Geliat Kader Ngawi, Rintis Usaha Sound System Hingga Pertanian Melon

 344 pembaca

NGAWI – Kabupaten Ngawi sebagai daerah basis PDI Perjuangan terbukti banyak menelurkan kader-kader terbaik dan militan. Di tataran elit, sebut saja Ir. Budi Sulistyono (Kanang), hingga Dwi Rianto Jatmiko, Heru Kusnindar dan masih banyak lagi lainnya.

Tidak hanya di tataran elit, PDI Perjuangan di tataran grass root pun tak kalah banyak memiliki anggota yang moncer di bidangnya masing-masing. Seperti salah satunya Muhammad Abdul Latif, anggota PDI Perjuangan warga Desa Jambangan, Kecamatan Paron, Ngawi.

Latif merupakan seorang pengusaha. Unit usahanya seputar peralatan pesta. Selain itu, dirinya juga seorang petani. Dari melon, hingga bawang merah. Di lini organisasi himpunan petani melon se Kabupaten Ngawi, Latif didaulat sebagai sekretaris.

Ditemui pdiperjuangan-jatim.com, Latif membagikan kisah geliat usahanya, hingga mantap berpartai ditengah perjalanan karir berwirausaha.

“Mulai merintis usaha persewaan sound system sekitar tahun 2001. Kami memulai dari nol waktu itu,” kata Latif, Senin (24/10/2022).

Berangkat dari nol bukan sebuah masalah bagi Latif. Konsisten dan memberikan service terbaik bagi pelanggan tetap jadi acuan. Usaha sound system Latif pun kian berkembang.

Brand yang diangkat Latif, Dogol Sound System. Meski namanya terkesan nyentrik, namun Dogol Sound System sudah punya tempat tersendiri di Kabupaten Ngawi. Wabil khusus bagi mereka para pegiat ‘Puter Mixer’.

Konsisten dan tetap memberi pelayanan terbaik terbukti berdampak positif bagi usaha sound system milik Latif. Seiring tahun berjalan, tidak hanya sound system saja yang disewakan. Tetapi merambah pada persewaan komplit untuk kebutuhan pesta.

“Tahun demi tahun merambah ke persewaan pesta lengkap. Seperti terop, peralatan dapur, karpet. Lengkap untuk kebutuhan pesta,” ujar alumni Diklat Kader Pratama DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi Tahun 2022 beberapa waktu lalu.

Bukan usaha kalau tidak ada kendala. Begitu juga untuk usaha Latif. Sempat terkendala modal, hingga terdampak pandemi covid-19. Dua tahun pandemi, total usaha persewaan pesta Latif mandek. Berbagai pembatasan kegiatan, praktis menjadikan usaha di bidang itu mati suri.

Kondisi yang tak pasti kala pandemi, tetap dilakoni Latif dengan optimis. Latif yakin, pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo pasti berhasil mengatasi pandemi.

“Alhamdulillah untuk saat ini geliat usaha sudah mulai tampak lagi. Persewaan pesta sudah berjalan lagi,” ujar pengagum Presiden Jokowi tersebut.

Selain memiliki usaha sound system, Latif juga merambah di dunia pertanian. Selain pertanian padi yang jadi andalan Kabupaten Ngawi, Latif juga getol bertani bawang merah dan melon.

“Saat pandemi persewaan sound system kan mandek, kita coba bertani bawang merah dan melon,” katanya.

Di luar kesibukan bertani melon dan bawang merah, Latif juga aktif berorganisasi di kalangan petani. Latif mengaku sebagai sekretaris komunitas petani melon Ngawi.

Mantap Gabung PDI Perjuangan

Latif berkisah, sejak awal merintis usaha dirinya mulai berkenalan dengan PDI Perjuangan. Berawal dari rasa kagum pada kesolidan kader-kader PDI Perjuangan di daerahnya, dan kesamaan gagasan tentang ‘Wong Cilik.’

Rasa kagum dan kesamaan rasa tersebut membuat Latif tak ragu ikut terlibat secara langsung dengan partai Banteng Moncong Putih tersebut. Medio 2009, Latif mantap bergabung dengan PDI Perjuangan.

“Awalnya simpatisan, kemudian ikut pergerakan-pergerakan di masyarakat yang berbasis PDI Perjuangan,” kata Latif.

Latif mengaku banyak mendapat berkah setelah ‘Bebaju Merah.’ Relasi, dan persaudaraan kian bertambah. Usaha yang dilakoninya selama ini pun kecipratan berkah.

“Setelah bergabung ada tambahan job. Intinya semakin banyak teman, makin banyak juga rejeki,” ucap pria 3 tahun tersebut.

Cerita Latif seperti halnya pitutur dari Bung Karno tentang bangsa yang merdeka dan berdaulat harus memiliki Tri Sakti. Bung Karno berkata: ”Sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.” (mmf/hs)