oleh

Ristu Nugroho: Di Desa Widodaren Ngawi, Bhinneka Tunggal Ika jadi Budaya Keseharian

-Sementara Itu...-46 kali dibaca

NGAWI – Desa Widodaren ditetapkan sebagai salah satu desa percontohan di Ngawi dalam peringatan bulan Bung Karno, Juni tahun 2021. Bukan tanpa alasan, sebab desa ini mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Widodaren, Petrus Bagus Wijayanto menyampaikan rasa terimakasih kepada Pemkab Ngawi yang telah menetapkan desanya sebagai desa percontohan pada bulan Bung Karno tahun 2021 ini.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, warga desa Widodaren lebih memahami lagi arti penting kehidupan berpancasila,” papar Bagus Wijayanto dalam sambutannya.

Dia menyebutkan sejauh ini warga desa Widodaren telah mengamalkan kehidupan berpancasila. Seperti tingkat toleransi beragama yang bagus, masih kuatnya sikap gotong royong warga, juga mengenai budaya yang masih lekat.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian DPD PDI Perjuangan Jatim, Y Ristu Nugroho yang turut hadir, dalam pidato sambutannya mengapresiasi capaian-capaian desa tersebut.

“Di desa Widodaren, Bhinneka Tunggal Ika sudah menjadi kebudayaan warga, sudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Ristu Nugroho, Selasa (8/6/2021).

Masih dalam pidatonya, Ristu Nugroho juga mengingatkan arti penting Bulan Bung Karno. Dengan mempelajari kembali sejarah, agar Pancasila tidak hanya menjadi slogan. Tidak hanya hafal namun mampu menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan.

Pada kesempatan itu, Ristu Nugroho juga menyampaikan tentang program PDI Perjuangan yang sesuai dengan ajaran Bung Karno. “Ajaran Bung Karno untuk selalu dekat dengan rakyat. Jangan khawatir, PDI Perjuangan tidak akan sekalipun meninggalkan rakyat,” katanya tegas.

Wakil Bupati Ngawi yang juga Ketua DPC PDI perjuangan Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko.

Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Ngawi Dwi Rianto Jatmiko sekaligus Wakil Bupati Ngawi dalam paparan pengarahannya menyampaikan tentang alasan dipilihnya Desa Widodaren sebagai salah satu desa percontohan.

“Minimal ada empat (parameter), harus ada gotong royong, musyawarah mufakat, jati diri desa yang menyangkut tradisi, seni dan budaya masyarakat,” paparnya.

“Gotong royong, saya kira seluruh desa di Ngawi masih menjunjung tinggi gotong royong. Dan di desa Widodaren, masyarakat masih menerapkan itu, musyawarah mufakat memiliki dampak yang sangat signifikan di tengah masyarakat. Mengenai tradisi desa, itu ciri khasnya guyub rukun,” lanjutnya.

Dijelaskan Wabup Antok, berkenaan guyub rukun harus bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya sekedar slogan, namun sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat dan menguyubkan masyarakat di berbagai bidang.

Dalam kesempatan itu, juga hadir DPC PDI Perjuangan Ngawi, fraksi PDI Perjuangan DPRD Ngawi, Camat Gerih, Pemkab Ngawi yang di wakili asisten Sekda, juga kepala desa se-kecamatan Gerih, termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. (mmf/hs)

Komentar