KABUPATEN PROBOLINGGO — Pemanfaatan Jembatan Kaca di kawasan wisata Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, hingga kini belum menemui titik terang. Meski proses serah terima aset telah rampung, destinasi yang diproyeksikan menjadi magnet baru pariwisata nasional tersebut belum kunjung dibuka untuk umum.
Kondisi ini memicu keprihatinan dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Khairul Anam, menyayangkan keterlambatan operasional yang menyebabkan daerah kehilangan momentum besar dalam menarik kunjungan wisatawan.
”Daerah telah kehilangan banyak momentum besar, mulai dari libur Tahun Baru hingga hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah ini,” ujar Khairul di Probolinggo, Senin (30/3/2026).
Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini mendesak agar regulasi dan tata kelola jembatan segera dituntaskan. Ia berharap destinasi tersebut sudah dapat beroperasi pada April mendatang agar tidak kehilangan masa puncak kunjungan (high season) berikutnya.
”Kejelasan regulasi harus segera tuntas sebagai fondasi operasional yang profesional. Kami juga meminta adanya transparansi dalam rencana pengelolaan yang melibatkan pihak ketiga agar birokrasi tidak berbelit-belit,” tegas pria yang akrab disapa Cak Anam tersebut.

Kendala Administrasi
Secara terpisah, pihak otoritas kawasan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), mengonfirmasi bahwa kendala utama belum dibukanya akses publik adalah proses penunjukan pengelola.
Ketua Tim Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan TNBTS, Hendra Wisantara, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih menunggu kepastian terkait pihak ketiga yang akan mengelola fasilitas tersebut.
“Jembatan Kaca saat ini memang belum dibuka. Kami masih menunggu kepastian pihak ketiga yang ditunjuk sebagai pengelola,” kata Hendra.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi, mengungkapkan bahwa kewenangan penuh pengelolaan berada di bawah kendali TNBTS. Saat ini, proses peralihan manajemen sedang berlangsung.
Heri memberikan estimasi bahwa jika proses administrasi berjalan sesuai rencana, ikon baru pariwisata Probolinggo tersebut kemungkinan besar mulai beroperasi dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Jembatan kaca yang membentang di Seruni Point ini diharapkan mampu meningkatkan lama kunjungan (length of stay) wisatawan di kawasan Bromo, yang selama ini menjadi salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia.(drw/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













