BLITAR – Masyarakat petani di empat desa di Kecamatan Talun menggelar acara syukuran di Dam Njari, Kelurahan Bajang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Senin (27/1/2025).
Kegiatan syukuran Gabungan Himpunan Petani Pengguna Air atau yang biasa disebut G HIPPA itu dihadiri oleh Bupati Blitar terpilih, Rijanto, Ketua G HIPPA Andri Mizan Asrori, Muspika Kecamatan Talun dan Selopuro dan juga Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dari Kecamatan Talun dan Selopuro.
Bupati Blitar terpilih Rijanto menyampaikan terima kasih telah diundang dalam acara ini. Dia mengatakan acara syukuran yang digelar petani di Dam Njari sebagai ungkapan atau simbol rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala kenikmatan dan berkah yang telah diberikan.
Selain itu, syukuran ini digunakan sebagai tolak bala untuk menjauhkan dari berbagai macam bencana dan gangguan.
“Kami sangat bangga kepada masyarakat yang sampai saat ini masih menjaga tradisi budaya adat jawa. Karena acara ini secara tidak langsung memiliki manfaat sebagai salah satu alat untuk menjaga kerukunan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Rijanto kepada tim media ini, Senin (27/1/2025).
“Semoga apa yang dilakukan para petani tersebut mendapat kelancaran dan mendapat hasil yang melimpah dari Tuhan YME,” sambung Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar tersebut.
Sementara itu, Ketua G. HIPPA Andri Mizan Asrori menjelaskan syukuran di Dam Njari sendiri merupakan ritual tahunan yang kerap digelar masyarakat petani di empat desa yang dilalui aliran Sungai Njari.
Adapun keberadaan Dam Njari, jelas dia, sangat vital, karena sebagai penyangga aliran irigasi di area pesawahan di kelurahan Bajang untuk memenuhi tanaman petani seluas _+ 1.360 Ha di bagian Kecamatan Talun sebelah timur dan satu desa di Kecamatan Selopuro.
“Ritual ini bagian rutinitas tahunan yang dilakukan para petani di 4 desa yang dialiri aliran sungai Njari, ketika di musim kemarau tiba petani sangat membutuhkan adanya bangunan ini untuk mengairi tanaman mereka,” jelas Andri.
Tapi, kata dia, sejumlah pokok persoalan tengah muncul dan kini dihadapi para petani di wilayah setempat. Seperti pendangkalan dan alih fungsi lahan di hulu sungai Njari yang terletak di Desa Gadungan Kecamatan Gandusari.
Hal demikian, kata Andri menimbulkan kekhawatiran para petani akan ketersediaan air ketika musim kemarau tiba, karena debit air selalu menurun setiap tahunnya.
Sekretaris PAC PDI Kecamatan Talun ini pun menekankan pentingnya kolaborasi antara petani dan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.
“Kita harus bersatu untuk menjaga lingkungan dan memastikan ketersediaan air bagi kebutuhan pertanian,” ujarnya.
Andri juga menekankan perlunya normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi aliran air dan meningkatkan daya serap lahan saat musim hujan.
“Normalisasi sungai bukan hanya tentang mengatasi banjir, tetapi juga tentang menjaga ekosistem yang sehat dan mendukung produktivitas pertanian. Dengan mengembalikan fungsi aliran air, kita dapat meningkatkan daya serap lahan dan memaksimalkan hasil panen,” tambahnya.
Momentum ritual syukuran ini juga menjadi sarana untuk berbagi informasi dan pengalaman antar petani dari berbagai desa guna meningkatkan produktivitas pertanian. Andri menegaskan bahwa edukasi tentang pengelolaan sumber daya air harus dimulai sejak dini.
“Penting bagi kita untuk menanamkan kesadaran akan konservasi air agar generasi mendatang lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam,” ucapnya.
Melalui sinergi yang kuat antara petani, Andri berharap agar pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama mengatasi berbagai tantangan. Dengan demikian, pertanian di Kecamatan Talun dan Selopuro dapat terus berkembang dengan baik.
“Dengan bergotong-royong, kita dapat menemukan cara-cara inovatif untuk mengatasi masalah ini dan memastikan bahwa pertanian di Kecamatan Talun dan Selopuro terus berkembang,” pungkas dia. (arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS