Senin
15 Juni 2026 | 10 : 23

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Buruh Yang Mulia

pdip-jatim-ilustrasi-guru

SYAMSUL Arifin, teman sesama pengajar di perguruan tinggi swasta di Madura, suatu hari mengeluhkan “nasibku yang tak tentu.” Dia menggunakan kata “tak tentu” sekenanya, saya kira. Karena sebagai pengajar, dia menandatangani surat kontrak. Saban bulan dia mendapatkan gaji bulanan ditambah uang SKS, uang koreksi UTS, UAS dan uang tak tentu lainnya. Kalau dihitung-hitung, Syamsul dapat dikatakan pengajar yang beruntung dibanding para pendidik sukwan (sukarelawan) yang dibayar “sesukanya.”

Tapi Syamsul tetap bersikukuh “nasibku tak tentu.” Kita tidak jauh beda dengan buruh, sungutnya selalu. Buruh? Ah, lagi-lagi Syamsul mencomot kata ini dengan sekenanya, saya kira. Syamsul mungkin tidak sadar bahwa bahasa selamanya tidak “stabil” maknanya. Penggunaan kata selalu ditentukan oleh keinginan dan pertarungan wacana pemakainya. Kata buruh kurang lebih searti dengan pekerja. Pekerja searti dengan pelayan, pegawai dan lainnya. Singkatnya, segala profesi yang berkaitan dengan bekerja dapat dikategorikan dalam satu gerbong pekerja dengan jenis dan variasi sesuai nilai, gengsi dan legitimasinya.

Sebelum membicarakan nasibnya di Minggu siang itu lebih jauh, Syamsul mengupas ceritanya sewaktu jadi mahasiswa. Waktu itu, Syamsul aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik yang intra maupun ekstra. Karena itu pula, Syamsul dikenal sebagai aktivis kampus. Satu dari sekian puluhan pengalaman berorganisasi yang berkesan dan berkaitan langsung dengan nasibnya, advokasi terhadap buruh.

Konon, dalam mendampingi kaum terhisap ini, Syamsul mengeluarkan segenap tenaganya. Mulai memberi penjelasan buruh tentang hak-hak dan kewajibannya sampai ikut serta aksi turun jalan saat memperjuangkan kenaikan upah. Perjuangan bersama buruh, menurut Syamsul, perjuangan sederhana dan tidak neko-neko. Para buruh hanya mengimpikan upah yang layak buat memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, anehnya pengambil kebijakan upah selalu cuek. Mereka seolah tidak mau tahu dengan biaya kebutuhan hidup yang cenderung bergerak naik. Mereka selalu butuh aksi turun jalan kaum buruh untuk membuka mata hati dan menemukan alasan menaikkan upah buruh atau membayar upah buruh sesuai keputusan (baca upah minimum kota/kabupaten/regional).

Meski sederhana, persoalan perburuhan cukup pelik. Dari persoalan undang-undang perburuhan sampai penerapannya di lapangan. Misalnya, Syamsul mencontohkan nasib buruh (di) PT. Garam. Menurutnya, buruh PT. Garam merupakan buruh utama dalam memproduksi garam. Tanpa mereka, lahan garam tidak akan tergarap dan produksi garam mandek.

“Tapi, status mereka sampai kini belum jelas,” beber Syamsul. Nasib buruh PT. Garam memang tidak jelas dan tidak akan jelas kalau tidak ada kebijakan yang berani dan solutif. Buruh PT. Garam memang dapat dikategorikan tenaga kerja utama. Tapi secara definisi undang-undang perburuhan buruh PT. Garam tidak dapat dimasukkan sebagai tenaga kerja dalam kelompok kontrak. Sebabnya, buruh PT. Garam bekerja tidak selama satu tahun. Masa kerja buruh PT. Garam hanya satu musim kemarau (maksimal enam bulan). Karena itu, menurut Syamsul, dibutuhkan satu undang-undang khusus yang mengatur buruh PT. Garam.

Kenangan berjuang bersama buruh dipungkasi Syamsul dengan lenguhan berat nan dalam. Pada detik itu, Syamsul ingin bersepakat dengan Marx. Dia seperti hendak membenarkan sikap dan pemikiran dedengkot kaum marxis itu. Tapi buru-buru dia menghela nafas keberatan.

“Meski tidak dibayar sebagaimana mestinya, kita buruh yang mulia,” Syamsul seperti mengingat narasi lama. Narasi tentang kemuliaan seorang pengajar. Dia pun menjabarkan kemuliaan seorang pengajar, termasuk mereka yang disebut dosen kontrak. Saya ingin ngakak. Tapi saya kira tidak etis. Apalagi menertawakan buruh mulianya Syamsul. (*)

*Esais, penikmat seni. Tinggal di Bangkalan

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Patung Bung Karno Membaca Buku Jadi Ikon Baru Istana Gebang, Ini Pesan Megawati

Patung Bung Karno yang sedang membaca buku menjadi salah satu ikon baru hasil renovasi Istana Gebang di Blitar. ...
LEGISLATIF

Wahyu Prayudi Soroti Keterlambatan Gaji ke-13 Pekerja Puskesmas di Jember

Anggota Komisi D DPRD Jember Wahyu Prayudi Nugroho mendesak Pemkab Jember segera menuntaskan pembayaran gaji ke-13 ...
LEGISLATIF

Hendrad Subiyakto Serap Aspirasi Warga Kawedanan, Nguntoronadi dan Takeran

MAGETAN – Jeda masa persidangan (reses) ke IV DPRD Magetan tahun 2026 dimanfaatkan anggota Fraksi PDI Perjuangan, ...
KABAR CABANG

Megawati Bagikan Bibit Sukun dan Alpukat, Dorong Gerakan Ketahanan Pangan dari Daerah

BLITAR – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyerahkan bibit pohon pule, sukun, dan alpukat kepada ...
KRONIK

Renovasi Istana Gebang Selesai, Apa Yang Baru?

KOTA BLITAR – Renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil dan remaja Bung Karno di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar ...
KRONIK

Soekanro Fun Run 2026, Hosnan: Hidupkan Semangat Bulan Bung Karno dan Ekonomi Rakyat

SUMENEP – DPC PDI Perjuangan Sumenep mengapresiasi pelaksanaan Soekarno Fun Run 2026 yang digelar DPD KNPI Sumenep ...