Jumat
17 April 2026 | 12 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pada Suatu Arena Karapan

PDIP-Jatim-Mahfud-20022022

Minggu itu (16/1/2022) langit tampak murung. Udara gerah seperti menebal dan merengkuh. Tenda-tenda dibangun di sepanjang kanan-kiri arena kerapan sapi Desa Murtajih, Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Tim Moncong Putih dan para pemilik sapi lainnya, sehari sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Para perawat sapi, tokang tongkok, tokang ambek, dan segenap kru tim sapi karapan tumpah ruah.

Pun saya. Tubuh terasa berletupan dengan detik-detik menegangkan saban Moncong Putih memasuki arena. Dada saya dipenuhi dengan degup penuh harap saban melihat kru tim Moncong Putih begitu bersemangat mengibarkan bendera atau memukul kaleng untuk menyemangati si Moncong Putih. Dari bawah tenda, saya menekan rasa khawatir dengan doa dan harap: semoga Moncong Putih menang.

Tapi begitulah karapan sapi. Pertemuan saya dengan karapan sapi seperti pertemuan dengan puisi: ada yang tak usai untuk dibaca dan dihikmati. Karapan sapi begitu ambigu untuk menuturkan kisah tentang tokang kerrap, tokang tongkok, sapi, dan para pecintanya. Bahkan, di arena karapan sapi, saya menemukan pernak-pernik yang tak kalah menariknya: para penjual makanan, para penonton dari berbagai kalangan, dan juga orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Di masa kecil, ketika ayah membawa saya menyaksikan sapi karapannya berpacu, saya menemukan arena karapan sapi adalah arena prestise. Semua pemilik sapi tidak hanya berebut juara untuk bagian atas dan bawah. Akan tetapi, mereka juga memperebutkan posisi untuk ditokohkan. Kemenangan di arena karapan sapi tidak hanya berimbas pada naiknya pamor sapi. Lebih dari itu, sang pemilik akan mendapatkan aplaus: dielukan, dibicarakan, dan disegani oleh banyak orang. Tak pelak, semasa kecil saya meyakini, mereka yang tampil di arena karapan sapi adalah para tokoh. Orang-orang berpengaruh.

Karena itu, saya pun memaklumi jika para pemilik sapi rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk merawat sapinya dengan sebaik-baiknya. Saya pun memaklumi, jika harga sepasang sapi bisa mengalahkan harga mobil Alphard. Saya pun tidak perlu garuk-garuk kepala ketika melihat kandang sapi begitu ‘wah’. Singkatnya, di pertemuan awal dengan arena karapan sapi, saya menemukan arena karapan sapi sebagai arena mendapatkan dan mempertahankan kehormatan.

***

Awal tahun 2000-an, saya terjun langsung ke arena karapan sapi. Eh, ternyata arena karapan sapi tidak sekadar persoalan prestise. Saya ternyata butuh orang-orang yang paham sapi: jenisnya, perawatannya, dan tentunya kejelian dalam memasangkan sapi. Keterlibatan banyak orang dalam karapan sapi memberi saya ruang untuk melakukan ‘tafsir’ baru pada ruang arena karapan sapi. Selain tradisi, karapan sapi juga berkaitan dengan hajat orang banyak. Harus dikelola dengan baik.

Para kru karapan sapi -begitu saya menamai mereka- memainkan peran cukup penting. Mereka tidak hanya merawat sapi. Di arena karapan sapi, tubuh dan jiwa mereka seolah bersatu dengan sapi-sapi yang berpacu. Kaki-kaki mereka tiada henti menghentak-hentak dengan irama khawatir, kesal, kecewa, girang, dan lain sebagainya. Bagi mereka, kekalahan satu langkah seperti ratapan untuk hari-hari yang gelisah. Kemenangan di detik-detik akhir pun bak siraman hujan bagi kemarau puluhan tahun.

