Minggu
31 Mei 2026 | 8 : 37

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Menemukan Tuhan di Tanah, Air dan Udara

PDIP-Jatim Matroni 05102025

SELAMA berabad-abad, teologi Islam arus utama sering dipahami sebagai teologi yang memposisikan Tuhan secara transenden—bersemayam di langit, jauh dari jangkauan indera manusia. Ayat-ayat seperti “Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5) dibaca secara literal sebagai penegasan jarak ontologis antara Pencipta dan ciptaan.

Dalam paradigma ini, Tuhan dipahami sebagai entitas yang mengawasi dari atas, sementara bumi, dengan segala materialitasnya, dipandang hanya sebagai panggung ujian bagi manusia. Namun, pembacaan seperti itu bukanlah satu-satunya cara memahami hubungan Tuhan dan dunia.

Dekonstruksi teologi Islam yang menegaskan kehadiran Tuhan di tanah, air dan udara bukanlah pengingkaran terhadap transendensi-Nya, melainkan perluasan perspektif: menempatkan immanensi Tuhan sebagai bagian integral dari iman. Dalam kerangka ini, Tuhan tidak hanya “di langit” tetapi juga “di bumi” (QS. Al-An’am: 3), hadir dalam setiap unsur yang menopang kehidupan.

Al-Qur’an sendiri berulang kali menegaskan bahwa tanda-tanda Tuhan (ayatullah) tersebar di alam semesta. Dalam QS. Fussilat: 53 disebutkan, “Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri…” Tanah, air dan udara bukan sekadar benda mati, melainkan ayat yang hidup, bukti konkret dari kehadiran Tuhan yang terus bekerja memelihara kehidupan.

Jika kita hanya memusatkan perhatian pada Tuhan di “atas”, kita berisiko menjadikan iman sebagai urusan kosmik yang terpisah dari realitas ekologis. Padahal, Nabi Muhammad sendiri mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah: menanam pohon, menghemat air, bahkan melarang pemborosan meski dalam wudhu di sungai yang mengalir. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa unsur-unsur bumi memiliki dimensi sakral.

Dekonstruksi di sini berarti membongkar asumsi yang memisahkan secara tegas antara ranah ilahi dan dunia material. Dalam tradisi tasawuf, konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) Ibn ‘Arabi menegaskan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari wujud Tuhan. Tanah yang kita injak, air yang kita minum, udara yang kita hirup—semuanya adalah pancaran sifat-sifat-Nya.

Pendekatan ini menantang teologi yang terlalu vertikal, yang hanya mengarahkan kesadaran spiritual ke atas. Dengan menempatkan Tuhan di tanah, air dan udara, kita menggeser fokus menjadi horizontal dan menyeluruh, melihat Tuhan dalam relasi ekologis dan sosial, bukan hanya dalam ritual.

Ketika kita meyakini Tuhan hadir dalam tanah, maka merusak tanah sama dengan mengkhianati kehadiran-Nya. Keyakinan bahwa air adalah media kehadiran Tuhan akan membuat kita menganggap pencemaran sungai atau laut sebagai tindakan profan. Memahami udara sebagai “nafas Tuhan” (sebagaimana simbolisme dalam banyak tradisi) akan membuat kita lebih peka terhadap polusi dan perubahan iklim.

Ini bukan sekadar retorika hijau. Islam, melalui maqashid al-shariah (tujuan-tujuan syariah), menempatkan hifz al-bi’ah (perlindungan lingkungan) sebagai turunan dari hifz al-nafs (perlindungan jiwa). Tanpa tanah subur, air bersih, dan udara sehat, nyawa manusia dan seluruh makhluk akan terancam.

Teologi Islam yang terlalu fokus pada “langit” sering kali gagal mengintegrasikan kesadaran ekologis. Alam dipandang hanya sebagai sumber daya, bukan entitas yang memiliki nilai intrinsik. Hal ini bisa melahirkan sikap eksploitatif, di mana kerusakan lingkungan dianggap tidak terkait langsung dengan ketaatan kepada Tuhan.

