Kamis
16 April 2026 | 3 : 19

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tata Kelola Desa Wisata, Puti Minta Kearifan Lokal Jadi Poin Penting Pembangunan

PDIP-Jatim-Puti-25072023

SURABAYA – Desa wisata menjadi destinasi primadona pascapandemi. Bahkan, diperkirakan sebanyak 44 persen wisatawan memilih berwisata ke desa wisata pascapandemi Covid-19.

Seperti disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, desa wisata menjadi unggulan dalam pencapaian target terciptanya 4,4 juta lapangan kerja di tahun 2024. Juga menopang target 8,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan 1,4 miliar pergerakan wisatawan nusantara.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno mengakui akan pentingnya tata kelola dan jejaring destinasi desa wisata yang baik.

“Karena saat ini banyak sekali progres dari desa wisata, tapi ada juga yang jalan di tempat karena tidak bisa berkembang dan tidak bisa mengangkat perekonomian serta kesejahteraan warga setempat,” ujar Puti dalam Forum Peningkatan Kualitas Tata Kelola dan Jejaring Destinasi Desa Wisata Kabupaten Sidoarjo yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Deputi Bidang Pengembangan Kualitas Tata Kelola dan Jejaring Destinasi Desa Wisata Kabupaten Sidoarjo, di Luminor Hotel Sidoarjo, Selasa (25/7/2023).

Cucu Bung Karno itu optimis, desa wisata, khususnya yang ada di Sidoarjo, dapat terus berkembang dan maju. Terlebih, Sidoarjo memiliki potensi wisata yang luar biasa, mulai dari wisata edukasi, agrowisata, wisata alam, wisata budaya, hingga wisata kuliner.

“Desa wisata ini harus dilihat secara komprehensif, sebuah entitas besar yang hidup, di mana di dalamnya terdapat tradisi, adat, manusia dan interaksinya, termasuk dengan alam yang harus terus dirawat. Kearifan lokal harus jadi poin penting dalam pembangunan desa wisata,” tuturnya.

Puti menambahkan, dalam mengembangkan tata kelola dan jejaring destinasi desa wisata harus memanfaaatkan teknologi digital yang berfungsi untuk memperluas promosi.

“Kita juga harus adaptif, kreatif, berdaya saing tinggi untuk pengembangan desa wisata agar berkembang dengan baik,” terang politisi PDI Perjuangan itu.

Sementara itu, Koordinator Pengembangan Destinasi Kemenparekraf Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Wisnu Sri Wijaya Recodemus, mengatakan, paradigma pariwisata di Indonesia mengalami perubahan pascapandemi Covid-19. Wisata bukan lagi bersifat massal atau mass tourism, tetapi lebih pada costumize tourism atau wisata yang lebih personal.

“Jika dulu mementingkan quantity (kuantitas kunjungan), sekarang lebih mengutamakan quality (kualitas kunjungan) yang mana ini menjadi keuntungan bagi kita untuk mendorong destinasi desa wisata. Maka dari itu kita perlu mewujudkan destinasi yang berkelanjutan,” ujar Wisnu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya menggelar acara itu untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi desa wisata agar memiliki nilai ketertarikan, daya saing, dan berkelanjutan serta sebagai upaya meningkatkan lama tanggal wisatawan, sekaligus menguatkan tata kelola desa wisata.

Dalam acara yang dihadiri oleh puluhan pelaku sektor pariwisata itu, Wisnu berpesan, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi desa wisata pasca pandemi, selain potensi desa adalah Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability).

Lalu yang tak kalah penting adalah meningkatkan kualitas keramahtamahan dan pelayanan, kesiapan mitigasi bencana, serta menyiapkan tata kelola sampah yang baik.

“Jadi, bagaimana cara wisatawan yang datang tak hanya berkunjung, namun bisa mendapatkan wawasan, pengalaman, dan pengetahuan menarik saat berkunjung, sehingga setelah mereka pulang akan bercerita dan mengajak orang lain untuk berkunjung ke desa wisata tersebut. Mereka singgah dan membeli produk hasil desa itu,” katanya.

“Disinilah pentingnya penerapan Sapta Pesona, yaitu aman, tertib, bersih, aejuk, indah, ramah, dan kenangan,” sambungnya.

Kepala Disporapar Kabupaten Sidoarjo, Joko Supriyadi, memaparkan, berdasarkan data Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sidoarjo, terdapat 21 desa wisata di Kota Delta yang diakui dan memiliki Surat Keputusan (SK).

“Harapannya, 21 desa wisata ini digarap dengan serius. Pesannya, harus kolaboratif dan sinkron antara BUMDes, PemDes, bersama pengelola destinasi agar pengembangan desa wisata ini bisa maksimal,” terangnya. (dhani/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Sawah di Pakusari Terdampak Limbah, DPRD Minta Pemkab Jember Pahami UU Pengelolaan Sampah

Pemkab Jember diminta memahami UU Pengelolaan Sampah setelah limbah mencemari irigasi dan mengancam 10 hektare ...
LEGISLATIF

Pansus DPRD Jatim Soroti Program OPD, Anggaran Besar Belum Tekan Kemiskinan

DPRD Jatim menilai program OPD belum berdampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan meski capaian administratif ...
KRONIK

Bupati Lukman Minta BUMD Tingkatkan Kinerja, Topang Perekonomian Daerah

JAKARTA – Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, berkomitmen untuk mendorong kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk ...
LEGISLATIF

Indri Dukung Larangan Vape, Soroti Potensi Disalahgunakan untuk Narkotika

Indriani Yulia Mariska mendukung larangan vape karena berpotensi disalahgunakan untuk narkotika dan membahayakan ...
LEGISLATIF

Yordan Soroti Kesenjangan Antarwilayah Jadi Tantangan Utama Pembangunan Jatim

Yordan M Batara Goa menyoroti kesenjangan antarwilayah sebagai tantangan utama pembangunan Jawa Timur dalam RKPD ...
LEGISLATIF

Pastikan Keselamatan Pengendara Jalur Magetan – Sarangan, Diana Sasa Minta Peremajaan Alat Tebang Pohon Bina Marga UPT Madiun

MAGETAN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Timur melalui Bina Marga UPT Madiun ...