
BOGOR – Presiden Joko Widodo mengatakan, Belanda adalah salah satu mitra penting Indonesia. Di kawasan Eropa, Belanda merupakan mitra dagang Indonesia terbesar kedua, mitra investasi terbesar pertama, dan mitra pariwisata terbesar keempat.
“Saya menyambut baik kunjungan Sri Baginda yang juga disertai pengusaha Belanda dalam jumlah yang besar,” kata Jokowi, di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (10/3/2020).
Pernyataan pers ini dia sampaikan terkait kunjungan Raja Belanda Willem-Alexander beserta Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti dan delegasi Belanda ke Indonesia. Kunjungan ini sebagai yang pertama dilakukan Kepala Negara Kerajaan Belanda sejak 25 tahun lalu.
Selama kunjungan Raja Belanda, menurut Jokowi, kedua negara telah melakukan penandatanganan berbagai kerja sama antarpemerintah.
”Beberapa kerja sama yang baru yang penting antara lain keberkelanjutan kerja sama dalam isu women, peace, and security, kemudian kerja sama pengelolaan pengendalian penyakit menular,” jelas Jokowi.

Selain itu, Jokowi menyampaikan bahwa ada sejumlah kerja sama antarbisnis juga dilakukan dengan nilai yang cukup besar, mencapai kurang lebih USD 1 miliar.
”Saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah, namun kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran sejarah tersebut untuk meneguhkan komitmen kita membangun sebuah hubungan yang setara, yang saling menghormati, dan saling menguntungkan,” ujarnya.
Usai menyampaikan keterangan pers bersama, Jokowi dan Ibu Negara Iriana melihat keris yang terdapat dalam kotak kaca. Keris tersebut merupakan benda pusaka milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan oleh Pemerintah Belanda kepada Indonesia.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim terlihat menjelaskan perihal keris tersebut kepada Presiden Jokowi dan Raja Belanda.
Keris itu dikabarkan sempat hilang dan pada akhirnya ditemukan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Setelah melalui penelitian panjang yang mendalam yang juga diperkuat ahli dari kedua negara.

Sebelumnya, keris itu didapatkan Pemerintah Belanda saat penangkapan Pangeran Diponegoro setelah perang besar antara 1825-1830. Kolonel Jan-Baptist Cleerens kemudian memberikan keris Pangeran Diponegoro itu sebagai hadiah untuk Raja Willem I pada tahun 1831.
Keberadaan keris tersebut sempat menjadi teka-teki setelah Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) bubar. KKZ merupakan tempat koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda.
Momentum kunjungan Raja dan Ratu Belanda Belanda menjadi kesempatan baik bagi Pemerintah Belanda untuk mengembalikan benda pusaka tersebut kepada Indonesia.
“Ini merupakan kesempatan yang baik bekerja bersama untuk sebuah hubungan masa depan antara Indonesia dan Belanda. Saya sangat bersyukur bahwa sebagian besar anggota kabinet Belanda hadir bersama saya di sini,” kata Raja Belanda Willem-Alexander. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









