oleh

Agar Bisa Mandiri, Pemuda Desa Banyuwangi Dilatih Keterampilan

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi mendorong anak muda di desa-desa bisa mandiri secara ekonomi dengan membuka peluang usaha baru. Salah satu upayanya, pemkab melatih dan membekali pemuda desa agar bisa menjadi wirausaha.

Bupati Abdullah Azwar Anas menyebutkan, berbagai keterampilan teknis akan diberikan, mulai dari perbengkelan, las, elektro, kerajinan, dan jasa pariwisata. Sasarannya adalah anak-anak muda yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal.

“Mereka dilatih agar bisa mandiri. Untuk mendidik anak-anak muda desa ini, kami libatkan SMK,” kata Bupati Azwar Anas, Kamis.

Pembekalan keterampilan bagi anak-anak muda itu sudah mulai dilakukan. Seperti pelatihan perbengkelan diikuti 160 anak muda desa selama lima hari sejak 14 Februari 2017 lalu yang digelar di SMK Muhammadiyah 2 Genteng.

Untuk program tersebut, tahun 2017 ini Pemkab Banyuwangi menyiapkan dana Rp 1,8 miliar. Melalui pelatihan ini, kata Anas, pihaknya ingin melahirkan pemuda-pemuda yang memiliki keterampilan tertentu, yang bisa menjadi bekal untuk berwirausaha.

“Mereka yang ikut pelatihan ini adalah pemuda desa yang memang memiliki keinginan kuat untuk maju. Rata-rata mereka sudah ada kemampuan dasar, di sini tinggal mengasah dan menambah ketrampilan mereka,” ujarnya.

Menurut Anas, sinergi pelatihan dengan SMK ini sangat penting. Hal itu untuk mengintegrasikan setiap program pelatihan pemerintah dengan SMK.

“Sengaja kami optimalkan jaringan dengan SMK, karena selain memiliki tenaga ahli, di SMK juga terdapat fasilitas yang memadai. Jadi tidak perlu ada pengadaan alat pelatihan baru, karena SMK kan sudah punya, sehingga hemat anggaran,” ujarnya.

Selain perbengkelan, pemkab juga akan melibatkan jurusan lain di sejumlah SMK untuk bersinergi menumbuhkan kewirausahaan baru di kalangan anak muda desa.

Seperti pelatihan batik di SMK yang memiliki jurusan batik, pelatihan agen travel di SMK jurusan pariwisata, dan juga pelatihan kuliner yang akan melibatkan jurusan tata boga.

“Tahun ini ada sekitar 600 pelatihan, yang nantinya tetap akan kami sinergikan dengan jurusan SMK yang tersedia,” jelas Anas.

Sementara Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Pemkab Banyuwangi Wawan Yadmadi menambahkan, selain diikuti oleh pemuda desa, pelatihan juga diikuti pelajar SMA/SMK yang memang tertarik untuk menekuni masalah perbengkelan.

“Desa asal pemuda yang mengikuti pelatihan ini juga tidak asal pilih. Kami pilih mereka yang berasal dari desa yang tingkat kemiskinannya agak tinggi,” katanya.

Pelatihan ini, lanjut dia, melibatkan 32 instruktur ahli perbengkelan dari desa dan sekolah kejuruan kualifikasi. Nantinya, peserta pelatihan tak sekadar mengerti ilmu perbengkelan, tapi juga akan diberi sertifikat tanda lulus pelatihan.

“Dan ini bisa dijadikan sebagai modal dasar mencari pekerjaan di bidang perbengkelan,” ujarnya. (goek)

rekening gotong royong