Senin
26 Oktober 2026 | 11 : 20

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pajak Mencekik, Layar Minim, Film RI Terancam Jadi Penonton di Negeri Sendiri

pdip jatim 260408 nh

JAKARTA — Industri perfilman nasional tengah menghadapi tekanan serius akibat persoalan struktural yang tak kunjung dibenahi. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, secara terbuka membongkar tiga masalah mendasar yang dinilai menjadi penghambat utama laju industri film Tanah Air.

Dalam rapat kerja di Senayan, Rabu (8/4/2026), Novita menegaskan bahwa kebijakan yang ada saat ini justru berpotensi melemahkan ekosistem kreatif, alih-alih memperkuatnya.

Persoalan pertama adalah beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ganda yang dinilai mencekik pelaku industri sejak tahap produksi. Skema pajak yang berlapis dari produksi hingga distribusi membuat margin keuntungan semakin tergerus dan menurunkan daya saing film nasional.

“Industri ini belum tumbuh kuat, tapi sudah dibebani berlapis-lapis. Ini bukan sekadar hambatan, tapi bisa menjadi rem serius bagi kreativitas dan investasi,” kata Novita Hardini.

Masalah kedua, sebutnya, adalah absennya keberpihakan kebijakan dalam mengintegrasikan film sebagai instrumen promosi pariwisata. Padahal, praktik global menunjukkan film mampu menjadi lokomotif promosi destinasi sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Ia menilai, tanpa insentif fiskal maupun kemudahan regulasi, potensi besar tersebut akan terus terabaikan. “Kita seperti membiarkan peluang besar lewat begitu saja, padahal dampaknya bisa langsung dirasakan oleh daerah,” ujarnya.

Sementara itu, isu ketiga yang paling mengemuka adalah krisis jumlah layar bioskop. Ketimpangan antara jumlah produksi film dan ketersediaan layar disebut telah menciptakan antrean panjang yang tidak sehat bagi industri.

Banyak film nasional, ungkap dia, harus menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tayang, dengan durasi pemutaran yang sangat terbatas. Kondisi ini dinilai tidak hanya merugikan secara bisnis, tetapi juga memukul moral para kreator.

“Ini sudah tidak wajar. Film berkualitas harus berebut ruang tayang yang sempit. Kalau dibiarkan, industri kita akan stagnan dan kehilangan momentum,” kata anggota Fraksi PDI Perjuangan itu.

Novita mendesak pemerintah segera melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari reformasi kebijakan pajak, pemberian insentif berbasis pariwisata, hingga percepatan pembangunan dan pemerataan layar bioskop di berbagai daerah.

Ia mengingatkan, tanpa langkah konkret dan keberpihakan yang jelas, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan industri kreatif global.

“Film bukan sekadar hiburan. Ini adalah kekuatan ekonomi sekaligus wajah budaya bangsa. Kalau regulasinya tidak kita benahi sekarang, kita akan terus menjadi penonton di rumah sendiri,” pungkasnya. (red)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Atasi Kelangkaan Solar, Pemkab Bangkalan Terbitkan Edaran Khusus BBM Petani

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terbitkan edaran khusus memprioritaskan alokasi Bahan Bakar ...
KRONIK

Polusi Surabaya Makin Parah, Wali Kota Eri Bongkar Penyebabnya

SURABAYA – Kondisi udara Kota Surabaya belakangan ini menjadi perbincangan hangat warganet. Sebagian dari mereka ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Tegaskan Pelaku Bullying di Kediri Bisa Di-DO, Guru dan Orang Tua Diminta Terlibat

KEDIRI – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi tindakan perundungan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Jatim Dukung Perpres Ojol, Dewanti Desak Juknis Transparan

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mendukung penerapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun ...
KRONIK

Pemkot Surabaya Tekan Polusi Udara Lewat Kereta SRRL dan Pembatasan Truk

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memfokuskan penanganan polusi udara pada dua kebijakan kunci, yakni ...
KABAR CABANG

Widarto: Mitigasi Bencana Lebih Penting daripada Besarnya Anggaran

JEMBER – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Widarto, mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar mewaspadai ...