oleh

Makin Cinta Indonesia dan PDI Perjuangan

 

pdip-jatim-petugas-monitoring-pilkada-2GAWE besar PDI Perjuangan gotong royong mengenal Indonesia dimulai. Sejak 19 April lalu sebanyak 300an kader telah diberangkatkan ke beberapa daerah yang akan menjalani Pilkada 2017.

“Kita membaginya menjadi dua gelombang. Yang pertama berangkat 19-25 April 2016 sebanyak 26 orang. Sisanya sekitar 200-an di gelombang dua berangkat 27 April hingga 2 Mei 2016. Setiap kader bertukar daerah. Tidak ada yang bertugas di provinsinya sendiri,” kata fungsionaris BP Pemilu DPP PDI Perjuangan, Restu Hapsari yang menjadi koordinator program monitoring Pilkada 2017.

Beragam kisah pun bermunculan dari pengalaman para petugas partai yang dikirim untuk terjun langsung ke lapangan itu. Sang Agus misalnya, Wakabid Pemuda Olah Raga DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan ini mendapat penempatan tugas di Kabupaten Barito Selatan.

Dia bercerita tentang sulitnya sarana transportasi untuk menuju daerah satu ke daerah lain. “Saya naik speed boat hampir tiga jam untuk menuju PAC di kecamatan Rantau Kujang. Kalau pakai kapal klotok bisa empat jam lebih. Terbayang betapa berat perjuangan kawan-kawan di daerah seperti ini untuk konsolidasi ya. Mau rapat partai saja pasti susah,” kata Agus.

Hal yang sama diungkapkan Didik Nurhadi, fungsionaris BP Pemilu DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini mendapat tugas monitoring pilkada di Provinsi Papua Barat. Menurut cerita Didik, di Papua Barat antara kabupaten satu dengan kabupaten lainnya tidak hanya letaknya yang berjauhan, tapi medan jalan yang harus ditempuh cukup berat.

Misalnya dari Sorong ke Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat, jarak tempuhnya empat belas jam perjalanan darat. “Jangan kira jalannya seperti di Jawa yang diaspal halus. Tapi masih ada jalan makadam berbatu dan tanah yang bisa bikin perut terkocok,” tutur Didik.

Maka untuk efisiensi waktu, lanjut dia, harus naik pesawat meski sedikit mahal. Harga tiket pesawat sekitar enam ratus ribu rupiah untuk jarak antar kabupaten saja.

Begitu juga dari Manokwari ke Manokwari Selatan atau pegunungan Arfak. Jika ditempuh dengan jalan darat tidak bisa menggunakan mobil jenis biasa, harus mobil khusus yang pakai dua gardan. Sewanya sekitar Rp 1,5 juta, belum termasuk ongkos sopir dan bensin.

“Bagi ukuran kader yang berasal dari Jawa seperti saya, menghitung biaya operasional pergerakan partai di Papua ini saja sudah geleng-geleng kepala saya. Berat nian. Salut untuk kawan-kawan seperjuangan di sini. Mereka sungguh kader sejati,” ujarnya.

Minimnya sarana prasarana kantor partai juga banyak disaksikan para kader yang bertugas di pulau-pulau kecil. Seperti Yoyok Narwoyo dari DPC Ngawi yang bertugas di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

“Kondisi kantor partai sungguh memprihatinkan. Sudah lama tidak direnonasi. Rasanya air mata ini tak terbendung. Perasaan hati jadi terharu melihat ada lambang PDI Perjuangan di daerah terpencil seperti ini,” tutur Yoyok.

Lain lagi pengalaman petugas asal PDI Perjuangan Kabupaten Banyuwangi, Erik Trisdiantana dan Hariyanto dari DPC Jember saat bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Erik mengisahkan, saat itu dia sedang perjalanan menuju rumah PAC di Kecamatan Tungkal Jaya. Jarak kecamatan ini cukup jauh dari pusat kabupaten, Kecamatan Sekayu. Dibutuhkan kurang lebih enam jam perjalanan. Medan menuju lokasi sangat berat. Melewati perkebunan Sawit yang panjang dan jalannya rusak parah.

Kondisi saat itu cuaca sedang hujan, sehingga jalanan menjadi becek dan berlumpur. Tiba-tiba ban mobil pecah.

“Pecahnya bukan satu, tapi dua. Ban depan dan belakang. Lampu jalan dari PLN sedang mati. Signal ponsel tidak ada. Lengkap sudah penderitaan kami,” kenang Erik, sambil tersenyum.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul satu dini hari. “Karena kami hanya membawa satu ban serep, akhirnya teman saya harus berjalan kaki di tengah hujan deras sepanjang 1 kilo meter untuk mencari sinyal dan minta bantuan ban serep tambahan ke kader terdekat. Pukul empat pagi baru kami bisa melanjutkan perjalan,” lanjut dia.

Beratnya perjuangan menjangkau mesin partai itu terobati ketika Erik dan timnya bertemu dengan Pengurus PDI Perjuangan di tingkat kecamatan dan ranting.

“Mesin partai kita sangat siap. Saya saat ke sana sedang ada musyawarah ranting. Mereka siap tempur untuk Pilkada 2017 di Musi Banyuasin. Meskipun kondisi geografis menyulitkan koordinasi, tapi tak menyurutkan semangat kader banteng untuk melakukan konsolidasi,” ujar sekretaris BP Pemilu DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banyuwangi ini.

Dia mencontohkan, letak geografis paling jauh adalah kecamatan Lalan. Kalau dari pusat kota harus lewat Palembang, atau kalau mau lebih dekat lewat jalur sungai bisa menggunakan speedboat dengan sewa 1,5 juta. “Ongkos konsolidasi jadi sangat mahal kalau di luar Jawa begini,” kata dia lagi.

Pengalaman ini bagi Erik sangat berharga dan membuat dia bisa melihat Indonesia secara lebih luas dan dekat.

“Sekarang kecintaan saya pada Indonesia dan PDI Perjuangan semakin bertambah. Semangat para kader di bawah sungguh luar biasa. Partai ini punya kader militan. Saya bisa membayangkan beratnya Bung Karno dan kawan-kawan dulu berjuang mengelilingi Indonesia. Saya juga jadi bisa memahami mengapa Bu Mega sering berkaca-kaca matanya saat mengatakan ‘Indonesia Raya’,” pungkasnya. (sa)