MALANG – Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menegaskan bahwa status sebagai seorang kader PDI Perjuangan bukan sekadar mencari jabatan politik maupun sosial. Namun lebih dari itu, adalah sebagai seorang kader ideologis Bung Karno yang siap mengemban amanah memperjuangkan nasib ‘wong cilik’ atau Marhaen.
Saat memberi pengarahan kepada para bakal calon anggota legislatif (caleg) DPRD Kota Malang, Basarah mengatakan bahwa seorang kader yang memutuskan terjun ke dunia politik harus memiliki motif dan tujuan untuk kemaslahatan masyarakat. Bukan untuk memperkaya diri sendiri maupun sekadar ikut-ikutan.
Termasuk bakal caleg (bacaleg) dari PDI Perjuangan Kota Malang yang akan ikut dalam kontestasi politik tahun 2024, dia menyebutkan bahwa seorang yang dipercaya sebagai bacaleg merupakan kader-kader terbaik yang terpilih sebagai pengemban amanah ideologis ajaran-ajaran Bung Karno.
“Maka kawan-kawan sekalian adalah orang-orang terpilih partai di antara petugas-petugas partai yang dari struktural. Yang telah ditetapkan sebagai calon legislatif yang akan dikontestasikan pada Pemilu Legislatif pada tahun 2024 yang akan datang. Di sinilah berlaku hukum petugas partai,” kata Basarah, Rabu (12/10/2022).
Hal itu dia sampaikan di depan para bacaleg DPRD Kota Malang, di pendopo aspirasinya yang berlokasi di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Menurutnya, PDI Perjuangan di Kota Malang pernah memiliki catatan historis luar biasa ketika Pemilu 1999 berhasil mendapatkan 17 kursi DPRD Kota Malang.
Untuk bisa mengulang kembali sejarah keemasan tersebut, terang Basarah, kedisiplinan, ketaatan, dan loyalitas terhadap partai menjadi syarat yang wajib dimiliki oleh jajaran calon-calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan di Kota Malang. Selain itu dia juga menerangkan mengenai tiga hukum petugas partai.

“Pertama sebagai ototnya partai. Sebagai ototnya partai itu kita harus bertenaga, begitu ditugaskan di mana penggalangan, perawatan wilayah, dan lain sebagainya itu teman-teman harus siap menyediakan ototnya untuk melakukan penggalangan masa dan lain-lain sebagainya. Kita harus punya otot untuk berjuang,” jelasnya.
Poin kedua, lanjutnya, adalah sebagai mata dari PDI Perjuangan untuk melihat berbagai dinamika sosial dan politik yang ada di tengah-tengah masyarakat. “Hasil temuan-temuan di lapangan itu dilaporkan kepada hierarki partai di atasnya. Agar informasi dan data itu diolah untuk dijadikan jalan keluar,” urai dia.
Terakhir, kader-kader PDI Perjuangan harus menjadi otaknya partai, untuk melakukan analisa dan pemecahan masalah terkait dengan berbagai problematika dari dinamika yang ada di tengah masyarakat. Sehingga bisa menghasilkan sebuah rumusan kebijakan yang efektif dan masyarakat merasakan manfaatnya.
“Hasilnya adalah menguatkan kinerja partai yang bersifat ideologis. Kerja partai yang bersifat penggalangan, kerja bersifat penguatan masa rakyat, itulah wajah PDI Perjuangan di tengah-tengah masyarakat,” sebut Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Menutup paparannya, Basarah mengajak seluruh bacaleg PDI Perjuangan Kota Malang untuk senantiasa berjuang melawan kegiatan kampanye yang menggunakan politik yang memecah belah, seperti penggunaan narasi bersifat SARA.
Menurutnya, kader PDI Perjuangan harus berada dalam garda terdepan untuk membela dan melakukan edukasi politik terhadap masyarakat agar tidak terjebak dalam upaya polarisasi politik yang menyebabkan perpecahan atas kesatuan dan persatuan bangsa. (ace/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










