oleh

Di Tulungagung, Puti Kunjungi Sentra Warkop ‘Cethe’

-Berita Terkini-31 kali dibaca

TULUNGAGUNG – Berkunjung ke Tulungagung tidak lengkap rasanya, kalau belum nyeruput kopi cethe. Karena itu, Cawabup Puti Guntur Soekarno pun menyempatkan diri mampir di salah satu sentra ekonomi kreatif khas masyarakat Tulungagung tersebut, Selasa (27/2/2018).

Di sela safari kampanye Pilgub Jatim, Puti datang ke warung kopi (warkop) milik Pak Yun, satu di antara sekitar 60 warkop yang ada di Desa Bolorejo, Kauman, Tulungagung.

Hampir tiap hari, utamanya di malam hari, warkop-warkop di desa ini selalu dipenuhi pengunjung yang didominasi anak-anak muda. Mereka menikmati kopi sambil memainkan smartphone.

Di desa yang sama, cawagub pendamping Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Pilkada Jatim 2018 itu juga mencicipi kopi di Warkop Mak Waris.

Di Warkop P Yun, Puti mencicipi kopi hijau khas Tulungagung, yang rasa dan aromanya memang beda dengan kopi pada umumnya.

Apalagi, bagi para perokok, ampas (endapan/cethe) kopi ini bisa jadi bahan olesan di batang rokok dengan motif tertentu. Lalu, sambil ngopi, mereka menikmati sensasi rokok dengan olesan cethe tersebut, yang beraroma kopi bakar.

Ditemani calon bupati Tulungagung petahana Syahri Mulyo, Puti begitu teliti mengamati dan menanyakan ikhwal seputar kopi hijau kepada P Yun, pemilik warkop. “Aroma kopinya memang beda. Enak dan khas rasanya,” ucap Puti, setelah nyeruput kopi.

Beberapa tahun belakangan, kopi menjadi komoditas penting dalam pertumbuhan ekonomi kreatif. Tidak hanya untuk keperluan rumah tangga, atau disajikan di warung-warung, tetapi telah disajikan pada kedai dan gerai, mal, dan hotel-hotel mewah.

Di Tulungagung sendiri, menurut Syahri Mulyo, warkop cethe maupun kedai dan cafe kopi sudah menjamur di hampir pelosok, bahkan sampai kampung-kampung. Dia menyebut, warung dan cafe kopi ini bisa mencapai 3 ribu-an tempat.

Puti mengapresiasi warkop-warkop yang banyak bermunculan di Tulungagung. Menurutnya, warkop-warkop itu sebagai bentuk geliat ekonomi kreatif di masyarakat yang tidak kalah dengan usaha lainnya.

Malah hasilnya bisa mengangkat ekonomi warga dari usaha membuka warkop ini. Seperti yang diungkapkan P Yun, dalam sehari rata-rata warkopnya memperoleh penghasilan bersih di kisaran Rp 500 ribu.

Sebelumnya, Puti juga bertemu dengan anak-anak muda di sebuah kafe di Ngronggo Water Front. Puti sempat ngobrol seputar ekonomi kreatif bersama para netizen Tulungagung itu.

Cucu proklamator RI ini pun menceritakan tentang aneka jenis kopi dari berbagai daerah di Nusantara. Ada kopi Aceh, Toraja, Jawa, Kintamani, dan Papua, dan masih banyak lagi.

“Ini semua hasil bumi, dari kekayaan Nusantara. Kemudian, karena kreativitas anak-anak zaman now, bisa diracik, bisa diolah, menjadi sajian yang menyenangkan. Kopi telah menggerakkan ekonomi kreatif kita,” tutur Puti.

Selain nyeruput kopi, Puti juga sempat mencoba membuat hiasan busa kopi atau yang dikenal dengan latte art. “Saya mencoba bikin latte art, bentuk hati, ternyata sulit sekali ya. Tapi jadi lho bikinan saya,” ujarnya sambil tertawa. (goek)