Selain para kru, arena karapan sapi juga menyediakan sudut-sudut perekonomian. Saban gelaran karapan sapi, para penduduk di sekitar lapangan sapi membaca peluang bagus: berjualan. Para penjual nasi, minuman, gorengan, pentol, cilok berjejer di sekitar arena karapan sapi. Mereka meraup keuntungan cukup besar dari arena karapan sapi.

Karena potensi ekonomi itulah, saya melihat perlunya mengelola karapan sapi sebagai industri. Sistem karapan sapi harus lebih modern: jadwal, durasi per pertandingan, tempat penonton, tempat orang berjualan, dan lain sebagai. Dengan menjadikannya sebagai industri, saya berharap pelestarian tradisi karapan sapi berimbas pada pemberdayaan masyarakat, terutama dalam hal ekonomi.

***

Selain seperti puisi, karapan sapi juga mungkin semacam candu. Selalu ada alasan untuk kembali, dan kembali. Tak bisa dipungkiri, saya selalu rindu untuk mendengarkan “Moncong Putih” disebut-sebut di antara nama-nama sapi lainnya: Jet Matic, Saipi Angin, dan lainnya. Dengan nama-nama itu, setiap pemilik sapi karapan mengukuhkan dirinya, memperkenalkan identitasnya, sekaligus menciptakan ruang silaturrahim.

Dengan “Moncong Putih” pula, saya berpegang teguh pada prinsip-prinsip egaliter, keterbukaan, dan sportivitas di arena karapan sapi. Dengan Moncong Putih saya dieluk-elukan sekaligus memanggul tanggung jawab sejarah: menjaga nama baik dan melestarikan tradisi.

Karena tanggung jawab itulah, saya belajar untuk memahami, setiap partai si Moncong Putih sebagai etape melatih diri untuk sportif, berjiwa besar di arena pertempuran, berlapang dada atas kekalahan, serta tak takabur untuk mengangkat piala. Bagi saya, hanya diri yang sportif, yang memiliki jiwa fair play, yang dapat membangun peradaban.

Kembali pada karapan sapi pada hari Minggu itu, si Moncong Putih menjadi juara II golongan atas. Segala kekalutan dalam tubuh meleleh. Seluruh awak tim Moncong Putih tampak ‘plong’. Raut wajah mereka dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan. Proses memang harus dijalani. Persoalan akhir itu urusan takdir. Layaknya panggung teater, arena karapan sapi selalu menyisakan rindu bagi para aktornya untuk berlatih, berproses untuk suatu pertunjukan dalam kebersamaan. Tabik!

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

BERITA TERKINI

Said Abdullah: Pers Harus Jadi Pilar Keempat Demokrasi dan Kontrol Kekuasaan

Said Abdullah menegaskan pers harus menjadi pilar keempat demokrasi dan alat kontrol kekuasaan saat menerima ...
HEADLINE

PWI Jatim Anugerahi Said Abdullah, Dinilai Sukses Kelola Kebijakan Fiskal

MH Said Abdullah menerima penghargaan dari PWI Jawa Timur pada puncak Hari Pers Nasional 2026 di Surabaya, atas ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta OPD Surabaya Publikasikan Output dan Outcome Program ke Publik

Eri Cahyadi meminta OPD Surabaya mempublikasikan output dan outcome program untuk meningkatkan transparansi dan ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Terima Penghargaan KWP Awards 2026, Tekankan Peran Media Kawal Kinerja DPR

Puan Maharani menerima penghargaan KWP Awards 2026 dan menegaskan peran penting media dalam mengawal serta ...
LEGISLATIF

Sawah di Pakusari Terdampak Limbah, DPRD Minta Pemkab Jember Pahami UU Pengelolaan Sampah

Pemkab Jember diminta memahami UU Pengelolaan Sampah setelah limbah mencemari irigasi dan mengancam 10 hektare ...
LEGISLATIF

Pansus DPRD Jatim Soroti Program OPD, Anggaran Besar Belum Tekan Kemiskinan

DPRD Jatim menilai program OPD belum berdampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan meski capaian administratif ...