Jumat
30 Oktober 2026 | 7 : 42

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Nasgor Banteng Pur, Legenda Kuliner yang Bertahan di Tengah Pandemi

PDIP-Jatim-Nasgor-Pur1-13052021

PONOROGO – Pandemi Covid-19 seperti badai bagi para pelaku usaha. Mereka harus lihai dan kreatif untuk menyiasati penurunan omzet yang drastis. Mereka juga harus bertahan, agar usahanya tetap jalan.

Edi Purwanto – kami biasa memanggilnya Pak Pur – yang tinggal di Jalan Jaksa Agung Kecamatan Ponorogo, merupaka pelaku usaha nasi goreng yang bertahan di tengah hempasan pandemi Covid-19. Bersama istri tercintanya, Pak Pur merintis usahanya sejak tahun 1989 silam.

Ditemui di rumahnya -yang sekaligus tempatnya berjualan- Ketua PAC Kecamatan Ponorogo itu mengaku, di awal pandemi tahun lalu, omzetnya turun drastic, hingga 70 persen.

“Selama pandemi menurun sekitar 70 persen. Pendapatan pokoknya parah tahun kemarin. Tahun ini, alhamdulillah Kembali stabil,” ujar Pak Pur, Rabu (12/5/2021).

Walaupun turun drastis, Pak Pur bertahan. Usaha nasi gorengnya terus mengepul. Kegigihannya pun membuahkan hasil. Lambat-laun pendapatannya stabil kembali. Bahkan, menjelang lebaran, pundi-pundi nasi gorengnya mengalami kenaikan signifikan.

“Mau lebaran ada peningkatan dikit. Kalau pendapatan nggak mesti, yang penting bisa buat makan,” ujar ayah dua anak itu sambil tertawa.

Selain nasi goreng, Pak Pur juga menjual nasi mawut, bakmi godog, bakmi goreng, dan capjay. Semua menu dibandrol dengan harga 12 ribu rupiah. “Awalnya 10 ribu, dinaikkan 2 ribu ini karena bahan-bahan seperti sayur dan telur juga mengalami kenaikan. Namun porsi tetap ditambah dan pelanggan tidak berkurang.”

Nasgor Pak Pur sudah dikenal di wilayah Kecamatan Ponorogo. Pelanggan tetapnya cukup banyak, terutama para pengurus DPC PDI Perjuangan Ponorogo. “Orang-orang sudah tahu karena sudah lama, jadi pelanggannya banyak. Orang DPC juga ada yang langganan di sini,” imbuh Pak Pur.

Cerita unik Pak Pur jelang petang itu, adalah persoalan menu laki-laki dan perempuan. Menurut Pak Pur, para pelanggan laki-laki lebih menyukai nasi goreng, sedangkan para perempuan kebanyakan suka capjay.

“Kalau perempuan suka capjay. katanya buat diet,” jelas Pak Pur.  

Keunikan lainnya, kalau kita biasanya sering menjumpai penjual sekaligus tukang masak nasi goreng adalah laki-laki, tapi tidak dengan nasi goreng Pak Pur. Justru sang istrilah yang lihai memasak nasi goreng. Pak Pur sendiri membantu membuatkan minuman dan mengantarkan pesanan. Kadang pula dibantu oleh kedua anaknya. Usahanya buka mulai pukul 17.00 sampai 23.30. (jrs/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Sonny Salurkan 37 Alsintan pada 36 Kelompok Tani Bondowoso

BONDOWOSO – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, menyerahkan bantuan 37 unit alat dan mesin pertanian ...
KRONIK

Peringati Sumpah Pemuda, Aktivis Repdem Jatim Bersihkan Sampah Gunung Penanggungan

Lebih dari 100 aktivis Repdem PDI Perjuangan Jatim membersihkan sampah di Puncak Bayangan Gunung Penanggungan dalam ...
KRONIK

HGU PT Makarti Dipersoalkan Warga Karangsari, Sonny: Banyak Opsi untuk Aksi

BANYUWANGI – Persoalan Hak Guna Usaha (HGU) PT Makarti mencuat dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang ...
LEGISLATIF

Lewat GCC, Novita Hardini Dorong Kesadaran Warga Kelola Sampah dari Rumah

TRENGGALEK – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mendorong masyarakat membangun kebiasaan memilah dan ...
LEGISLATIF

Gus Falah Minta Pengedar Narkoba Diproses Maksimal, Soroti Bahaya Penyalahgunaan Vape

LAMONGAN – Anggota Komisi III DPR RI, Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah, meminta aparat kepolisian memproses hukum ...
LEGISLATIF

Hari Yulianto: Anggaran Rp300 Juta Tak Cukup Tanpa Kesadaran Masyarakat Kelola Sampah

Hari Yulianto menegaskan kesadaran masyarakat menjadi kunci mengatasi sampah. Rencana BKK Rp300 juta Sidoarjo pada ...