oleh

Dukungan untuk Ahok-Djarot Meningkat Pasca-Debat

JAKARTA – Anggota tim pemenangan calon gubernur dan wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat bidang data dan informasi, Eva Kusuma Sundari mengatakan, dukungan terhadap pasangan nomor urut dua itu makin bertambah.

Kecenderungan bertambahnya dukungan itu tercermin dari respons positif netizen terhadap Ahok-Djarot pasca debat terakhir yang digelar Rabu (12/4/2017) lalu.

Selain itu, tren dukungan bagi Ahok-Djarot mengalami kenaikan sejak putaran pertama pilkada hingga saat ini.

“Peluang Basuki-Djarot lebih bagus karena masih ada undecided voters yang signifikan, hampir 6 persen, yang di putaran pertama cenderung ke Badja (Basuki-Djarot),” kata Eva Sundari, kepada wartawan, kemarin.

Dia menyebutkan, strategi kampanye Ahok-Djarot telah berjalan bagus jelang berakhirnya masa sosialisasi putaran kedua.

Kolaborasi kampanye yang dilakukan pendukung dan relawan melalui ‘jalur darat’, tambah Eva, telah membuahkan hasil.

Menurutnya, kampanye melalui media sosial juga sangat mendongkrak elektabilitas Ahok-Djarot. Pembawaan Ahok yang makin tenang dan menawan, sebut Eva, juga berpengaruh pada tren kenaikan elektabilitas pasangan petahana itu.

“Kampanye darat akan diintensifkan hingga hari tenang. Sedangkan pada hari tenang untuk pertemuan-pertemuan internal, untuk pengawasan pra dan pasca pencoblosan,” jelasnya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini tidak menjabarkan secara detail hitung-hitungan survei internal tim Ahok-Djarot pasca debat pemungkas.

Tolok ukur yang menjadi rujukan, urai dia, mengandalkan respons warga terhadap penampilan pasangan calon petahana itu selama debat.

Sebelumnya, beberapa lembaga survei menyebut pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai pemenang Pilkada DKI. Namun, hal itu belum akan terbukti lantaran pelaksanaan pemilu DKI baru akan berlangsung 19 April mendatang.

Menurut Sinergi Data Indonesia (SDI), masih ada jumlah swing voter yang bisa mengubah segalanya. “Berdasarkan survei kami, masih ada 17,90 persen swing voter, itu  berpotensi memilih pasangan Ahok-Djarot,” kata Direktur SDI Barkah Pattimahu.

Barkah menyebutkan, perubahan suara itu lantaran 90 persen swing voter justru berpotensi memilih pasangan Ahok-Djarot.

Hal itu didapat karena survei yang dilakukannya mendapatkan hasil bahwa publik mulai menyadari kalau tudingan penistaan agama yang dialamatkan ke Ahok, kental aroma politik.

“Sehingga secara perlahan, mereka tak lagi mempercayai kalau Ahok adalah penista agama,” ujar Barkah.

Apalagi, tambah dia, di persidangan terakhir-terakhir ini, giliran Ahok memberikan pembelaan melalui saksi ahli dan saksi-saksi yang meringankan. Dari semua itu, tak tertutup kemungkinan perubahan suara bisa terjadi menjelang hari pencoblosan mendatang.

“Jadi sampai 19 April mendatang, semua masih bisa berubah,” ungkapnya.

Barkah juga mencontohkan, pada Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, ketika itu nyaris seluruh lembaga survei menjagokan pasangan petahana yakni, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang bakal memenangkan pilkada.

“Namun pada kenyataannya hasil survei yang dirilis oleh hampir seluruh lembaga survei. Keduanya kalah oleh pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaya Purnama (Ahok),” terangnya.

Contoh lain yang paling terasa lanjut Barkah, adalah prediksi pasangan Anies-Sandi bakal gagal lolos ke putaran kedua. Namun nyatanya, pasangan ini justru yang sekarang berpeluang besar ‘merampas’ posisi gubernur dan wakil gubernur dari tangan Ahok-Djarot. (goek)