Senin
10 Agustus 2026 | 9 : 12

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Jersey Soekarno Cup 2026, Ketika Identitas Daerah Menjelma di Lapangan

pdip jatim 260810 jersey sc 1

SURABAYA – Di lapangan sepak bola, jersey biasanya hanya dipandang sebagai seragam. Dipakai untuk membedakan satu tim dengan tim lainnya, lalu basah oleh keringat setelah 90 menit pertandingan.

Namun di Soekarno Cup 2026, jersey punya cerita yang lebih panjang.

Ia membawa nama daerah, menyelipkan sejarah, memuat simbol budaya, sekaligus menjadi ruang bagi produk lokal untuk menunjukkan kemampuan.

Dari Jawa Timur hingga Papua Raya, dari Yogyakarta sampai Bali, setiap tim datang dengan cerita yang dijahit ke dalam kostum mereka.

Baca juga: Soekarno Cup Buka Jalan Talenta Pelosok, Eri: Ini Realisasi Mimpi Anak Petani dan Nelayan 

Stadion Gelora 10 Nopember menjadi panggung pertama untuk memperlihatkan cerita itu. Enam belas tim dari berbagai provinsi membawa identitas masing-masing, bukan hanya lewat permainan, tetapi juga melalui apa yang mereka kenakan.

Banteng FC Jawa Timur, sebagai tuan rumah, misalnya, memilih warna hijau untuk jersey home mereka.

Sekilas, jersey itu tampak sederhana. Tetapi di balik warna dan desainnya, ada semangat yang ingin dibawa tim Jawa Timur: keberanian, sejarah perjuangan, sekaligus tekad mempertahankan gelar juara Soekarno Cup.

Slogan “Jatim Wani” menjadi salah satu penanda utama. Di dalam desainnya, terselip kisah perjuangan di kawasan Jembatan Merah, sebuah tempat yang lekat dengan sejarah Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

“Wani” bukan sekadar tulisan di dada pemain. Bagi Banteng FC Jatim, kata itu adalah semangat yang ingin dibawa sejak pertandingan pertama.

“Kita mengusung tema ‘Wani’ sebagai kekuatan orang Jawa Timur. Kami berikan yang terbaik dari bahan hingga semuanya agar pemain termotivasi mempertahankan juara,” kata Sekretaris Tim Banteng FC Jatim, Andrian, saat ditemui dalam match meeting dan rilis jersey, Minggu (9/8/2026).

Cerita tentang jersey Jatim ternyata tidak berhenti pada desain.

Ada tangan-tangan pelaku usaha lokal yang ikut bekerja di baliknya. Seluruh jersey Banteng FC Jatim diproduksi di Jombang, oleh produsen yang telah berpengalaman menangani kebutuhan kostum tim-tim liga profesional.

Bagi Andrian, keterlibatan produsen lokal sekaligus menjadi bagian dari semangat pemberdayaan ekonomi daerah.

Tetapi tetap saja, jersey adalah pakaian yang harus menemani pemain berlari. Karena itu, kenyamanan menjadi pertimbangan utama.

Tahun ini, Banteng FC Jatim memilih bahan yang lebih ringan dan diklaim memiliki kualitas terbaik, dengan cutting yang mengikuti lekuk tubuh pemain. Tujuannya sederhana: jangan sampai jersey justru membatasi pergerakan ketika pertandingan berlangsung.

“Kita semakin tahun semakin berinovasi. Jadi kita mengutamakan terkait kenyamanan pemain di lapangan, membuat pemain terasa lebih ringan dan bahan yang kita pilih adalah bahan terbaik untuk saat ini,” ujar Andrian.

Dari Surabaya, cerita kemudian bergerak jauh ke tim Papua Raya.

Jika Jatim membawa kisah perjuangan Kota Pahlawan, Papua Raya datang dengan identitas yang tidak kalah kuat. Merah dan hitam menjadi warna utama yang langsung mencuri perhatian.

Di sana ada dua identitas yang bertemu. Merah sebagai salah satu warna yang lekat dengan PDI Perjuangan, sementara hitam mengingatkan pada warna yang identik dengan Persipura Jayapura.

Namun yang membuat jersey Papua Raya semakin khas adalah ornamen ukiran khas Papua Selatan yang ditempatkan pada bagian berwarna merah.

Ornamen itu bukan sekadar pemanis desain. Ada pesan yang ingin disampaikan: kebanggaan terhadap akar budaya sekaligus semangat untuk berjalan bersama.

Pesan tersebut dirangkum dalam sebuah kalimat pendek yang ditempatkan sebagai tagline: “Satu Hati, Satu Arah”.

Manajer Tim Papua Raya Mukri Hamadi mengatakan, kalimat itu menjadi pengingat bahwa pertandingan tidak semestinya menghapus persaudaraan.

