Selasa
27 Oktober 2026 | 5 : 53

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Muncul Segregasi di Masyarakat, Basarah: Harus Segera Diselesaikan!

pdip-jatim-basarah-diskusi-pa-gmni

JAKARTA – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Basarah mengatakan rangkaian panjang pelaksanaan Pemilu 2019 telah berakhir setelah KPU RI menetapkan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024.

Meski demikian, kata Basarah, secara ideologis dan politis, hal itu masih meninggalkan berbagai masalah yang harus segera diselesaikan. Salah satunya fenomena pembelahan atau segregasi di tubuh masyarakat, baik karena perbedaan afiliasi politik capres maupun perbedaan dengan latar belakang keyakinan SARA dan ideologi.

“Segregasi tidak hanya terjadi di pendukung 01 dan 02, melainkan sudah mengarah pada upaya pembelahan antar golongan dalam masyarakat. Sebagai contoh pertentangan Pancasila vs khilafah, negara vs agama, TNI vs Polri, TKN vs BPN,” kata Basarah dalam keterangannya, Senin (1/7/2019).

“Belum lagi kita temukan fenomena adanya beberapa kelompok dalam masyarakat yang menunggangi momentum pemilu untuk kepentingan ideologisnya di luar agenda pemilu bangsa Indonesia. Inilah yang menjadi concern kita semua,” imbuhnya.

Fenomena tersebut memberi dampak pada Pancasila sebagai ideologi bangsa yang berada dalam posisi terancam. Terlebih fenomena terkini, kita temukan adanya fragmentasi di sebagian masyarakat yang masih mempertentangkan antara Pancasila dan negara serta antara Islam dan kebangsaan.

Padahal, kata Wakil Sekjen PDI Perjuangan ini, sejak konsensus final Pancasila pada 18 Agustus 1945, Pancasila resmi menjadi milik bangsa Indonesia, bukan milik golongan ataupun rezim.

“Ketika kita sibuk mempertentangkan Islam dan Pancasila, padahal keduanya sudah final, justru dua ideologi transnasional, fundamentalisme agama, serta paham liberalisme dan fundamentalisme pasar tengah melakukan eksperimen dengan gencar di Tanah Air,” tuturnya.

“Faktanya, menurut BPNT, ada 7 kampus negeri terpapar radikalisme, kemudian data Kemendagri menyebut 19,4% ASN terpapar radikalisme, selanjutnya 3% TNI menurut penjelasan Menteri Pertahanan juga terpapar radikalisme, dan BNPT menyebut 2 juta pegawai BUMN berpotensi kuat terpapar ideologi transnasionalisme,” tambah dia.

Di sisi lain, liberalisme dan fundamentalisme pasar yang mengagungkan kebebasan atas nama hak asasi manusia juga bekerja masif di Indonesia. Sebagai contoh, propaganda gaya hidup bebas, narkoba, dan mungkin suatu saat akan menuntut legalisasi perkawinan sejenis di Indonesia. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Ina Ammania Ingatkan Guru Madrasah, AI Tak Bisa Gantikan Keteladanan

BONDOWOSO – Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, mengingatkan guru madrasah agar tidak menyerahkan proses ...
SEMENTARA ITU...

Ski Air Ngawi Bidik 10 Emas di Popda Jatim XV 2026, Total Target 20 Medali

NGAWI – Cabang olahraga (cabor) ski air Kabupaten Ngawi membidik 20 medali dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah ...
KRONIK

Kawal Kasus Kekerasan Anak Medokan, Armuji Dukung Evaluasi UU Perlindungan Anak

SURABAYA – Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Anti-Perundungan ...
LEGISLATIF

Eri Irawan Dorong Wira Wiri Kenpark–Purabaya Naik Kelas, Kapasitas Armada Perlu Ditambah

SURABAYA – Tingginya keterisian penumpang dan panjangnya jarak perjalanan menjadi alasan Ketua Komisi C DPRD ...
MILANGKORI

Mbah Jenggot, Penjaga Langen Tayub Tuban yang Bertahan di Antara Panggung dan Perjuangan Hidup

Sejak 2001, Suparminto setia menjadi cucuk lampah seni Langen Tayub. Ketika tanggapan ramai, ada penghasilan untuk ...
SEMENTARA ITU...

Doding Rahmadi Ajak Rider Trail Perkuat Gotong Royong, Bantu Pembangunan Masjid di Trenggalek

TRENGGALEK – Hobi memacu adrenalin di jalur perbukitan dan hutan bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. ...