Dekonstruksi ini tidak bermaksud menafikan dimensi transendensi, tetapi ingin mengembalikan keseimbangan, Tuhan tetap Maha Tinggi, namun juga Maha Dekat (aqrab min habl al-warid, QS. Qaf: 16). Kedekatan ini bukan hanya dalam ruang batin manusia, tetapi juga dalam kehadiran-Nya di seluruh ekosistem.

Kehadiran Nabi bukan saat kita membaca shalawat dan hadir di Madinah, pun Tuhan bukan saat kita ibdah haji dan umroh berkali-kali, tetapi manifestasi kehadiran tampak nyata dari aktivitas manusia dalam keseharian. Apakah wajar, jika tetangga kita mau hutang dan masih miskin, sementara kita berkali-kali ke Mekkah dan Madinah?

Dalam konteks Madura, konsep teologi bumi memiliki bentuk yang khas. Masyarakat Madura tradisional memandang tanah bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai warisan leluhur yang mengandung nilai sakral. Air sumur dan udara laut diperlakukan dengan penghormatan karena diyakini sebagai sumber kehidupan yang diberkahi, itu dulu, akan tetapi sekarang sudah mengalami perubahan.

Hari ini sumber kehidupan adalah uang, mobil bahkan sosok orang yang ber-uang dan ber-mobil akan sangat terhomat di mata masyarakat.

Seharusnya ritual-ritual agraris dan maritim sering kali mengandung doa-doa yang memohon restu Tuhan sekaligus mengakui keberadaan-Nya dalam unsur-unsur alam. Ini menunjukkan bahwa pemahaman Tuhan yang hadir di tanah, air, dan udara bukanlah gagasan baru, melainkan warisan kosmologi lokal yang dapat diperkaya dengan perspektif teologi Islam.

Dekonstruksi teologi Islam dalam arah ini bukanlah pembaruan radikal yang bertentangan dengan Al-Qur’an, melainkan pembacaan ulang yang menegaskan integrasi iman dan ekologi. Menemukan Tuhan di tanah, air, dan udara berarti mengakui bahwa iman bukan hanya urusan hati atau langit, tetapi juga tanah tempat kita berpijak, air yang kita teguk, dan udara yang kita hirup.

Dengan demikian, setiap langkah di bumi, setiap tetes air yang kita hemat, dan setiap udara bersih yang kita jaga, menjadi bentuk dzikir yang menghubungkan kita langsung dengan Sang Pencipta. Inilah bentuk teologi yang relevan untuk menghadapi krisis ekologis global, termasuk krisis ekologi yang terjadi di Madura, teologi yang tidak hanya menatap ke atas, tetapi juga menunduk, menyelam, dan menghirup—menemukan Tuhan di mana pun kehidupan berdenyut.

*Matroni Muserang, Dosen Universitas PGRI Sumenep (UPI Sumenep)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Harga Bahan Pangan Naik, Wiwin Sumrambah Sebut Faktor Global hingga Cuaca Ekstrem

JOMBANG – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan di Jawa Timur menjadi sorotan DPRD Jawa Timur.Anggota Fraksi PDI ...
KRONIK

Deni Wicaksono Minta Kader PDIP Aktif di Medsos, Pertarungan Politik Terjadi di Dunia Maya

PONOROGO – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, meminta seluruh kader Partai untuk aktif ...
KRONIK

Deni: PDI Perjuangan Memberi Anak Muda Ruang dan Tanggung Jawab Berjuang Bersama

PONOROGO – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, mengingatkan kader PDI Perjuangan untuk tidak ...
KABAR CABANG

PDI Perjuangan Ponorogo Perkuat Kaderisasi dan Regenerasi Kepemimpinan

PONOROGO – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Ponorogo menggelar Musyawarah Anak Cabang ...
HEADLINE

Kecerdasan AI Jadi Bahasan Penting DPD saat Lantik PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Jombang

JOMBANG – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu perhatian ...
KRONIK

Sadarestuwati Sebut PDIP Penyeimbang Tunggal, Soroti Rupiah Rp18.000 dan Ancaman Impor Pangan

JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI sekaligus Ketua Bidang Pertanian dan Pangan DPP PDI Perjuangan, Hj. ...