Senin
02 November 2026 | 3 : 51

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Chungking-Djakarta: Gagasan Sosial Politik Anti Kolonialisme Bung Karno

PDIP-Jatim-Faizal-Riza-16102022

SEJAUH ini, Sukarno dikenal dengan pandangan sosial politiknya. Namun sebelum beliau menjadi Presiden Pertama Indonesia, di masa pengasingannya di Ende (1934-1938) dan di Bengkulu (1938-1942), Sukarno membuat naskah drama (toneel) dan pertunjukannya. Setidaknya ada 12 naskah drama bahkan lebih yang ditulis Sukarno semasa pengasingannya.

“Chungking Djakarta” salah satu judul naskah drama yang ditulis Sukarno di masa pengasingannya di Bengkulu. Secara implisit, “Chungking Djakarta” sudah menghadirkan gagasan-gagasan sosial politik di masa itu. Bahkan, gagasan politik global seperti Jakarta-Peking yang cukup dikenal di masa Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan Sukarno, secara tersirat, sudah tertuang di dalam naskah drama “Chungking Djakarta”.

Hal tersebut menandakan, gagasan-gagasan Sukarno di masa sebelum Indonesia merdeka, adalah gagasan yang sudah meng-global, dan sudah memiliki pengetahuan yang berbasis geopolitik yang cukup tajam. Globalitas pemikiran Sukarno sendiri juga terkait dengan budaya tontonan di masanya, khususnya di Jakarta di masa kolonial yang memang sudah cosmopolitan. Pengaruh kosmoplitanisme dalam pemikiran Sukarno bukan saja terkait pemikiran politik, namun juga dengan pemikiran seni dan kebudayaan global di masa itu.

12 naskah yang ditulis Bung Karno selama pengasingan tahun 1930-an, dapat menjadi satu rujukan ‘kepeloporan’ Bung Karno dalam seni pertunjukan modern. Dalam konteks keindonesiaan pada masa pra-kemerdekaan, karya seni (baca: novel, drama) memainkan peran penting dalam menyuarakan pembentukan Indonesia, bahkan beberapa simbolisasi di dalam naskah “Chungking Djakarta” juga mengandaikan semacam kode propaganda bagi kaum pergerakan Indonesia di tengah pengawasan kolonial Belanda yang sangat ketat.

“Chungking Djakarta” sendiri bercerita tentang perjuangan solidaritas para pendukung Pemerintah Chungking, yang bisa ditafsirkan sebagai Republik Tiongkok (1937-1945), pada masa ketika Pemerintah Nasionalis melawan agresi Jepang kedua pada 1937 di bawah salah satu pemimpinnya yang ternama, Chiang Kai- shek (1887-1975). Hal itu menandakan bahwa konteks waktu penulisan naskah “Chungking Djakarta” berdasarkan kronologis peristiwa sejarah, yaitu seputar perjuangan pemerintahan Chungking kala itu.

Artinya, dalam konteks tersebut, Sukarno telah membentuk jejaring dan solidaritas pemikiran dan politik. Di kemudian hari, kita bisa melacak bagaimana pengaruh-pengaruh pemikiran nasionalisme Sun Yat-sen (1866-1925) yang kelanjutan gerakan politiknya pada Pemerintah Chungking. Sebagaimana pengaruh Sun Yat-sen pada pemikiran nasionalisme Sukarno. Salah satunya, nasionalisme yang membongkar kosmopolitanisme, sebagai nasionalisme yang berpijak pada tanah sebagai bangsa.

Meski sebagai karya fiksi, naskah “Chungking Djakarta” justru memuat banyak imaji yang menggerakan Indonesia untuk merdeka. Kekuatan imaji tersebut juga yang memengaruhi cara pandang masa lalu sejarah yang selalu terbuka. Demikian pula dengan pemikiran-pemikran Sukarno, yang selalu berpeluang terbuka ditafsirkan, seiring dengan temuan-temuan arsip pemikirannya, dan juga repertoar pemikirannya.

Karena itu, pada momentum HUT ke-77 Republik Indonesia, DPC Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM) Kota Malang dan DPC PDI Perjuangan Kota Malang merasa perlu untuk mementaskan repertoar pertunjukan naskah “Chungking Djakarta” di Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang pada 30 Agustus 2022.

Dengan pertunjukan yang dihadiri oleh sekitar 350 orang dari berbagai kalangan dan usia, kami ingin menggali sisi-sisi lain dari pemikiran Sukarno yang kaya dan memiliki lapisan-lapisan yang bersifat lintas disiplin. Dalam konteks theatro film pada karya “Chungking Djakarta” Sukarno ini, repertoarnya juga menekankan aspek-aspek karakter dan nuansa drama toneel di masanya, sebagai arsip untuk melihat kembali pengalaman-pengalaman drama toneel sebagai satu di antara proses modernitas Indonesia pra-kemerdekaan.

Sementara untuk hari ini, “Chungking-Djakarta” memiliki relevansi pada posisi Republik Indonesia dalam pergaulan internasional, yang atas pemikiran dan gagasan Bung Karno tersebut menjadikan semangat dan motivasi Bangsa Indonesia untuk turut juga menjaga ketertiban dan perdamaian dunia. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Untari Ajak Warga Kota Malang Jadi Pionir Lingkungan Bersih, Mulai dari Pilah Sampah di Rumah

MALANG – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno mengajak masyarakat Kota Malang menjadi pionir ...
LEGISLATIF

Guntur Wahono Gagas Koperasi untuk Perkuat Ekonomi Sinden Blitar Raya

BLITAR – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, menggagas pembentukan koperasi bagi anggota ...
KRONIK

Bangkalan Sabet Tiga Penghargaan Wilwatikta Awards, Bupati Lukman: Ada Kerja Keras Petani

SURABAYA – Kabupaten Bangkalan meraih tiga kategori penghargaan dalam ajang Jawapos.com Wilwatikta Awards 2026. ...
KRONIK

Bupati Fauzi Buka Turnamen Voli Pantai Trans Group, Dorong Regenerasi Atlet

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, membuka Turnamen Voli Pantai Trans Group di kawasan Pantai ...
SEMENTARA ITU...

Suroboyo Wani di Tugu Pahlawan, Menghidupkan Kembali Api Perjuangan Arek-Arek Surabaya

SEBUAH permainan bola berlangsung riang di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya. Seorang pemuda bernama Soegiharto ...
LEGISLATIF

Renny Pramana: Korban Bencana Butuh Makanan Bergizi, Bukan Sekadar Mengenyangkan

SURABAYA – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, menegaskan korban bencana ...