Senin
26 Oktober 2026 | 12 : 21

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Hasto: Indonesia Kehilangan Intelektual yang Menghidupkan Pemikiran Bung Karno untuk Generasi Muda

pdip jatim 260910 angga sekjen

JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut Indonesia kehilangan sosok intelektual yang tekun menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno untuk menjawab persoalan zaman setelah Airlangga Pribadi Kusman berpulang, Rabu (9/9/2026).

Hasto mengenang Airlangga atau yang akrab disapa Mas Angga sebagai akademisi kritis dan produktif yang memiliki perhatian kuat terhadap demokrasi, keadilan sosial, ekonomi-politik, serta pemikiran Bung Karno.

“PDI Perjuangan sangat berduka atas berpulangnya Mas Airlangga Pribadi Kusman. Indonesia kehilangan seorang intelektual yang memiliki keberanian berpikir, ketekunan akademik, dan kepedulian yang sangat kuat terhadap persoalan rakyat, demokrasi, serta masa depan Indonesia,” kata Hasto.

Baca juga: Airlangga Pribadi Kusman Meninggal, Deni Wicaksono: Indonesia Kehilangan Sosok Visioner

Menurut Hasto, salah satu kekuatan Airlangga adalah ketekunannya menggali pemikiran Bung Karno dan mendialogkannya dengan persoalan kontemporer.

Bagi Airlangga, kata Hasto, Bung Karno tidak cukup ditempatkan sebagai tokoh sejarah atau sekadar dikenang melalui simbol. Pemikiran Bung Karno harus terus dipelajari, diperdebatkan secara intelektual, dan dikontekstualisasikan untuk menjawab tantangan generasi masa kini.

“Mas Angga memiliki kegelisahan intelektual yang sangat kuat tentang bagaimana pemikiran Bung Karno tetap hidup. Bung Karno bagi Mas Angga adalah rekam jejak masa lalu, sekarang, dan masa depan,” ujarnya.

Hasto mengatakan Airlangga juga mengingatkan kembali falsafah pembebasan rakyat Marhaen sebagai bagian penting dari praksis ideologi Pancasila. Menurutnya, gagasan Marhaenisme, keadilan sosial, nasionalisme, internasionalisme, dan pembebasan manusia perlu terus dibaca dalam konteks persoalan hari ini.

Jejak pemikiran tersebut salah satunya terlihat dalam karya terbaru Airlangga, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang ditulis bersama Rocky Gerung.

Melalui buku tersebut, Airlangga berupaya mempertemukan gagasan Marhaenisme dengan generasi baru Indonesia. Bagi Hasto, upaya itu menunjukkan kepedulian Airlangga agar anak muda tidak tercerabut dari akar pemikiran para pendiri bangsa.

“Saya melihat ada pesan yang sangat kuat dari Mas Angga: anak-anak muda jangan hanya mengenal Bung Karno dari foto, nama jalan, atau potongan-potongan pidatonya. Mereka harus mengenal alam pikir Bung Karno, membaca gagasannya, memahami keberpihakannya kepada wong cilik, kemudian menggunakannya sebagai pisau analisis untuk melihat persoalan zaman mereka sendiri,” kata Hasto.

Hasto secara khusus mengenang perjumpaan intelektualnya dengan Airlangga di Blitar, Jawa Timur, pada pertengahan Juni 2026. Keduanya menjadi narasumber Seminar Nasional “Membumikan Pancasila” yang digelar di halaman Museum Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno.

Dalam forum tersebut, Hasto dan Airlangga sama-sama mengingatkan pentingnya mengembalikan Pancasila dan Marhaenisme pada watak dasarnya sebagai ideologi yang berpihak kepada rakyat kecil.

Airlangga saat itu menguraikan makna filosofis Pancasila 1 Juni sebagai rangkuman pemikiran Bung Karno tentang kemerdekaan yang tidak berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi hingga ekologis.

Bagi Hasto, diskusi malam itu menjadi salah satu perjumpaan intelektual yang berkesan. Terlebih, forum berlangsung di Blitar yang menjadi salah satu pusat jejak sejarah dan pemikiran Bung Karno.

“Kami berbicara tentang bagaimana Pancasila dan Marhaenisme harus kembali hadir menjawab persoalan nyata rakyat. Mas Angga begitu bersemangat ketika membedah Bung Karno. Bukan dengan romantisme masa lalu, tetapi dengan perspektif akademik dan keberpihakan yang sangat jelas kepada wong cilik,” tutur Hasto.

Pertemuan intelektual keduanya berlanjut di Megawati Institute pada akhir Juli 2026 dengan fokus menelaah Marhaenisme dalam gagasan Soekarno tentang negara gotong royong.

Menurut Hasto, pilihan Airlangga menulis Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z semakin memperlihatkan kegelisahan intelektual tersebut. Airlangga ingin membangun jembatan antargenerasi agar pemikiran Bung Karno dapat dibaca kembali oleh anak muda menggunakan bahasa dan konteks zamannya.

“Mas Angga memiliki keyakinan bahwa generasi baru Indonesia harus mengenal Bung Karno secara lebih substantif. Bukan menghafalkan Bung Karno, tetapi memahami bagaimana Bung Karno membaca rakyat, bangsa dan dunia; bagaimana kemerdekaan harus menghadirkan keadilan sosial,” ujarnya.

Hasto mengatakan kolaborasi Airlangga dan Rocky Gerung dalam buku tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat narasi pembebasan rakyat Marhaen. Gagasan itu, menurutnya, juga disuarakan dalam berbagai forum di Blitar, Surabaya dan sejumlah kota lainnya.

Hasto berharap karya dan pemikiran Airlangga terus dibaca, khususnya oleh mahasiswa dan generasi muda Indonesia.

“Cara terbaik menghormati seorang intelektual adalah menjaga agar gagasannya terus hidup. Bacalah karya-karya Mas Angga, diskusikan, kritik, dan kembangkan. Teruslah mengenal Bung Karno dan pemikirannya. Dengan cara itulah api pemikiran dan perjuangan tidak pernah padam,” pungkas Hasto. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Warga Ponggok Kesulitan Air Bersih, PDIP Kediri Salurkan Bantuan dan Siapkan Solusi Jangka Panjang

KEDIRI – Kesulitan air bersih yang dialami warga Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mendorong DPC PDI ...
HEADLINE

Megawati di Merah Muda Fest: Anak Muda Harus Kritis dan Bertanggung Jawab atas Masa Depan Bangsa

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mendorong generasi muda berani berpikir kritis, ...
SEMENTARA ITU...

Hujan Tak Surutkan Semangat, Ribuan Warga Blitar Ikuti Jalan Sehat Hari Santri

BLITAR – Hujan rintik-rintik tak menyurutkan semangat ribuan warga Kabupaten Blitar mengikuti Jalan Sehat Hari ...
SEMENTARA ITU...

Doding Rahmadi Dukung Gantangan Perkutut Trenggalek, Berpotensi Gerakkan Ekonomi Lokal

TRENGGALEK – Gantangan burung perkutut di Kabupaten Trenggalek berpotensi berkembang menjadi penggerak ekonomi ...
KRONIK

Kanang: Banteng Futsal League Mbah Kung Cup Bagian dari Konsolidasi Partai

NGAWI – Banteng Futsal League Mbah Kung Cup 2026 menjadi bagian dari konsolidasi PDI Perjuangan untuk memperkuat ...
LEGISLATIF

Erma Susanti Dorong Kemloko Jadi Agropolitan, Kembangkan Potensi Wisata Koi

BLITAR – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Erma Susanti, mendorong masyarakat Desa Kemloko, Kecamatan ...