Oleh Ahmad Wiyono*
RAMADAN selalu datang dengan wajah yang berbeda bagi setiap orang, tetapi selalu membawa satu pesan yang sama: tentang kesucian. Dalam tradisi masyarakat muslim, Ramadan tidak hanya dipahami sebagai bulan ibadah ritual semata, melainkan juga sebagai ruang kebudayaan tempat manusia belajar membersihkan diri dari debu-debu kehidupan yang menempel sepanjang tahun.
Kesucian Ramadan bukanlah sesuatu yang hadir secara otomatis. Ia bukan sekadar hasil dari menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga senja. Lebih dari itu, kesucian Ramadan adalah proses batin yang perlahan membentuk kesadaran manusia untuk kembali kepada fitrahnya. Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari apa yang ia makan, tetapi juga dari apa yang ia tahan. Dalam menahan diri, manusia menemukan dimensi spiritual yang sering kali hilang dalam hiruk pikuk kehidupan modern.
Di banyak tempat, Ramadan juga menjelma sebagai peristiwa budaya. Suara azan yang ditunggu saat berbuka, tradisi berbagi makanan, hingga kebiasaan berkumpul di masjid pada malam hari menjadi tanda bahwa bulan ini bukan hanya milik individu, tetapi juga milik komunitas. Ada semacam energi kolektif yang membuat masyarakat bergerak bersama dalam semangat kebaikan. Orang-orang yang sebelumnya jarang bertemu menjadi saling menyapa, yang mampu tergerak untuk memberi, dan yang lemah merasa tidak sendirian.
BACA JUGA: Doa Haru Anak Yatim untuk PDI Perjuangan Jatim pada Peringatan Nuzulul Quran
Dalam suasana seperti itu, kesucian Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan hanya soal hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Kesucian lahir ketika manusia mampu menahan amarah, mengurangi keserakahan, dan membuka ruang empati bagi orang lain.
Karena momen Ramadan sesungguhnya adalah sekolah kebudayaan. Ia mendidik manusia untuk hidup lebih sederhana, lebih peka, dan lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika bulan ini berakhir, yang diharapkan bukan sekadar berakhirnya puasa, tetapi lahirnya manusia yang lebih bersih hati dan lebih lembut dalam memandang kehidupan. Dalam arti itulah, Ramadan menjadi perjalanan menuju kesucian yang sejati.
Godaan Konsumerisme
Sejatinya Ramadan hadir sebagai bulan yang mengajarkan kesederhanaan, pengendalian diri dan kejernihan batin. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi untuk menata kembali hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Namun dalam realitas kehidupan modern, makna spiritual Ramadan sering kali berhadapan dengan arus kuat budaya konsumerisme yang justru tumbuh subur di bulan suci ini.
BACA JUGA: PDI Perjuangan Jatim Tegaskan Partai Wong Cilik, Hadirkan Kebahagiaan bagi Ratusan Yatim dan Janda
Sejak awal Ramadan, ruang-ruang publik dipenuhi berbagai promosi: diskon besar-besaran, paket belanja, hingga iklan yang menggoda hasrat membeli. Pusat perbelanjaan ramai oleh orang-orang yang berburu barang, mulai dari makanan berbuka hingga pakaian baru untuk hari raya. Tradisi berbuka puasa yang semestinya sederhana berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan. Aneka hidangan disajikan di meja, sering kali melampaui kebutuhan tubuh yang sebenarnya hanya menuntut secukupnya setelah seharian berpuasa.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Ramadan perlahan digeser dari ruang spiritual menuju ruang pasar. Puasa yang seharusnya melatih pengendalian diri justru diuji oleh godaan konsumsi yang semakin intens. Ironisnya, di saat yang sama, Ramadan juga merupakan bulan yang mengajarkan empati sosial melalui zakat, sedekah, dan kepedulian terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.
Konsumerisme pada akhirnya bukan sekadar persoalan membeli barang, tetapi juga tentang cara pandang terhadap kehidupan. Ketika Ramadan dimaknai sebagai momentum untuk memuaskan keinginan material, maka esensi puasa sebagai latihan menahan diri menjadi kehilangan maknanya. Padahal, dalam tradisi spiritual Islam, kesederhanaan adalah jalan menuju kejernihan hati.
Karena itu, Ramadan perlu dikembalikan pada ruhnya: sebagai bulan pembebasan manusia dari dominasi nafsu, termasuk nafsu konsumsi. Kesadaran untuk hidup secukupnya, berbagi dengan sesama, dan menata kembali prioritas hidup menjadi pelajaran penting yang seharusnya lahir dari ibadah puasa. Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum perenungan tentang bagaimana manusia memaknai kebutuhan, keinginan, dan kemanusiaannya.
Mengembalikan Kesucian
Mengembalikan Ramadan pada ruhnya adalah jihad seorang muslim untuk kembali pada kesadaran terdalam tentang dirinya: sebagai hamba yang lemah sekaligus makhluk yang diberi amanah untuk menjaga kesucian hidup. Dalam tradisi spiritual Islam, Ramadan bukan sekadar bulan ritual, tetapi momentum penyucian diri dari berbagai bentuk nafsu, termasuk nafsu konsumsi yang sering kali luput dari perhatian.
Ironisnya, di tengah semangat menahan lapar dan dahaga, justru muncul gelombang konsumerisme yang semakin menguat: meja berbuka dipenuhi hidangan berlebih, pusat perbelanjaan dipadati orang yang berburu diskon, dan hasrat membeli sering kali melampaui kebutuhan.
BACA JUGA: Seleksi Banteng Jatim FC U-17 di Blitar Diawali Ziarah ke Makam Bung Karno
Di titik inilah Ramadan diuji oleh syahwat konsumtif manusia modern. Ketika puasa seharusnya melatih kesederhanaan, gaya hidup konsumtif justru mengaburkan makna asketisme yang diajarkan Islam. Padahal, inti dari ibadah puasa adalah pengendalian diri: menahan keinginan, menata hasrat, dan menempatkan kebutuhan pada batas yang wajar. Ramadan seharusnya menjadi sekolah spiritual yang mengajarkan manusia untuk memerdekakan diri dari dominasi materi.
Mengembalikan kesucian Ramadan berarti menata kembali orientasi hidup: dari konsumsi menuju kontemplasi, dari kemewahan menuju kesederhanaan, dan dari kepuasan jasmani menuju kejernihan ruhani. Dengan demikian, Ramadan tidak berhenti sebagai tradisi tahunan, tetapi menjadi proses transformasi batin. Dari sanalah lahir manusia yang lebih peka, lebih adil, dan lebih bertakwa—sebagaimana tujuan utama puasa itu sendiri. Wallahu A’lam Bisshowab.
*Ahmad Wiyono, Penggerak Kaula Muda NU Madura
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













