Jumat
11 September 2026 | 8 : 23

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Di Tulungagung, Guntur Wahono Beber Sejarah dan Filosofi Seni Tradisi Tiban

pdip-jatim-220731-guntur-tiban-1

TULUNGAGUNG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Guntur Wahono menghadiri pagelaran seni tradisi Tiban di Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Minggu (31/7/2022).

Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, dia juga menjelaskan sejarah dan filosofi dari seni tradisi yang ada di Kabupaten Tulungagung, Blitar, Kediri dan Trenggalek tersebut. Dia juga mengajak semua masyarakat untuk menjaga dan melestarikan seni tradisi Tiban warisan leluhur.

“Tiban adalah kesenian tradisional yang harus kita jaga. Iki tilarane poro leluhur sing kudu dileluri (Ini peninggalan para leluhur yang harus dilestarika),” kata Guntur Wahono.

Sekretaris Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPD PDI Perjuangan Jatim itu menyebutkan, Tulungagung, Kediri dan Blitar itu dikenal sebagai segitiga emas Majapahit.

Kalau dijabarkan satu persatu adalah istilah bahwa “Tulungagung Dadi Kedung” artinya bahwa Tulungagung adalah kedungnya para jawara. “Blitar Dadi Latar” yang artinya bahwa Blitar itu jembar (luas) pemikirannya.

Dan terakhir adalah “Kediri Dadi Kali” yang artinya bahwa Kediri itu Mili terus ilmune (mengalir terus ilmunya). Dari ketiga istilah itu, jelas Guntur, menyatu menjaga kesatuan Nusantara di bawah kepemimpinan Gajah Mada.

Guntur menambahkan, seni tradisional itu ada dimana-mana dan disetiap suku di Indonesia mempunyai adat tradisi sendiri.

Menurutnya, sejarah dari Tiban sendiri, adalah merupakan perwujudan dan persatuan dari masyarakat dalam memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk diberikan berkah hujan.

Karena banyaknya budaya di Indonesia, paparnya, maka cara memohon kepada Tuhan atau upaya spritualnya juga berbeda. Ada yang sholawatan, ada yang istighotsah, ada yang membakar dupa, ada yang melalui kesenian tiban dan lain sebagainya.

“Ini sebuah tradisi turun-temurun yang sudah ada sejak dulu. Saya bangga ternyata jawara Tiban tidak hanya generasi tua, tapi juga banyak generasi muda yang mencintai seni tradisi Tiban,” ucapnya.

Sebagai wakil rakyat, Guntur berharap seni tradisi Tiban bisa lestari dan tetap ada dari sekarang dan selamanya. Dia juga berdoa agar para pecinta seni budaya selalu diberi kesehatan, kekuatan dan rezeki yang melimpah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Mari kita jaga sportifitas, kita jaga persaudaraan melalui kesenian Tiban. Dan kita semua senantiasa mendapat keberkahan kesehatan sekarang dan seterusnya,” tutupnya.

Di tempat yang sama, pembina seni tradisi Tiban Tulungagung, Supriyanto Dharmoredjo mengatakan, dalam filosofi Jawa seni tradisi Tiban adalah sebuah ritual untuk meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari budaya yang sudah lama ada itu, kalau diambil hikmahnya bagaimana upaya dari generasi penerus untuk menjaga dan melestarikan budaya itu.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengerti, menghargai dan menjaga budaya leluhur,” kata pria yang menjabat sebagai Direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung itu.

Pria yang akrab disapa Dokter Pri itu menjelaskan, budaya di Indonesia itu ada banyak sekali, dan semua budaya mengandung filosofi sendiri-sendiri didalamnya, salah satunya adalah seni tradisi Tiban.

Melestarikan seni tradisi Tiban, sebutnya, adalah hal yang sangat bagus, karena bisa digunakan sebagai media menjaga solidaritas, menjaga sportifitas dan menjaga jiwa-jiwa kesatria bagi para generasi penerus.

Dengan seni budaya Tiban, diharapkan para generasi muda tidak mudah larut dari serbuan budaya asing, salah satunya adalah melalui permainan-permainan asing, game online dan lain-lain.

“Dengan seni tradisi Tiban, kita menggali kembali potensi lokal sebagai pijakan menuju masa depan yang lebih baik,” jelasnya.

Karena sudah lama tidak dilaksanakan, sebut Dokter Pri, pagelaran seni tradisi Tiban kali ini disambut antusias masyarakat yang cukup tinggi. Bahkan anak-anak yang berusia 10 tahun juga ikut mencintai seni tradisi Tiban itu.

Sebagai pembina, dia berjanji akan menata lebih baik pagelaran seni tradisi Tiban yang ada di Tulungagung sehingga edukasi sejarah dari seni tradisi Tiban serta filosofinya bisa diketahui oleh masyarakat khususnya para generasi muda. (sin/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Dewanti Desak Seluruh Jalur Wisata TNBTS Ditutup Total, Antisipasi Karhutla Meluas

Dewanti Rumpoko mendesak seluruh jalur wisata TNBTS ditutup total menyusul karhutla. Keselamatan wisatawan dan ...
KABAR CABANG

Nganjuk Wilayah Utara Mengering, DPC PDI Perjuangan Turunkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Desa Pelosok

NGANJUK — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Nganjuk menyisir kawasan pelosok desa untuk ...
LEGISLATIF

Atasi Kekeringan Tuban-Bojonegoro, Ony Dorong Embung hingga Pipanisasi Lintas Wilayah

Ony Setiawan mendorong penanganan kekeringan Tuban-Bojonegoro melalui embung, waduk mikro, pipanisasi lintas ...
KRONIK

Gelar Maulid Nabi, Bupati Lukman: Teladani Rasulullah untuk Pelayanan Publik Berintegritas

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan ...
KRONIK

Ketua DPRD Banyuwangi Dorong Pemkab Bentuk BUMD Kepelabuhan

BANYUWANGI – Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, mendorong eksekutif untuk membentuk Badan Usaha Milik ...
KRONIK

Wali Kota Eri Tegaskan Bagi Hasil Parkir 60:40 Milik Warga, Bukan Perorangan

SURABAYA – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjaga ...