PDI Perjuangan Jember Nilai Konsep Program Pengentasan Kemiskinan Bupati Hendy Tidak Jelas

 107 pembaca

JEMBER – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember, Edi Cahyo Purnomo, menilai, program pengentasan kemiskinan yang dicetuskan Bupati Hendy Siswanto masih tidak jelas.

Menurutnya, selama ini masyarakat melihat keseriusan Bupati Jember dalam memberantas kemiskinan masih membingungkan.

“Konsep pengentasan kemiskinan masih tidak jelas, dari arah mana dulu yang harus digarap,” ujarnya, Senin (3/10/2022).

Politisi PDI Perjuangan itu mencontohkan, salah satu program Bupati Hendy, yaitu J-HUR (Jember Hadir Untuk Rakyat), yang selama ini digaungkan dan mendapatkan apresiasi dari DPRD, ternyata pada tahap pelaksanaan tidak sesuai dengan harapan.

“Sebut saja program J-HUR yang dulu diagung-agungkan sebagai program unggulan pengentasan kemiskian, namun pelaksanaannya tidak jelas. Kalau begitu, untuk apa kalau acaranya terkesan hanya sekadar uforia dan seremonial. Sementara masyarakat miskin yang di bawah tidak ada perubahan dan tidak menikmati program itu,” terangnya.

Wakabid Organisasi PDI Perjuangan Jember tersebut kemudian mengungkapkan, pandemi dan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) berpengaruh besar terhadap kehidupan ekonomi rakyat. Sebab itu, program yang dijalankan Bupati Hendy harus benar-benar menyentuh akar permasalahan rakyat dan tidak hanya dijadikan sebagai kegiatan seremonial semata.

“Kalau melihat situasi saat ini, pasca pendemi dan naiknya harga BBM, harusnya bupati bisa menjalankan program yang benar-benar menyentuh akar permasalahan yang dihadapi raykat. Coba setiap kegiatan turun langsung ke bawah. Jangan hanya seremonial. Dengarkan langsung keluhan masyarakat, tanggapi, dan sikapi,” tuturnya.

Selama ini, pria yang akrab disapa Ipung itu melihat, seringkali bupati turun dan menyerap aspirasi serta keluhan masyarakat hanya sekadar ditampung, namun untuk penyikapannya sendiri belum tahu kapan realisasinya.

“Memang, bupati kalau turun masyarakat diminta buat menyampaikan aspirasi dan keluhannya, namun semua itu sebatas seremonial. Kemudian, realisasinya kapan juga tidak jelas. Kalau begini masyarakat sudah capek,” paparnya.

Legislator PDI Perjuangan itu juga menyebut, di tengah lesunya ekonomi masyarakat Jember, bupati dan sejumlah pejabat masih menyempatkan diri membuat acara senang-senang outbond di Malang.

“Acara yang tidak penting, hanya membuang uang. Seandainya diberikan pada masyarakat miskin, itu jauh lebih mulia,” tegasnya.

Maka dari itu, pihaknya meminta Bupati Jember agar bisa mengevaluasi kembali program yang selama ini dijalakan.

“Jangan sampai uang rakyat terkesan dihambur-hamburkan. Sementara kepentingan yang tidak dinikmati oleh rakyat kecil,” tutupnya. (ryo/set)