NGAWI – Peralatan kendang merah dan bedug milik Kelompok Seni Reog Mahesa Nempuh LSM Kraton Ngiyom suaranya melempem saat pentas malam hari. Usut punya usut, instrumen musik milik kelompok seni itu berbahan dasar kulit, yang pasti kendor saat cuaca dingin kala pentas waktu malam hari.
Kendala pada instrumen musik berbahan kulit hewan tersebut menghambat pentas seniman Mahesa Nempuh. Suara kendang yang melempem, bikin semarak pentas tak lagi maksimal.
Ketua Bidang Seni dan Budaya LSM Kraton Ngiyom, Sugiono berinsiatif wadul pada anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana Amaliyah Verawatiningsih atau yang lebih familiar dikenal Diana Sasa. Dirinya berharap ada solusi dari permasalahan yang dialami kelompok seni itu.
Gayung pun bersambut. Kelompok seni reog Mahesa Nempuh LSM Kraton Ngiyom, mendapat perhatian dari Wakil Rakyat yang juga aktivis buku itu. Diana Sasa memfasilitasi perbaikan kendang dan bedug milik kelompok pelestari seni dan budaya yang beralamat di Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi.
“Kendang dan bedug kami berbahan kulit. Jadi saat pentas waktu malam hari dengan cuaca yang agak dingin, suaranya hilang karena kendor,” kata Sugiono saat dikonfirmasi pdiperjuangan-jatim.com, pada Rabu (14/9/2022).

Sugiono berinisiatif mengganti bahan kulit menjadi membran atau mika. Seperti pada drum-drum kekinian. Dirinya berharap, pasca diganti dengan membran, kendang dan bedug itu tetap nyaring ketika dipukul, meskipun pentas pada malam hari dengan kondisi cuaca dingin.
Fasilitasi bantuan dari Diana Sasa diterima langsung oleh Sugiono di Rumah Tua, Desa Sekaralas, tempat biasa kelompok seni reog Mahesa Nempuh berlatih. Setelahnya, Sugiono mengaku akan segera memperbaiki instrumen musik itu.
“Kita ada 25 kendang merah, dan 3 bedug. Pasca diganti untuk latihan rutin, juga untuk pentas puncak upacara Kebo Ketan 7-8 Oktober 2022 mendatang,” kata Sugiono.
Kelompok seni reog Mahesa Nempuh saat ini punya 60 orang anggota. Sugiono menyebut, para anggotanya berasal dari lintas desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Ngawi.

“Kita fokus seni reog, tetapi dengan iringan musik yang berbeda daripada kebanyakan, kita pakai instrumen yang lain, dengan seni tabuhan kendang merah ada rampak-rampaknya,” jelas Sugiono.
Sugiono mewakili anggota kelompok seni reog Mahesa Nempuh, menyampaikan rasa terima kasih kepada Diana Sasa. Dirinya berharap, dengan adanya bantuan dari Diana Sasa, kawan-kawan sesama seniman makin giat dalam berlatih dan melestarikan budaya.
“Matur nuwun sanget buat Mbak Diana Sasa. Semoga dengan adanya bantuan ini, kami bisa semakin giat dan semangat berlatih,” ucapnya.
Lebih lanjut, saat berada di lokasi Rumah Tua, Sugiono juga membeberkan awal mula berdirinya LSM Kraton Ngiyom. Dimana Diana Sasa turut membidani berdirinya Kraton Ngiyom.
“Mbak Diana Sasa itu salah satu pemrakarsa berdirinya Kraton Ngiyom. Dulu jauh sebelum Mbak Diana Sasa jadi anggota DPRD, beliau yang membiayai pendaftaran SK Kemenkumham Kraton Ngiyom. Kalau saat ini Mbak Sasa juga didaulat sebagai pengawas di Kraton Ngiyom,” bebernya. (mmf/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










