Selasa
21 Juli 2026 | 8 : 41

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pajak Mencekik, Layar Minim, Film RI Terancam Jadi Penonton di Negeri Sendiri

pdip jatim 260408 nh

JAKARTA — Industri perfilman nasional tengah menghadapi tekanan serius akibat persoalan struktural yang tak kunjung dibenahi. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, secara terbuka membongkar tiga masalah mendasar yang dinilai menjadi penghambat utama laju industri film Tanah Air.

Dalam rapat kerja di Senayan, Rabu (8/4/2026), Novita menegaskan bahwa kebijakan yang ada saat ini justru berpotensi melemahkan ekosistem kreatif, alih-alih memperkuatnya.

Persoalan pertama adalah beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ganda yang dinilai mencekik pelaku industri sejak tahap produksi. Skema pajak yang berlapis dari produksi hingga distribusi membuat margin keuntungan semakin tergerus dan menurunkan daya saing film nasional.

“Industri ini belum tumbuh kuat, tapi sudah dibebani berlapis-lapis. Ini bukan sekadar hambatan, tapi bisa menjadi rem serius bagi kreativitas dan investasi,” kata Novita Hardini.

Masalah kedua, sebutnya, adalah absennya keberpihakan kebijakan dalam mengintegrasikan film sebagai instrumen promosi pariwisata. Padahal, praktik global menunjukkan film mampu menjadi lokomotif promosi destinasi sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Ia menilai, tanpa insentif fiskal maupun kemudahan regulasi, potensi besar tersebut akan terus terabaikan. “Kita seperti membiarkan peluang besar lewat begitu saja, padahal dampaknya bisa langsung dirasakan oleh daerah,” ujarnya.

Sementara itu, isu ketiga yang paling mengemuka adalah krisis jumlah layar bioskop. Ketimpangan antara jumlah produksi film dan ketersediaan layar disebut telah menciptakan antrean panjang yang tidak sehat bagi industri.

Banyak film nasional, ungkap dia, harus menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tayang, dengan durasi pemutaran yang sangat terbatas. Kondisi ini dinilai tidak hanya merugikan secara bisnis, tetapi juga memukul moral para kreator.

“Ini sudah tidak wajar. Film berkualitas harus berebut ruang tayang yang sempit. Kalau dibiarkan, industri kita akan stagnan dan kehilangan momentum,” kata anggota Fraksi PDI Perjuangan itu.

Novita mendesak pemerintah segera melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari reformasi kebijakan pajak, pemberian insentif berbasis pariwisata, hingga percepatan pembangunan dan pemerataan layar bioskop di berbagai daerah.

Ia mengingatkan, tanpa langkah konkret dan keberpihakan yang jelas, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan industri kreatif global.

“Film bukan sekadar hiburan. Ini adalah kekuatan ekonomi sekaligus wajah budaya bangsa. Kalau regulasinya tidak kita benahi sekarang, kita akan terus menjadi penonton di rumah sendiri,” pungkasnya. (red)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Hasto: Program MBG Lebih Efektif Jika Libatkan Warung dan UMKM Lokal

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai Program Makan Bergizi Gratis akan lebih efektif jika melibatkan ...
KRONIK

Dongkrak UMKM, Business Matching BEC x SCF Capai Rp 1,22 Miliar

BANYUWANGI – Kolaborasi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar Pemkab Banyuwangi dan Sekarkijang Creative ...
EKSEKUTIF

Bupati Gresik Cup 2026, Wadah Menjaring dan Mengasah Kemampuan Atlet

GRESIK – Sebanyak 1.413 atlet resmi memulai persaingan di Bupati Gresik Cup 2026. Ajang ini sebagai wadah menjaring ...
UMKM

DPRD Kabupaten Pasuruan Kemas Produk UMKM Jadi Oleh-oleh untuk Tamu Kedinasan

KABUPATEN PASURUAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan terus menunjukkan komitmen nyata ...
KRONIK

RedTalks Segera Hadir, Ajak Generasi Muda Kupas Nasionalisme di Era Modern

SURABAYA – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, makna nasionalisme terus ...
KABAR CABANG

Malam Ketika Sepak Bola Membuat Orang-orang Blitar Duduk Bersama

DINI hari biasanya identik dengan jalanan yang lengang. Tetapi Senin (20/7/2026), halaman Kantor DPC PDI Perjuangan ...