Kisah Bung Karno mendatangi ulama di tengah krisis 1948 hingga melahirkan tradisi halal bihalal. Bukti kedekatan Soekarno dengan Islam.
SURABAYA — Di tengah situasi bangsa yang penuh gejolak pada 1948, Soekarno ternyata tidak hanya berpikir sebagai seorang kepala negara.
Ia juga gelisah—sebagai manusia.
Konflik antartokoh bangsa saat itu kian meruncing. Polarisasi menguat, persatuan terancam.
Dalam kondisi seperti itu, Bung Karno tidak semata mencari jalan keluar lewat strategi politik.
Ia memilih jalan yang lebih sunyi: mendatangi kiai.
Ketua Bidang Kebijakan Publik dan Reformasi Birokrasi Kerakyatan DPP PDI Perjuangan, Abdullah Azwar Anas, mengisahkan momen itu sebagai titik penting yang kerap luput dari narasi sejarah.
Bung Karno bersilaturahmi dengan ulama besar pendiri NU, Abdul Wahab Chasbullah. Bukan untuk politik praktis, melainkan meminta nasihat.
Baca juga: Ning Nadia Ungkap Sisi Hangat Halal Bihalal PDIP Jatim: “Ternyata Seasik Itu”
Dari pertemuan itulah, sebuah gagasan lahir—sederhana tapi berdampak panjang: halalun bi halal.
“Ketika Bung Karno menghadapi kebuntuan, beliau datang ke kiai. Dari situlah muncul halalun bihalal. Ini murni dari Indonesia,” ujar Anas dalam Halal Bihalal PDIP Jatim di Surabaya, Minggu (12/4/2026).
Gagasan itu kemudian diwujudkan. Pada 1948, untuk pertama kalinya, halal bihalal digelar di Istana Negara—mempertemukan pihak-pihak yang berseteru dalam suasana yang lebih cair, lebih manusiawi: saling memaafkan.
Sejak saat itu, tradisi tersebut hidup. Bahkan melampaui sekat agama, menjadi identitas khas Indonesia.
Bagi Anas, kisah ini sekaligus meluruskan anggapan lama yang menempatkan Bung Karno seolah berjarak dari nilai-nilai agama. Justru sebaliknya, relasi Bung Karno dengan ulama sangat dekat—bahkan menjadi rujukan di saat genting.
Jejak itu tak berhenti di dalam negeri.
Di panggung internasional, Bung Karno juga menunjukkan keberpihakannya pada dunia Islam. Ia disebut pernah turun tangan dalam dinamika politik Mesir, saat Presiden Gamal Abdel Nasser berencana menutup Universitas Al-Azhar.
Bung Karno menilai Al-Azhar sebagai pusat ilmu penting bagi dunia, termasuk Indonesia. Sikap itu berbuah panjang: akses beasiswa bagi pelajar Indonesia yang terus berjalan hingga hari ini.
“Dukungan Bung Karno terhadap Islam itu nyata,” kata Anas.
Lebih jauh, semangat Bung Karno dalam meramu kebangsaan dan keagamaan disebut turut menginspirasi negara-negara di Timur Tengah.
Kini, warisan itu masih dijaga. Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, disebut melanjutkan jejak diplomasi tersebut melalui berbagai sikap solidaritas terhadap negara-negara sahabat.
Pada akhirnya, dari sebuah kegelisahan, lahir sebuah tradisi.
Dan dari seorang pemimpin yang mau mendengar, tumbuh cara baru untuk menyatukan bangsa. (nia/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










