oleh

Memikirkan Ulang Manhaj al-Fikr Kaum Nahdliyin

-Ruang Merah-149 kali dibaca

Oleh Matroni Musèrang*

Saya membaca buku yang ditulis oleh aktivis dan sekaligus teman saya, Moh. Roychan Fajar. Judulnya cukup memukau bagi sebagian kaum Nahdliyin, “Menuju Aswaja-Materialis: Aswaja, Sains Marxisme, dan Post-Moderatisme Islam” (2021). Judul yang masih terasa baru dan asing di kalangan Nahdliyin.  Sebab, di kalangan sebagian santri Marxis masih dianggap tabu. Bahkan, ketika membacanya, kita langsung teringat dengan justifikasi murtad. Kita pun lupa bahwa itu bagian dari ilmu, dan kaum Nahdliyin tahu bahwa mencari itu wajib. Tapi wajib di sini hanya wajib untuk ilmu agama, dan agama di sini dipahami secara an sich. Ilmu agama yang wajib dipelajari, adalah agama Islam. Jadi, agama yang lain tak wajib dipelajari, apalagi agama Marxis.

Hal itu dapat dikatakan sebagai “kematian berpikir” dan “kemantian ilmu.” Padahal dalam perkembangan pemikiran, Islam jauh lebih progress dan tranformatif. Artinya, kehadiran Aswaja sebenarnya bukan hanya untuk menjawab problem keagamaan dan organisasi. Akan tetapi juga untuk menjawab problem kemanusiaan, khususnya problem ekonomi yang kini menghimpit kaum Nahdliyin di kampung-kampung.

Himpitan itu lahir dari neo-kapitalisme yang “diamini” sendiri oleh kaum Nahdliyin. Sampai sekarang, kajian-kajian Aswaja masih berkutat di ranah seminar, forum-forum ilmiah, simposium atau di meja-meja diskusi (halaman. 42), tanpa ada upaya untuk memikirkan hasilnya terhadap kepentingan kemanusiaan. Akhirnya, keber-Aswajaan kita hari ini hanya menjadi dogma yang egoistis-elitis. Tanpa implementasi nyata. Sehingga wajar saja, jika kaum Nahdliyin hanya berkutat di penguatan ranting, penguatan organisasi. Tanpa ada upaya penguatan ekonomi kerakyatan. Seharusnya, penguatan organisasi dan penguatan keagamaan, menjadi “dhamir” yang kembali pada penguatan ekonomi, untuk selanjutnya akan mengganggu proses berjalannya ekonomi kapitalis kaum elitis.

Kehadiran buku “Menuju Aswaja-Materialis: Aswaja, Sains Marxisme, dan Post-Moderatisme Islam” dapat merangsang kaum Nahdliyin yang akrab dengan Aswaja. Namun Aswaja kita masih mandul. Ia hanya teks tanpa mampu masuk di ruang konteks kemanusiaan Nahdliyin. Sehingga orang-orang yang terdoktrin itu akan beranggapan bahwa Aswaja “berhala” yang dipuja-puja. Tanpa ada upaya untuk membaca kembali pesan-pesan atau progresivitas Aswaja itu dicipta. Secara tidak langsung, diam-diam berhasil menutup problem internal yang tanpa sadar kini telah membuat argumentasi ideologis kaum Nahdliyin menjadi tumpukan wacana tanpa makna yang tak pernah menampakkan eksistensinya secara progress dan kontekstual (halaman.42). Sekali lagi, Aswaja hanya menjadi rongsokan-rongsokan wacana yang membatu.

