SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak hanya menghentikan aktivitas seorang anak yang diduga diajak ibunya mengamen hingga malam hari. Pemkot juga menyiapkan alternatif penghasilan bagi keluarga tersebut melalui fasilitasi pelatihan dan pengembangan keterampilan menjahit serta rencana usaha berjualan gorengan.
Langkah itu dilakukan agar persoalan ekonomi keluarga tidak kembali mendorong anak turun ke jalan untuk mencari penghasilan.
Kasus tersebut ditindaklanjuti Pemkot Surabaya setelah adanya laporan masyarakat melalui hotline Lapor Cak Eri. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) kemudian melakukan penelusuran dan kunjungan langsung ke rumah keluarga.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, laporan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya melindungi anak dari berbagai bentuk eksploitasi. Menurutnya, anak harus mendapatkan hak untuk tumbuh, berkembang, dan bersekolah tanpa dibebani aktivitas mencari penghasilan.
“Kalau ada laporan anak kecil mengamen, harus segera diperiksa. Tidak boleh ada anak kecil yang mengamen di jalanan. Datangi orang tuanya dan jelaskan bahwa tindakan seperti itu bisa termasuk eksploitasi anak dan ada ancaman hukumnya. Kita harus tegas karena yang kita selamatkan adalah anak-anak dan masa depan mereka,” kata Eri, Selasa (29/9/2026).
Eri juga mengapresiasi warga yang melaporkan dugaan persoalan tersebut melalui kanal pengaduan. Menurut dia, kepedulian masyarakat membantu Pemkot lebih cepat mengetahui persoalan yang membutuhkan penanganan.
“Terima kasih kepada warga yang sudah peduli dan berkenan melapor melalui hotline saya. Laporan seperti ini sangat membantu kami untuk segera turun dan memastikan kondisi anak,” ungkap politisi PDI Perjuangan itu.
Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati mengatakan, tim bersama konselor melakukan home visit untuk memastikan kondisi anak dan keluarganya. Dari hasil penelusuran, anak tersebut diketahui diajak ibunya mengamen secara berkeliling dari kawasan Sememi hingga Sukomanunggal.
Namun, menurut Ida, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan melarang anak mengamen. Pemkot juga perlu memastikan keluarga memiliki alternatif penghasilan agar persoalan ekonomi tidak kembali membuat anak terlibat dalam aktivitas mencari uang.
“Kami menyampaikan kepada ibunya bahwa Pemkot akan melakukan intervensi agar ibu bisa bekerja dan berdaya, bukan dengan mengeksploitasi anak melalui kegiatan mengamen atau pekerjaan lainnya,” ujar Ida.
Dari hasil pendampingan diketahui sang ibu memiliki keterampilan menjahit. Karena itu, DP3APPKB menawarkan fasilitasi pelatihan dan pengembangan keterampilan menjahit sebagai salah satu alternatif sumber penghasilan.
Selain itu, keluarga tersebut juga menyampaikan minat untuk berjualan gorengan atau makanan ringan. Rencana usaha tersebut akan turut difasilitasi Pemkot Surabaya sebagai bagian dari penguatan ekonomi keluarga.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya menangani persoalan perlindungan anak secara menyeluruh. Anak tidak hanya dijauhkan dari aktivitas mengamen, tetapi keluarga juga didorong memiliki kemampuan ekonomi sehingga kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi tanpa melibatkan anak.
Ida menambahkan, anak memiliki hak mendapatkan pengasuhan yang baik serta pendidikan yang layak. Dalam kasus tersebut, kondisi keluarga turut memengaruhi proses pendidikan anak yang belum berjalan maksimal.
“Anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang baik dari orang tuanya dan hak mendapatkan pendidikan. Karena kondisi keluarganya, pendidikan anak ini menjadi tidak maksimal. Kami ingin memastikan hak-hak anak tersebut kembali terpenuhi,” jelasnya.
Selain intervensi ekonomi, pendampingan juga diarahkan pada penguatan komunikasi dan pola pengasuhan dalam keluarga. Menurut Ida, hubungan orang tua dan anak memiliki pengaruh besar terhadap proses tumbuh kembang anak.
“Orang tua harus memahami kondisi anak, baik secara psikologis maupun dari aspek tumbuh kembangnya. Komunikasi dan kedekatan antara orang tua dan anak sangat penting. Ketahanan keluarga harus kita bangun bersama,” pungkasnya. (gio/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












