MALANG – Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarok, mendesak Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang ikut bertanggung jawab atas krisis air irigasi yang dikeluhkan petani di Kecamatan Tumpang. Ia mendorong penyediaan infrastruktur penampung air, baik melalui pembangunan embung maupun sumur artetis, agar pasokan air untuk persawahan tetap terjaga.
Zulham menyampaikan desakan tersebut setelah turun langsung mengadvokasi petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) saat inspeksi mendadak ke sumber mata air Sumberpitu, Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, persoalan berkurangnya pasokan air dari Sumberpitu berdampak langsung terhadap kebutuhan irigasi pertanian. Petani khawatir mengalami kekeringan hingga terancam gagal panen karena aliran air yang selama ini dimanfaatkan untuk mengairi sawah tidak lagi mencukupi.
Zulham menuturkan, dirinya telah mengikuti persoalan Sumberpitu sejak sebelum menjadi anggota dewan. Karena itu, ia memahami keluhan petani yang menginginkan ketersediaan air untuk pertanian tetap terjamin.
“Saya paham betul soal Sumberpitu itu karena sebelum jadi anggota dewan, saya yang jadi advokatnya petani,” ungkap Zulham, Jumat (9/10/2026).
Ia menyoroti perubahan kondisi sumber mata air tersebut. Menurut data yang disampaikannya, debit air yang pada 2015 tercatat mencapai 1.600 meter kubik per detik kini mengalami penyusutan drastis.
Zulham menduga penampungan air oleh Perumda Tugu Tirta di sekitar sumber turut memengaruhi aliran air menuju saluran irigasi warga. Dampaknya, dua embung yang sebelumnya mendukung kebutuhan pertanian disebut telah mengering dan tidak berfungsi selama bertahun-tahun.

Atas kondisi tersebut, ia meminta adanya penanganan konkret yang tidak hanya berfokus pada pemanfaatan air untuk kebutuhan layanan air minum, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan pertanian masyarakat di sekitar sumber.
Zulham menilai penyediaan infrastruktur penampung air menjadi salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan untuk menjamin kebutuhan irigasi petani. Ia mendorong Perumda Tugu Tirta membangun embung sebagai tempat penyimpanan air yang dapat mendukung pasokan bagi lahan pertanian terdampak.
Jika pembangunan embung tidak memungkinkan, ia mengusulkan penyediaan sumur artetis untuk membantu memenuhi kebutuhan air, terutama saat musim kemarau.
Menurutnya, penyelesaian persoalan Sumberpitu membutuhkan komitmen pihak-pihak terkait agar kebutuhan layanan air minum dan keberlangsungan pertanian dapat ditangani secara proporsional.
“Jika kedua solusi itu tak mau dijalankan, ya kami siap diajak petani melakukan langkah apa saja, asal sawah mereka tidak kekeringan,” tegasnya.
Zulham menekankan, aspirasi petani harus mendapat tindak lanjut melalui dialog dan penyusunan solusi yang jelas. Ia berharap persoalan distribusi air di Sumberpitu tidak terus berlarut-larut hingga mengancam produktivitas pertanian dan penghidupan warga Tumpang.
Bagi Zulham, ketersediaan air irigasi merupakan kebutuhan mendasar bagi petani. Karena itu, penanganan krisis air di kawasan tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar pemanfaatan sumber mata air tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan pertanian. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