“Itu untuk memberikan semangat kepada semua pemain, tapi juga kepada semua tim yang dalam kompetisi ini. Walaupun kita bertanding tetapi tetap kita satu hati dan satu tujuan untuk meningkatkan persatuan kita di Indonesia,” jelasnya.

Dari Papua, cerita jersey bergerak ke Yogyakarta.

Daerah Istimewa Yogyakarta memilih warna hitam dengan ornamen banteng yang menjadi pusat perhatian. Di balik desain itu ada filosofi tentang api—semangat yang terus menyala dan tidak mudah padam.

Direktur Tim Yogyakarta Susanto Dwi Antoro mengatakan, banteng dalam desain tersebut menggambarkan kekuatan dan semangat yang ingin dibawa tim sepanjang turnamen.

Yang menarik, jersey itu juga lahir dari kolaborasi dengan UMKM lokal di Kabupaten Sleman.

Sleman sendiri bukan nama yang asing dalam sepak bola Yogyakarta. Wilayah ini dikenal memiliki basis suporter yang militan. Karena itu, ketika produk lokal Sleman ikut mengerjakan jersey tim Yogyakarta, ada semacam pertemuan antara industri kreatif dan denyut sepak bola daerah.

Jersey tersebut sekaligus menjadi simbol pemersatu empat kabupaten dan satu kota di Yogyakarta yang bergabung dalam satu tim.

“Nyala api ini wajib sebagai pemersatu kekuatan seluruh komponen sepak bola di Yogya,” kata Susanto.

Sementara dari Pulau Dewata, Bali membawa cerita yang berbeda lagi.

Warna merah, putih, dan hitam mendominasi jersey mereka. Tiga warna yang dikenal sebagai Tridatu, sebuah simbol yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Bali.

Tridatu merupakan jalinan tiga benang berwarna merah, putih, dan hitam. Dalam tradisi Bali, ketiganya memiliki makna dan nilai spiritual yang kuat.

Bagi tim Bali, identitas tersebut tetap dipertahankan dalam jersey Soekarno Cup 2026.

Memang, secara corak tidak banyak perubahan dibandingkan musim sebelumnya. Namun di dalamnya tetap ada motif Banteng Bali yang menjadi simbol ambisi untuk bertarung dan mengejar gelar juara.

Sekretaris Tim Sepakbola Bali I Made Subandi mengatakan, Tridatu dipilih bukan semata karena keindahan warnanya.

“Kita pakai Tridatu sebagai simbol keseimbangan. Dengan semangat Banteng Bali, jersey ini membawa ambisi kami menjadi juara,” ujarnya.

Begitulah jersey-jersey itu kemudian berbicara.

Ada Jembatan Merah dan keberanian “Jatim Wani”. Ada ukiran Papua Selatan dan pesan “Satu Hati, Satu Arah”. Ada api Yogyakarta yang tak boleh padam. Ada pula Tridatu Bali yang membawa pesan keseimbangan.

Semua berbeda.

Tetapi ketika pemain memasuki lapangan, seluruh cerita itu menemukan satu titik temu: sepak bola.

Sebab pada akhirnya, Soekarno Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang paling banyak mencetak gol. Turnamen ini juga mempertemukan beragam identitas dalam satu lapangan.

Dan jersey menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan kepada siapa pun yang melihatnya: “Kami datang membawa daerah kami.” (nia/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Usung Semangat “Satu Hati, Satu Arah”, Banteng Papua Raya Siap Memberi Kejutan

SURABAYA – Perjuangan luar biasa ditunjukkan oleh tim Papua Raya demi berpartisipasi dalam Soekarno Cup 2026. Skuad ...
KRONIK

Persiapan Tiga Bulan, Banteng Istimewa Yogyakarta Siap Rebut Piala Soekarno Cup

SURABAYA – Tim Banteng Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) datang ke Surabaya sebagai kontingen perdana dengan rasa ...
OLAHRAGA

PSSI Jatim: Soekarno Cup Perbanyak Panggung Pemain Muda untuk Regenerasi Timnas

PSSI Jatim menilai Soekarno Cup 2026 memperbanyak panggung pemain U-17 dan membantu regenerasi Timnas Indonesia. ...
KRONIK

Tim Banteng Jatim FC Siap Ukir Sejarah Juara Berturut-turut di Soekarno Cup 2026

SURABAYA – Sebagai tuan rumah sekaligus juara bertahan, tim Jawa Timur (Jatim) memikul misi besar dalam perhelatan ...
OLAHRAGA

Jersey Soekarno Cup 2026, Ketika Identitas Daerah Menjelma di Lapangan

SURABAYA – Di lapangan sepak bola, jersey biasanya hanya dipandang sebagai seragam. Dipakai untuk membedakan satu ...
OLAHRAGA

16 Tim Bertemu di Soekarno Cup, Komarudin: Sepak Bola Harus Jadi Ruang Persatuan Anak Muda

Komarudin Watubun menegaskan Soekarno Cup 2026 bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi menjadi ruang ...