SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengantisipasi potensi meningkatnya kasus influenza A subclade K atau yang dikenal masyarakat sebagai super flu usai masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku hingga saat ini belum menerima laporan detail terkait jumlah kasus super flu di Kota Pahlawan.
“Saya belum mendapatkan laporan ya,” ujar Eri Cahyadi, Sabtu (3/1/2026).
Meski demikian, Eri mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama bagi warga yang merasa kondisi tubuhnya tidak fit setelah menjalani libur panjang Nataru. DIa minta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan guna mencegah potensi penularan penyakit tersebut.
“Kalau liburan ke luar negeri kan ada skrining (saat kembali), suhu badan kelihatan. Tapi untuk yang liburan di dalam negeri, saya berharap kalau merasa badannya tidak enak untuk memeriksakan diri,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Surabaya telah menyiapkan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) serta melakukan koordinasi dengan rumah sakit. Hal ini dilakukan agar setiap temuan pasien dengan gejala yang mengarah pada super flu dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan.
Diketahui, istilah super flu bukan merupakan terminologi medis resmi. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subclade K, yakni varian virus influenza yang dinilai lebih agresif, mudah menular, dan dapat menimbulkan gejala lebih berat.
Secara ilmiah, virus yang dijuluki super flu ini diidentifikasi sebagai influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Varian tersebut pertama kali diidentifikasi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Berdasarkan catatan CDC Amerika Serikat, hingga 20 Desember 2025 tercatat sedikitnya 7,5 juta orang terinfeksi influenza. Dari jumlah tersebut, sekitar 81.000 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lebih dari 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia. (gio/pr)