Selasa
26 Mei 2026 | 11 : 02

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Wayang, Semar, dan Senyum Pedagang Kecil di Malam HUT ke-53 PDI Perjuangan

pdip jatim 160201 wayang kulit

MADIUN — Sabtu (31/1/2026) malam di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, terasa berbeda. Denting gamelan dan bayangan wayang kulit mengalir pelan, menghadirkan lakon “Semar Bangun Kayangan” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan.

Di balik kelir dan alunan suara sinden, kebahagiaan sederhana juga tampak di luar arena. Deretan pedagang kaki lima memadati sekitar lokasi, melayani penonton yang datang dari berbagai desa.

Bagi mereka, pagelaran wayang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan berkah rezeki di malam akhir pekan.

Pagelaran wayang kulit ini dihadiri Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Ristu Nugroho, Bupati Madiun Hari Wuryanto, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Madiun, para kepala desa, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Ristu Nugroho menyampaikan, pagelaran wayang kulit ini hasil kolaborasi antara anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim dan DPR RI.

Pagelaran wayang sengaja dipilih karena mampu menyampaikan pesan kehidupan secara halus namun mendalam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai masih relevan dengan realitas sosial masyarakat hari ini.

“Wayang bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada pesan tentang gotong royong, kerukunan, dan bagaimana nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian,” ujar Ristu di sela acara.

Lakon Semar Bangun Kayangan yang dibawakan dalang Joko Klenteng asal Ngawi mengajarkan keteladanan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sosok Semar digambarkan sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan sering lahir dari kesahajaan, bukan dari kemewahan atau kekuasaan.

Menurut Ristu, pesan-pesan tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyinggung tantangan sosial di era media sosial yang kerap memicu perpecahan. Melalui medium budaya seperti wayang, masyarakat diajak kembali pada nilai saling menghormati, rukun, dan tolong-menolong.

“Wayang mengingatkan kita agar kemajuan teknologi tidak membuat hubungan sosial semakin renggang,” tuturnya.

Selain nilai budaya dan kebangsaan, kegiatan ini turut memberi dampak ekonomi. Keramaian penonton membawa rezeki bagi pedagang kecil di sekitar lokasi.

“Kami ingin kebahagiaan peringatan HUT ini bisa dirasakan bersama, termasuk oleh pedagang kecil,” pungkas Ristu. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SUARA MUDA

Dari Dapur ke Digital: Kisah Perempuan Muda Bondowoso Menemukan Suara Politik di Bawah Payung PDIP

Kisah inspiratif generasi-Z Bondowoso yang ditempa politik lewat pendekatan personal Shanti, istri Ketua DPC PDIP ...
KRONIK

Ponpes Darul Falah Balongbendo Sidoarjo Terima Hewan Kurban dari DPD Jatim, Siap Distribusikan Daging ke Warga

SIDOARJO – Pondok Pesantren Darul Falah Desa Kemangsen Kecamatan Balongbendo menerima penyerahan hewan kurban dari ...
KRONIK

Raih Penghargaan RBD, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Identitas Budaya Masyarakat

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menganugerahkan penghargaan kepada Kabupaten ...
EKSEKUTIF

Genjot Produktivitas Petani, Rijanto Tekankan Pentingnya Peremajaan Lahan Tebu 

Bupati Blitar Rijanto menekankan pentingnya peremajaan lahan tebu melalui program bongkar ratoon untuk meningkatkan ...
HEADLINE

PDI Perjuangan Jatim Tebar 468 Ekor Sapi Kurban ke Pesantren dan Panti Asuhan

DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menyalurkan 468 ekor sapi kurban ke berbagai daerah sebagai bentuk kepedulian dan ...
SEMENTARA ITU...

Stadion Ketonggo Ngawi Bersiap Jadi Tuan Rumah Liga 4 Nasional

NGAWI – Stadion Ketonggo di Ngawi bersiap menyambut gelaran putaran 64 besar Liga 4 Nasional yang akan berlangsung ...