oleh

Makam Ki Ageng Pengging, Ayahanda Joko Tingkir, Resmi Dirawat Pemkot Surabaya

-Milangkori-200 kali dibaca

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi mengambil alih kompleks pemakaman Ki Ageng Pengging, ayahanda Joko Tingkir, mulai dari tanah dan bangunannya di Jalan Ngagel No. 87, Surabaya. Lahan dan bangunan tersebut resmi dihibahkan untuk dilakukan pemeliharaan dengan baik.

Prosesi penyerahan yang dilakukan di kompleks pemakaman ditandai dengan penandatanganan hibah dan juga penandatanganan prasasti yang dilakukan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama perwakilan keluarga Ki Ageng Pengging, Raden Erwin P. Sosrokusumo, Jumat pekan lalu.

Eri menyampaikan terima kasih kepada Raden Erwin, yang telah menghibahkan kompleks pemakaman ini kepada Pemkot Surabaya. Setelah ini diserahkan kepada Pemkot, pihaknya akan melakukan perbaikan-perbaikan di kompleks pemakaman yang memiliki luas sekitar 20×20 meter tersebut

“Apalagi beliau (Ki Ageng Pengging) ini adalah salah satu pendiri Kota Surabaya. Tanpa kehadiran beliau, tanpa perjuangan beliau, tidak mungkin Surabaya ini bisa terbentuk. Jadi, sudah seharusnya ini mendapatkan perhatian dari Pemkot Surabaya,” kata Eri Cahyadi di Surabaya, kemarin.

Eri menuturkan, tidak hanya pemakaman Ki Ageng Pengging yang mendapatkan perhatian Pemkot Surabaya.

Namun, beberapa makam para ulama dan para leluhur di Surabaya bakal menjadi perhatian Pemkot, sehingga beberapa pemakaman itu banyak yang diperbaiki, termasuk pemakaman Mbah Benowo dan lainnya.

“Itu saya lakukan karena Surabaya ini menjadi hebat, Surabaya ini menjadi makmur karena berkat doanya para alim dan ulama, serta para wali yang ada di Surabaya. Yang mana beliau-beliau itu adalah orang-orang yang memang mempunyai hati yang bersih dan terus mendoakan warga Kota Surabaya,” jelasnya.

Meski komplek pemakaman Ki Ageng Pengging sekarang tampak bagus dan rapi, dia minta jajarannya untuk terus memperbaiki dan merawat kompleks pemakaman itu. Salah satunya dengan cara melengkapi pemakaman itu dengan silsilah yang langsung nyambung hingga ke Nabi Muhammad SAW.

Bahkan, ia meminta pagar yang ada di sisi Barat pesarean tersebut, dipikirkan supaya tetap mencerminkan bahwa itu masih ada trah keturunan Majapahit.

“Karena bagaimana pun juga, ini tidak bisa lepas dari sejarah. Kita harus ingat itu dan tidak boleh melupakan itu, sehingga perjuangan beliau-beliau ini menambah tekad kita untuk terus memberikan yang terbaik untuk warga Kota Surabaya,” jelasnya.

Wali kota yang juga kader PDI Perjuangan ini menambahkan, pemakaman leluhur di Kota Pahlawan juga bisa dijadikan sebagai pusat pembelajaran sejarah terutama kepada anak-anak Surabaya.

“Supaya kaum milenial tahu perjuangan para leluhurnya, perjuangan para wali untuk mensejahterakan umatnya, sehingga diharapkan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari perjuangan tersebut,” ungkap Eri Cahyadi.

Sementara itu, perwakilan dari keturunan Ki Ageng Pengging, Raden Erwin P. Sosrokusumo, mengaku memang sudah lama merawat kompleks pemakaman tersebut, sejak Bapaknya hingga diturunkan kepada dirinya.

Namun, kini ia mengaku tidak punya anak laki-laki untuk menjadi penerusnya merawat kompleks pemakaman tersebut. Sebab, Bapaknya dulu menyerahkan itu kepada anak laki-lakinya. Bagi dia, kalau anak perempuan tidak mungkin, karena pasti ikut suaminya.

“Sedangkan saya sekarang sudah umur 67 tahun, sebentar lagi mungkin sudah tidak ada. Makanya, sebelum saya tidak ada, saya akan tata semua ini menjadi sesuatu yang baik untuk masyarakat dan baik untuk negara,” kata Raden Erwin.

Oleh karena itu, ia mengaku sudah ikhlas tanah dan bangunan yang ada di kompleks pemakaman Ki Ageng Pengging ini diserahkan kepada Pemkot Surabaya, supaya ke depannya perawatan pemakaman itu bisa lebih baik. Apalagi, bangunan ini sudah menjadi cagar budaya, sehingga ini dianggapnya adalah langkah yang sudah tepat. (goek)