesia yang beragama”, persatuan akan lebih kokoh.
Agama yang Membumi
Islam Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia – semua punya warna khas yang lahir dari sejarah panjang Nusantara. Islam yang akrab dengan wayang dan pesantren, Kristen yang menyatu dengan budaya lokal, Hindu yang bertransformasi di Bali.
Inilah agama-agama yang membumi, yang berakar di tanah air, bukan sekadar impor dari luar. Bung Karno mengingatkan, kalau beragama hanya meniru bentuk luar, kita bisa kehilangan jiwa bangsa. Islam yang keras meniru Timur Tengah, atau Kristen yang kaku meniru Barat, tak akan cocok dengan realitas sosial kita.
Relevansi Era Kekinian
Delapan puluh tahun setelah proklamasi, pesan Bung Karno tetap segar. Kita masih melihat politik identitas dipakai untuk merebut suara. Umat dipecah-pecah: Muslim dipisahkan dari Kristen, minoritas dipertentangkan dengan mayoritas.
Padahal, kata Bung Karno, tugas kita justru sebaliknya: merangkul semua. Seorang Muslim Indonesia bukan cuma taat salat, tapi juga menjaga persatuan. Seorang Kristen Indonesia bukan sekadar pergi ke gereja, tapi juga ikut membangun bangsa. Seorang Hindu Indonesia bukan hanya sembahyang, tapi juga menghidupi nilai dharma dalam kehidupan sosial.
Beragama dan Berbangsa
Pesan Bung Karno mengajak kita keluar dari jebakan sempit: memilih antara agama atau bangsa. Ia ingin kita memadukan keduanya. Dengan begitu, nasionalisme tidak kering, agama pun tidak eksklusif.
Di era polarisasi dan radikalisme, seruan ini jadi penangkal ampuh. Menjadi Muslim Indonesia berarti mengamalkan Islam yang ramah, adil dan cinta tanah air. Menjadi Kristen Indonesia berarti iman tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk solidaritas sosial. Menjadi Hindu Indonesia berarti menjaga harmoni, bukan hanya ritual.
“Agama tanpa kebangsaan bisa memecah belah. Kebangsaan tanpa agama bisa kehilangan jiwa. Bung Karno ingin keduanya menyatu dalam diri kita,” seru Bung Karno. Seruan ini bukan sekadar kutipan sejarah, tapi panduan masa depan. Nasionalisme tanpa agama bisa gersang, agama tanpa nasionalisme bisa pecah belah. Maka, keduanya harus menyatu dalam tubuh bangsa.
Kalau Bung Karno masih hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Saudara-saudara, janganlah beragama seperti sedang numpang di Indonesia. Beragamalah dengan jiwa Indonesia. Jadilah Muslim Indonesia, Kristen Indonesia, Hindu Indonesia.”
Di situlah letak kebijaksanaan Bung Karno: membumikan agama dalam keindonesiaan, dan mengindonesiakan agama agar tetap relevan. Sebuah pesan yang tak lekang oleh zaman. (*)
*Dr. Sholikh Al Huda, Wakil Ketua BAMUSI Jawa Timur & Ketua Pusat Studi Islam dan Pancasila (PuSIP)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













