Rabu
19 Agustus 2026 | 3 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Wayang, Semar, dan Senyum Pedagang Kecil di Malam HUT ke-53 PDI Perjuangan

pdip jatim 160201 wayang kulit

MADIUN — Sabtu (31/1/2026) malam di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, terasa berbeda. Denting gamelan dan bayangan wayang kulit mengalir pelan, menghadirkan lakon “Semar Bangun Kayangan” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan.

Di balik kelir dan alunan suara sinden, kebahagiaan sederhana juga tampak di luar arena. Deretan pedagang kaki lima memadati sekitar lokasi, melayani penonton yang datang dari berbagai desa.

Bagi mereka, pagelaran wayang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan berkah rezeki di malam akhir pekan.

Pagelaran wayang kulit ini dihadiri Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Ristu Nugroho, Bupati Madiun Hari Wuryanto, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Madiun, para kepala desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Ristu Nugroho menyampaikan, pagelaran wayang kulit ini hasil kolaborasi antara anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim dan DPR RI.

Pagelaran wayang sengaja dipilih karena mampu menyampaikan pesan kehidupan secara halus namun mendalam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai masih relevan dengan realitas sosial masyarakat hari ini.

“Wayang bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada pesan tentang gotong royong, kerukunan, dan bagaimana nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian,” ujar Ristu di sela acara.

Lakon Semar Bangun Kayangan yang dibawakan dalang Joko Klenteng asal Ngawi mengajarkan keteladanan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sosok Semar digambarkan sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan sering lahir dari kesahajaan, bukan dari kemewahan atau kekuasaan.

Menurut Ristu, pesan-pesan tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyinggung tantangan sosial di era media sosial yang kerap memicu perpecahan. Melalui medium budaya seperti wayang, masyarakat diajak kembali pada nilai saling menghormati, rukun, dan tolong-menolong.

“Wayang mengingatkan kita agar kemajuan teknologi tidak membuat hubungan sosial semakin renggang,” tuturnya.

Selain nilai budaya dan kebangsaan, kegiatan ini turut memberi dampak ekonomi. Keramaian penonton membawa rezeki bagi pedagang kecil di sekitar lokasi.

“Kami ingin kebahagiaan peringatan HUT ini bisa dirasakan bersama, termasuk oleh pedagang kecil,” pungkas Ristu. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

HUT Kemerdekaan RI, ASN Banyuwangi Berbagi Daftarkan 5000 Pekerja Informal BPJS Ketenagakerjaan

BANYUWANGI – Gerakan sosial Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuwangi Berbagi kembali digulirkan. Dalam program yang ...
KRONIK

HUT Kemerdekaan RI, Hj. Ansari PDIP Tegaskan Pentingnya Kerja Nyata untuk Kesejahteraan Rakyat

PAMEKASAN – Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai tidak boleh sebatas menjadi seremonial tahunan. ...
KRONIK

Pemain Soekarno Cup Salurkan Hasil Gotong Royong bagi Mahasiswa NTT di Surabaya

SURABAYA – Di tengah kekhawatiran mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Surabaya terhadap keluarga mereka ...
KABAR CABANG

Pesan Ahok untuk Kader PDIP Madiun: Dengarkan Jeritan Rakyat, Jangan Hanya Saat Butuh Dukungan

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpesan kepada kader PDIP Kota Madiun agar tidak hanya hadir saat butuh dukungan ...
HEADLINE

Said Abdullah Dorong BI Segera Rumuskan Core Kebijakan Moneter yang Jelas

JAKARTA – Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menilai pengajuan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank ...
KABAR CABANG

HUT ke-81 RI, DPC PDIP Kota Malang Gelar Doa Bersama untuk Korban Gempa NTT

DPC PDI Perjuangan Kota Malang menyisipkan doa bersama dan penggalangan bantuan untuk korban gempa NTT saat upacara ...