oleh

Rampak Barong Mendunia, TMP Jatim: Apa yang Mau Dipersoalkan

-Berita Terkini-11 kali dibaca

TRENGGALEK – Ketua Taruna Merah Putih (TMP) Jawa Timur, Moch Noer Arifin, memberi klarifikasi terbuka atas sorotan pelanggaran Pilkada Jawa Timur terkait acara Rampak Barong beberapa waktu lalu. Klarifikasi ini merespon aduan Tim Sukses Khofifah-Emil Dardak ke Panwaslu Trenggalek.

Plt Bupati Trenggalek ini mengatakan, acara tersebut memakai dana pribadi. “Tidak ada dana dari APBD Trenggalek. Silakan dicek ke Sekda atau dinas,” kata Noer Arifin, Sabtu (9/6/2018).

“Jadi, apa yang mau dipersoalkan?” tambah Arifin.

Dia mengatakan, pemakaian Stadion Menak Sopal juga tidak gratisan. “Stadion itu disewakan. Siapa pun bisa memakai. Dan, kami membayar sewa. Ada kok tanda buktinya,” ujar Arifin.

Taruna Merah Putih adalah organisasi kepemudaan di bawah PDI Perjuangan (PDIP). Partai ini mengusung Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno, di Pilkada Jawa Timur 2018.

Terkait laporan ke Panwaslu Trenggalek, Arifin tertawa renyah. “Ya mungkin, coba-coba sambil menyenangkan hati yang di atas, bahwa di bawah telah bekerja,” tuturnya, lembut.

Arifin berjanji akan menjelaskan semua di depan Panwaslu Trenggalek, menyusul laporan dari Tim Sukses Khofifah-Emil Dardak. “Saya di kesempatan itu juga telah cuti sebagai Plt. Bupati Trenggalek,” ungkapnya.

Arifin menjelaskan, acara itu digelar Kamis 31 Mei 2018, satu hari menjelang Hari Lahir Pancasila. “Memang acara itu digelar untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Acara digelar sekaligus untuk ngabuburit, menunggu waktu buka puasa,” terang pria yang taat berpuasa ini.

Acara Rampok Barong digelar TMP untuk menunjukkan bahwa manusia Indonesia memiliki kebudayaan sekaligus ber-Ketuhanan. “Ini ajaran Bung Karno, terutama Trisakti, dimana manusia Indonesia berkebudayaan sekaligus taat pada Tuhan,” kata pengagum Bung Karno itu.

Itu ditunjukkan pada waktu azhar, panitia menghentikan acara. Semua peserta dipersilakan untuk menunaikan sholat. “Air yang dipakai untuk wudhu, juga kita beli dari PDAM. Dibeli dari uang pribadi,” jelas Arifin.

Dia menambahkan, bahwa di sela-sela acara juga diberikan ceramah agama. “Yang memberikan ceramah, KH. Soim Al-Kassi. Dakwah Kiai Soim mengajak masyarakat untuk berubah, dari yang kurang baik menjadi baik,” kata Arifin.

Soal logo Trenggalek yang muncul dalam Piagam MURI (Musium Rekor Indonesia)? Arifin memastikan, di dalam Stadion Menak Sopal yang jadi lokasi acara, tidak ada logo Trenggalek.

“Logo itu ada di piagam yang dibagikan pada 10 koordinator kabupaten. Ini untuk menunjukkan, lokasi daerah tempat pemecahan Rekor MURI. Sekarang, piagam itu sudah kita tarik, kita ganti dengan yang baru,” terang Arifin.

Di Rampak Barong, dilakukan pemecahan Rekor MURI, yakni ditampilkan 2.750 pemain barong. Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno sempat hadir, dan memberikan pidato tentang kebudayaan.

Arifin menjelaskan, dia menggelar acara itu untuk mengangkat budaya lokal, sekaligus wahana kreativitas masyarakat.

Kesenian barong hidup di pesisir Selatan dan kawasan Mataraman. Kesenian itu mengangkat simbol nafsu angkara murka yang dikalahkan oleh sikap ksatria.

“Kita beri ajang untuk mengekspresikan kreativitas. Momentumnya Hari Lahir Pancasila. Tahun ini, bersamaan nulan Ramadhan. Kami pun menyesuaikan dengan situasi,” kata Arifin. (goek)