Akhirnya, tanpa disadari kaum Nahdliyin yang elitis itu berpartisipasi bahkan mendukung arus neoliberal-kapitalisme yang sebenarnya telah lama merusak tatanan ekonomi dan problem kerakyatan. Kalau ini terus terjadi, kaum Nahdliyin elitis tidak mau berbagi dengan rakyat, tidak mau berbagi dengan kepentingan rakyat, maka kaum elitis itu akan terus menjadi elit yang kebal kritik, yang kebal nasehat. Sebab, tumpukan kepentingan sudah menutup akal dan hatinya. Tumpukan-tumpukan kepentingan inilah yang sampai detik ini masih menjadi niat kaum elitis untuk menumpuk kekayaan dirinya sebagai bekal kepentingan berikutnya.

Kritik pun dianggap pengantin baru. Kritik dianggap baru dewasa yang kemudian hilang tanpa arti. Orang-orang kritis pun dianggap upnormal, dan orang upnormal dianggap gila, maka orang gila harus disingkirkan. Yang ada hanyalah kaum tekstual. Adanya Aswaja ketika tertulis, tanpa harus dikontekstualisasikan. Artinya Aswaja bukan bagian dari jawaban problem kemanusiaan, Aswaja hanya gading yang retak tanpa sumbangsih kemanusiaan.

Karena itu, sudah saatnya kaum Nahdliyin mengkontekstualisasikan Aswaja untuk mencari solusi kerakyatan, terutama ekonomi rakyat yang kini dihimpit oleh kapitalisme: tanah-tanah dibeli dengan harga sangat mahal. Wong cilik diberi harga mahal tentu sangat terkejut dan mau, padahal seharusnya rakyat diberi informasi dan pengetahuan, sebagaimana semangat Aswaja untuk kepentingan masyarakat. Bukan malah mendukung percaturan kapital.

Maka kaum Nahdilyin harus menempatkan Aswaja sebagai sebuah ilmu. Bukan berhala yang suci dari kritik. Bukan sesuatu yang absolut, yang kebal dari percaturan pemikiran. Karenya, penting kemudian kaum Nahdliyin menempatkan Aswaja sebagai ilmu dan sebagai pemikiran yang mampu menjawab persoalan bangsa, terutama ekonomi rakyat. Aswaja harus dipahami sebagai sebuah diskursus, yaitu kajian yang perlu disegarkan kembali secara terus-menerus dalam pergerakan sosial, keagamaan, dan pemikiran, sehingga mampu memberikan solusi terhadap problem kemanusiaan.

Dengan kata lain, kita harus memikirkan ulang manhaj al-fikr kaum Nahdliyinyangmenjadi produk utama dari tradisi intelektual. Bukan hanya memikirkan ulang. Akan tetapi, sudah seharusnya, dan sudah saatnya kita mampu berpikir secara bersama-sama untuk memikirkan kapitalisme yang kini terus merongrong penguasa dan kaum elit kita. Manhaj al-Fikryang terkubur, bahkan dikuburkan oleh tanah-tanah kepentingan, menurut Roychan karena model pemahaman kaum Nahdliyin mengabsenkan perspektif materialis dalam kritik.

Kurangnya daya Manhaj al-Fikr kaum Nahdliyin, tidak mau ikut arus dalam isu-isu ekonomi politik yang hari ini berlangsung melalui corong-corong dan logika-logika neoliberalisme yang selama ini menjaga eksistensi ekspansi kepitalisme global ke jantung tatanan kehidupan kaum nahdliyin. Anehnya, itu tidak disadari sebagai sebuah penjajahan, justru kaum elit mengamini adanya. Tanpa ada kritik yang bernas.

Dengan melihat tanpa kritik, tanpa kontekstualisasi, maka Aswaja akan menjadi bisu dalam berbagai persoalan material kerakyatan, yang lambat-laun semakin krusial dan semakin menyesakkan dada rakyat-rakyat kecil. Semoga Manhaj al-Fikryang menjadi kekayaan intelektual kaum Nahdliyin tetap terjaga dalam menjawab persoalan ekonomi rakyat.

*Penulis adalah Pengurus Majelis Wakil Cabang Nadhlatul Ulama Gapura dan Dosen Filsafat di Kampus STKIP PGRI Sumenep.

Komentar